Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
103


__ADS_3

Setelah mengunci pintu mobil dan mengambil hoodie milik Naura, Dimas mengejar sang istri.


"Pakai ini dulu, hawa di sini dingin!" Dimas memberikan hoodie couple kepada wanita yang hanya memakai kaos lengan pendek miliknya.


"Udah gini aja. Enggak dingin, kok," tolak Naura.


"Bukan cuma karena dingin, tapi itu bekas gigitan tomket kelihatan," bisik Dimas, melihat bekas perbuatannya terpangpang nyata saat rambut Naura tersibak angin.


"Ah, kamu sih!" Naura mengambil pakaian dengan kupluk itu lalu memakainya.


"Kan biar kamu bangun, eh, malah keenakkan." Dimas berkilah sambil membantu sang istri. Sedikitnya, kupluk yang dikenakan ke kepala bisa menutupi bekas merah itu. "Sekarang kita mau ke mana dulu?" tanyanya, menggandeng tangan Naura.


"Ke situ!" Naura menunjuk sebuah lapangan luas di seberang jalan yang dipenuhi pengunjung dengan aneka permainan dan para penjaja dagangan dari makanan sampai pernak-pernik serta pakaian ada di sana.


"Katanya mo ke pantai?"


"Ke pantainya besok siang aja. Pasar malam besok siang kagak ada," ujar Naura sembari menarik tangan Dimas untuk menyeberang jalan.


Sepasang suami istri itu pun menikmati malam mereka dengan berjalan-jalan di pasar malam yang terlelak di kawasan pantai tersebut. Menikmati permen kapas berwarna-warni dari atas bianglala sembari menikmati keindahan malam di sekitar pantai. Tangis Naura pun terbayar lunas oleh senyum yang terus tertampil di wajah cuby-nya. Berkali-kali ia mengucap terima kasih kepada Dimas sembari menghadiahi suaminya itu ciuman di pipi.


"Cari permainan lagi, ya!" pinta Naura saat keduanya sudah turun dari benda memutar itu.


"Ok. Tapi, sekarang cari yang aman saja. Atau tidak sama sekali," jawab Dimas tidak bisa ditolak.


Ya, sebelum naik bianglala keduanya kembali berdebat karena Dimas takut terjadi sesuatu saat keduanya sedang berada di dalam benda tersebut.


"Iya. Kita maen game saja! Papol taklukkan semua game yang ada di sini dan berikan hadiah yang banyak untukku." Si istri berseringai lebar, lalu menarik Dimas menuju tempat permainan lain.


Keduanya pun larut dalam setiap permainan yang ada di sana dari mulai melempar botol, memukul kepala boneka, bermain bola basket dan bermain anak panah serta memancing ikan tidak luput dicoba mereka. Sesuai dengan keinginan sang istri, Dimas mendapatkan hadiah dari setiap permainan yang jajalnya. Alhasil, tangan Naura dan Dimas dipenuhi oleh hadiah-hadiah yang didapat.

__ADS_1


"Apa kamu senang?" tanya Dimas saat keduanya duduk di kursi panjang, melepas lelah setelah bermain berbagai macam permainan.


"Banget," jawab Naura dengan mulut yang sudah dipenuhi popcorn.


Dimas merangkul sang istri, matanya menatap ke arah anak-anak yang sedang bermain dan diawasi oleh orang tua masing-masing. Melihat tawa lepas mereka membuatnya sudah tak sabar ingin menjadi seorang ayah dan mengajak anaknya bermain juga. "Nanti kalau Debay udah besar kita ajak dia juga ke sini. Pasti dia sangat senang bisa dapat hadiah gratis sebanyak ini. Bermain lebih banyak permainan yang belum bisa kita jajal malam ini."


Naura menoleh ke arah sang suami, lalu mengangguk.


"Lihatlah mereka terlihat bahagia sekali," tunjuk Dimas dan Naura pun menatap ke mana arah sang suami memandang.


Senyum menghiasi wajah sepasang suami istri itu. Pemandangan di depan mata mereka benar-benar menyejukkan hati. Kemudian, Naura beranjak dari tempat duduknya, menghampiri anak-anak yang sedang bermain. Bila dilihat dari keakrabannya sepertinya mereka teman sepermainan.


"Malam Adik-adik, sedang main apa?" sapa Naura.


"Malam, Tante," jawab keenam anak yang terdiri dari empat anak perempuan dan dua anak laki-laki. Mereka sedang bermain gelembung-gelembung dengan benda yang di tangan mereka.


