
Selang beberapa hari dari acara mohon-memohon yang penuh dramatis, Andre pun sudah berpindah rumah. Ia tinggal di sebelah rumah Irma atas permintaan Dimas— yang meminta Andre untuk menjaga mertua dan kakak iparnya.
"Terima kasih, Tan! Tanpamu aku gak akan bisa sampai di sini," gumam Andre, mengingat besarnya jasa Ana yang telah membujuk Dimas untuk meminta Andre menjaga Irma.
"Kau tak tahu saja Dim, itu semua adalah rencanaku dan mamahmu!" Sudut bibir atasnya sedikit terangkat.
Karena tanpa sepengetahuan Dimas dan Naura, perpindahan Andre ke samping rumah Ranti sudah dipikirkan matang-matang oleh Andre dan Ana untuk menjalankan aksi PDKT-nya, sedangkan Dimas hanyalah perantara.
Tidak ada hari yang Andre lewatkan untuk bertemu dengan sang pujaan hati. Apalagi dengan tugas yang diembannya dari Dimas, menjadi senjata lelaki itu untuk selalu menemui Irma dan selalu saja ide brilian yang didapatnya untuk bertemu Irma.
"Permisi, Mbak! Boleh minta air panas, gak? Gas di rumahku habis." Pernah ia berpura-pura meminta air panas sambil membawa gelas berisi kopi, hanya untuk bisa menemui Irma.
"Mbak, boleh minta plester dan obat merah, gak?" Bahkan, ia sampai rela melukai dirinya sendiri demi mendapatkan perhatian sang pujaan hati.
Sebuah perjuagan tidak akan pernah mengkhianati hasil. Kata penyemangat itu yang selalu ditumbuhkan dalam diri Andre. Hingga akhirnya, gayung pun bersambut. Irma yang selalu saja bersikap acuh tak acuh dan seperlunya saja, sedikit demi sedikit mulai menerima kehadiran Andre. Wanita itu tersentuh akan sikap Andre yang selalu menjadi pahlawan baginya dan Ranti, bahkan Andre yang selalu pasang badan ketika sepasang suami istri penghancur hidupnya datang ke rumah.
"Terima kasih selalu ada untuk kami," ujar Irma saat Andre berhasil mengusir Ryan beserta istrinya untuk ke sekian kalinya.
__ADS_1
"Tidak masalah. Itu sudah kewajibanku sebagai tetangga sekaligus penjaga hatimu." Andre menarik sudut-sudut bibirnya, membentuk lengkungan senyum yang tanpa disadari telah memancarkan sinyal aneh di hati Irma.
"Menggombalmu salah tempat, Mas. Aku sudah pernah bilang, gombalan buayamu gak mempan untukku," timpal Irma, meskipun sebenarnya ia senang saat Andre menyebut Andre penjaga hati wanita itu.
"Ini sudah pada tempatnya karena cuma kamu yang aku gombali. Kalau ke sembarang orang baru salah tempat." Andre menimpali.
Bukan Andre namanya jika harinya terlewat tanpa memberikan kata-kata gombal untuk Irma. Semenjak Irma mulai menerima kehadirannya, Andre semakin giat mendekati wanita itu. Berharap bukan hanya sekedar pertemanan yang terjalin, seperti permintaan Irma, melainkan sebuah hubungan lebih yang melibatkan hati mereka.
"Mbak, apa tak pernah terlintas untuk membuka hatimu kembali untuk yang lain?" tanya Andre suatu ketika saat mereka sedang menikmati malam mereka sembari menikmati jagung bakar di taman kota.
"Entahlah," jawab Irma, dengan mulut yang meniup-niup jagung yang masih panas, tanpa melihat ke arah Andre.
"Bagaimana jika ada seseorang yang ingin mengenalmu lebih jauh?"
"Itu hak dia." Irma menimpali sambil menikmati jagung bakar yang sudah tidak terlalu panas.
"Kalau aku ingin lebih dari sekedar dari teman bagaimana?" tanya Andre kembali, dengan mata yang tak pernah berhenti menatap wanita yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Seketika, Irma menghentikan giginya yang sedang menggigit jagung. Menurunkan jagung yang masih dipegang. Matanya menatap sekilas Andre yang masih menatapnya, lalu mengalihkan pandangan ke tempat anak-anak bermain dengan bahagia.
"Bukankah kita sudah pernah membahas hal itu?" ujar Irma.
"Kita sudah semakin sering bersama. Apa memang tak pernah ada rasa sedikit pun dihatimu untukku?" Andre meraih tangan yang masih memegang jagung bakar sembari memutar-mutarnya tak jelas, terlihat kegundahan di hati si pemilik tangan itu. "Mbak, aku tak main-main dengan kata-kataku waktu itu. Aku benar-benar mencintaimu. Aku ingin kita memiliki ikatan lebih dari seorang teman." Melihat Irma yang selalu merespon perhatiannya, membuat Andre memberanikan diri mengutarakan isi hatinya meskipun pernah ditolak.
"Tapi, Mas ...." Irma menarik tangannya dari genggaman Andre, tetapi tak berhasil.
"Tapi apa lagi? Apa aku sudah salah mengartikan perubahan sikapmu akhir-akhir ini? Aku mengira kamu sudah mulai membuka hatimu untukku." Andre memotong ucapan Irma.
Entah jawaban apa yang harus diberikan Irma kepada lelaki di hadapannya. Di relung hatinya terdalam, ia tak dapat memungkiri jika dirinya sudah mulai memiliki rasa untuk Andre. Bukan tidak percaya dengan kata-kata cinta yang selalu terlontar dari mulut lelaki berrahang tegas itu, tetapi ada suatu hal yang membuatnya selalu menarik-ulur perasaannya sendiri.
"Sudah malam, kita pulang, yuk! Mamah pasti sudah menunggu kita," ujar Irma. Ia beranjak dari tempat duduk sembari menarik tangan yang masih menggenggamnya, tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan lelaki itu.
"Aku sudah izin kepada Tante Ranti. Ia tidak akan mengkhawatirkan kita." Andre menarik kembali tangan itu, supaya si pemilik tubuh duduk kembali. "Jawab dulu pertanyaanku, baru kita pulang," lanjutnya.
Sejenak Irma terdiam, lalu berkata, "Berikan aku waktu untuk memikirkannya. Aku tak bisa menjawabnya sekarang."
__ADS_1
Andre membuang napas kasar. Jawaban yang didapat selalu saja tak memuaskan, padahal ia sudah sangat percaya diri kalau wanita itu juga memiliki perasaan yang sama. "Baiklah aku akan menunggumu. Sampai kau sendiri yang bilang kalau kau mau menjadi istriku," ucap Andre, "baiklah, ayo kita pulang!" Giliran Andre yang menarik tangan Irma, meninggalkan tempat itu dengan senyum yang masih coba ia tampilkan.
'Aku pasti akan mendapatkan hatimu.' Hatinya penuh keyakinan.