
Sepeda motor yang dikendarai Irma sudah membelah jalanan pagi yang telah ramai oleh para pengendara, terutama para karyawan yang akan masuk kerja. Bahkan, dibeberapa ruas jalan ia terjebak kemacetan karena ratusan karyawan yang keluar masuk pabrik.
"Malesnya berangkat jam segini, pasti kejebak para karyawan." Irma menggerutu.
"Jangan lewat Persimpangan X, di sana ada yang tugas." Tiba-tiba Irma mendengar seorang pengendara berseru kepada pengendara lain yang berpapasan dengannya. Terlihat lawan bicaranya mengacungkan jempol sembari berterima kasih.
Irma yang masih terjebak kemacetan, tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan pengendara tadi yang terus memberitahu teman-temannya yang baru keluar pabrik. Hingga, wanita itu menarik sudut-sudut bibirnya saat terlintas sebuah pemikiran di luar nalarnya.
Setelah kemacetan terurai, Irma segera melanjutkan perjalanannya. Ia tak sabar untuk segera menyelesaikan pekerjaannya, berbelanja keperluan toko, lalu menjalankan ide yang terlintas di kepala. Meskipun terbilang aneh dan bukan kepribadiannya, tetapi sikap tak acuh yang didapatkannya membuat wanita itu keluar dari batas wajar. Mungkinkah ini yang disebut falling in love? Akan tetapi Irma masih saja menyangkalnya, meski hati kecil mengiakan.
Setiba di pasar tradisional, dengan semangat '45 Irma langsung berbelanja semua keperluannya. Wanita itu lebih memilih pasar tradisional karena barang-barang yang dijajalkan di sana terbilang murah, selain itu berbelanja di sana juga membantu para pedagang kecil yang semakin hari opset mereka semakin menurun karena banyaknya swalayan dan mall-mall yang di bangun.
"Telur sudah, tepung sudah, gula sudah ...." Irma mengabsen semua bahan yang telah dibeli dan mencocokkan dengan catatannya. "Semua sudah dibeli." Senyum terukir saat melihat semua barang sudah terbeli.
Wanita itu pun langsung menata barang belanjaannya di motor dan satu peti telur ia letakkan di jok belakang, tak lupa Irma juga menyimpan sesuatu di dalam bagasi motor.
Setelah semua selesai, Irma kembali mengendarai motornya keluar dari area pasar. Kali ini, ia tak mengambil jalan yang biasanya ia lalui. Mungkin, bagi mereka yang tahu alamat rumah Irma, mereka akan mengira Irma tiba-tiba menjadi orang linglung. Seperti istilah, saat kita tinggal di Jakarta mau pergi ke Aceh, kita naik pesawat tujuan Papua dulu.
__ADS_1
Wanita itu terus mengendarai motornya melewati jalan yang jaraknya tiga kali lebih jauh dari jarak jalan yang bisa dilaluinya. Hingga, perjalanannya terhenti saat seseorang berseragam meminta Irma tuk menepi terlebih dahulu.
"Selamat pagi, Bu! Maaf, mengganggu perjalanan anda," sapa seorang polisi yang menghentikan laju motor Irma.
"Pagi, Pak!" jawab Irma sembari menaikkan kaca helm yang menutupi wajahnya.
'Irma!' Polisi yang tak lain adalah Andre tampak terkejut saat melihat siapa yang diberhentikannya. 'Dia mau ke mana lewat jalan sini?' pikirnya, keheranan.
"Ehm ...." Andre berdehem untuk menutupi keterkejutannya. "Maaf, mengganggu perjalan anda. Boleh tunjukkan surat kelengkapan berkendaranya terlebih dahulu?" lanjutnya, tanpa ekspresi.
'Ya, Tuhan. Senyum yang sangat aku rindukan!' Tidak dapat dipungkiri Andre begitu rindu dengan senyum Irma, bahkan apa pun yang berkaitan dengan janda satu itu, ia sangat merindukannya. 'Tahan, Dre. Tanggung udah setengah jalan!' Ia menasehati dirinya sendiri.
Sementara itu, Irma membuka tas selempangnya, mengambil dompet dan mencari surat-surat yang ditanyakan Andre, dengan sesekali melirik lelaki yang saat ini ada di hadapannya.
"SIM sama STNK-ku ke mana, ya? Perasaan tak pernah jauh dari dompet," Irma bergumam cukup keras, hingga Andre pun bisa dengan jelas mendengar ucapannya. Kedua barang itu tidak ada di dompetnya. "Masa ketinggalan, sih?" Ia tampak begitu kebingungan. "Sebentar, Pak, mungkin keselip di tas." Irma mengeluarkan barang-barang yang ada di tasnya, berharap STNK dan SIM tersimpan di tas.
'Bisa lama kalau kayak gini. Bagaimana ini? Mana mungkin aku tega,' gerutu Andre dalam hati. 'Ya, Tuhan. Jangan Kau persulit jalanku!'
__ADS_1
"Bagaimana, Bu? Bisa tunjukkan SIM dan STNK-nya?" tanya Andre kemudian.
"Maaf, Pak, tidak ada." Irma berujar dengan penuh sesal dan wajah yang ia sengaja dibuat sememelas mungkin.
'Wajah macam apaan itu?' Andre membuang kasar napasnya. Tak tega, tetapi harus jadi lelaki yang super tega.
"Ibu tahu letak kesalahan, Ibu?" tanya Andre, setelah bisa mengontrol dirinya.
"Maaf, Pak, saya lupa. Sepertinya tertinggal, tapi enggak tahu di mana. Sekali lagi maaf, Pak!" ucap Irma penuh sesal. "Gara-gara seminggu di cuekin teman, saya jadi pelupa kayak gini," lanjutnya sangat pelan, tetapi masih bisa didengar Andre dan memang sengaja agar terdengar lelaki itu.
"Kalau begitu dengan berat hati anda kami tilang."
'Apa dia tak mendengar ucapan terakhirku? Kenapa langsung ngomong tilang-tilang aja? Tak ada sedikit pun perhatiannya untukku, bahkan ia seolah-seolah tak mengenalku sama sekali.' Irma tak habis pikir dengan sikap yang diberikan Andre kepadanya. 'Ogah juga kalau harus ditilang."
"SIM dan STNK-nya ada di bagasi motor." Akhirnya, Irma menyerah, sepertinya Andre sampai ia mendapatkan surat tilang pun lelaki itu akan tetap seperti itu.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan Irma, Andre menarik sedikit ujung bibirnya saat mendengar jawaban Irma. 'Kau kalah lagi, Mbak Sayang! Cepatlah katakan cintamu dan aku akan mengakhiri permainan ini.'
__ADS_1