Keenam anak itu saling berpandangan, lalu menatap ke arah hadiah itu berada dan Naura bergantian. Tampak Dimas sedang tersenyum sambil melambai ke arah mereka. Namun sejurus kemudian mereka serempak menggeleng.


"Maaf, tapi kami dilarang menerima hadiah dari orang yang tidak kami kenal." Seorang dari mereka memberanikan diri angkat bicara.


Bukannya tersinggung, Naura malah tersenyum dan membenarkan ucapan anak-anak itu. Lantas ia meminta izin kepada orang tua anak-anak itu yang juga ada di sana. Setelah mendapatkan izin dari orang tua masing-masing, ke enam anak kecil itu dengan girang menerima hadiah yang diberikan Naura.


"Terima kasih, Tante!" ucap mereka bersamaan.


"Sama-sama."


Naura membagikan hadiah-hadiah yang didapat kepada anak-anak itu dan hanya menyisakan satu sebuah boneka besar yang didapat Dimas dari hasil memanah. Namun, boneka itu juga raib dari tangannya saat melihat seorang anak jalanan yang sedang berjalan melewatinya, menatap sendu ke arah pasar malam. Seperti ada yang diinginkan, tetapi tidak bisa tercapai.


Seorang anak dengan baju koyak serta mangkuk plastik di tangan, dituntun menjauh dari area pasar malam oleh wanita renta di sampingnya. Pembicaraan mereka yang sempat terdengar Naura, membuat ia terenyuh.

__ADS_1


"De, tunggu!" Naura menghentikan dan mendekati anak jalanan itu. "Ini untukmu!" Naura memberikan boneka besar itu.


Anak itu dengan antusias menerima pemberian Naura, tetapi ditolak oleh wanita tua di sampingnya. "Ini barang mahal, Neng! Tidak perlu, Neng," ucap wanita itu.


"Tidak, itu hanya hadiah. Aku dapatnya gratis," jawab Naura dengan seutas senyum tulus yang tertampil.


Meski tidak enak hati, tetapi melihat sang cucu yang tampak senang, membuat wanita itu menerimanya dan berterima kasih.


"Sudah malam, sebaiknya Nenek dan adek pulang. Tidak baik angin malam untuk Nenek nanti bisa masuk angin," lanjut Naura sembari menyimpan lima lembar uang bergambar sang proklamator ke mangkuk si nenek.


Wanita itu tampak tercengang dengan uang yang diberikan Naura. Menurutnya itu sangat banyak dan sempat menolak. Namun, Naura tetap memberikannya dengan dalih untuk membeli obat suami si nenek yang sudah menunggu di rumah, sesuai dengan yang didengar Naura beberapa detik lalu. Kebahagiaan terpancar di wajah dua orang di hadapan Naura, bahkan mereka tampak berkaca-kaca saat mengucap syukur. Tidak lupa, nenek itu mengucap beribu-ribu terima kasih dan mendoakan kebahagiaan bagi Naura, lalu pamit untuk pulang.


"Siapa mereka?" tanya Dimas yang beberapa menit lalu meninggalkan sang istri ke toilet.


"Hanya seorang nenek yang butuh sedikit pertolongan. Bonekanya juga aku kasih samam cucunya. Enggak apa-apa kan?" Naura mendongak, menatap wajah sang suami dengan senyum yang berseri.


"Tentu saja enggak apa-apa. Bonekanya punya kamu, mau diapakan juga terserah kamu saja," ujar Dimas seraya mengacak-acak rambut Naura. Lalu membenarkan kupluk yang sudah tidak bertengger di kepala sang istri. "Kupluknya jangan sampai lepas!"


Naura hanya tersenyum.


"Sekarang kita mau ke mana lagi?" tanya Dimas lagi.


"Makan lalu tidur," jawab Naura enteng.


"Sesuai perintah," ujar Dimas, lalu menggandeng tangan sang istri meninggalkan area pasar malam.


Mereka kembali ke mobil, lalu mencari tempat makan yang masih di sekitar pantai. Hingga, Naura meminta Dimas berhenti di sebuah restoran seafood. Baru melihat gambar dan daftar menu yang terpasang di depan restoran saja sudah membuat Naura menelan air liur.


"Kita duduk di sana!" ucap Naura menunjuk sebuah meja dengan senyum smirknya begitu masuk ke restoran.

__ADS_1


__ADS_2