
Irma membawa lelaki itu ke dalam toko, lalu menyuruhnya duduk di sebuah kursi yang tersedia di meja kasir. Kedua pelayan yang dipekerjakan Irma, tampak saling melirik, melihat bos mereka membawa lelaki yang tak mereka kenal dengan luka di beberapa bagian tubuh.
"Ada apa, Mbak?" Dewi, seorang pelayan menghampiri Irma.
"Aku tadi hampir tertabrak. Untungnya ada Tuan ini yang menolongku," ujar Irma, seolah-olah tak mengenal lelaki di hadapannya.
"Ya Allah. Tapi, Mbak gak kenapa-kenapa, kan?" Dewi begitu terkejut mendengar ucapan Irma. Ia mengkhawatirkan kindisi bosnya itu.
Sambil tersenyum, Irma menggeleng. Bertepatan dengan itu si lelaki tampak mendongak ke arah Irma yang sedang berbicara dengan Dewi, ia bisa melihat senyum menawan Irma yang tiba-tiba saja menggetarkan hatinya. 'Perasaan macam apa ini? Bukankah dari dulu kau sudah sering melihat senyum itu. Kenapa sekarang malah gak karuan kayak gini?' Lelaki itu memegang dadanya yang terasa ada ketidakberesan di dalamnya, bahkan terasa akan meledak.
"Apa Ara sudah ke sini?" tanya Irma kemudian, yang dijawab gelengan Dewi. "Dew, boleh minta tolong?" tanyanya lagi sembari memicingkan sebelah mata. Gadis pelayan itu pun mengangguk, mengiakan. "Tolong ambilkan kotak p3k, ya! Terus sekalian tolong obatin lukanya. Aku mau ke kamar mandi terlebih dahulu," ucap Irma, seraya menyimpan tasnya di atas meja kasir. Tanpa sedikit pun melirik lelaki itu yang tak lain adalah Ryan.
Dewi mengangguk, lalu mengambil kotak p3k sesuai perintah Irma. Irma sendiri lebih memilih pergi ke kamar mandi. Sementara itu, Ryan hanya bisa menatap Irma yang melenggang pergi.
"Memangnya kau mengharapkan apa? Dasar bodoh!" Senyum pahit tersungging di bibir Ryan.
Tak perlu menunggu lama, Dewi kembali membawa kotak p3k.
"Sini, Tuan, biar saya bersihkan lukanya." Dewi menawarkan diri untuk membantu membersihkan luka Ryan. Namun, dengan sekejap langsung ditolak Ryan. Lelaki itu lebih memilih membersihkan lukanya sendiri. "Ya, sudah kalau butuh bantuan, saya ada di sana." Dewi menunjuk etalase yang sedang ia berisi berbagai macam kue yang sedang ditatanya. Ryan hanya mengangguk dan Dewi yang merasa tak dibutuhkan bantuannya oleh Ryan memilih kembali ke pekerjaannya.
Cukup lama Irma berada di kamar mandi, berharap sewaktu keluar, Dewi sudah mengobati luka Ryan. Ia hanya tinggal berterima kasih, lalu menyuruh lelaki itu pulang. Akan tetapi, semua tak seperti yang diharapkannya. Ryan masih sibuk dengan membersihkan lukanya sendiri.
"Kenapa gak dibantu?" Irma menepuk Dewi yang masih sibuk membereskan kue.
__ADS_1
"Dianya enggak mau dibantu, padahal aku udah beberapa kali menghampirinya menawarkan bantuan," jelas Dewi yang memang sudah beberapa kali menawarkan jasa karena merasa kasihan melihat Ryan yang tampak kesusahan, tetapi tetap saja ditolak.
Irma membuang napas kasar sembari menepuk bahu Dewi berkali-kali, lalu menghampiri Ryan yang tampaknya memang sedang kesusahan. Irma langsung merebut kapas yang dipegang Ryan, membersihkan sikut lelaki itu yang menganga karena terbentur pada benda tajam. Ryan sendiri tak menolak saat Irma membersihkan setiap luka dan memerbannya. Tak ada yang terucap dari ke duanya, tetapi Ryan tampak menikmati detik-detik kebersamaannya dengan Irma. Matanya tak berhenti menatap wanita yang sangat telaten mengobati setiap luka.
'Sepertinya lelaki itu memang hanya ingin diobati oleh Mbak Irma. Siapa sebenarnya dia?' tanya Dewi, lebih ke dirinya sendiri.
"Apa ini tokomu? Kok, aku baru tahu?" tanya Ryan, disela-sela Irma mengobatinya. Akan tetapi, tak ada jawaban dari Irma. "Sejak waktu itu kau banyak berubah. Sekarang kau begitu mandiri, bahkan kau semakin cantik. Aku sampai pangling saat melihatmu di cafe," ujar Ryan lagi. Bukannya menjawab, Irma malah menekan keras perban yang sedang dililitkan ke sikut Ryan, membuat lelaki itu meringis kesakitan.
"Selesai," ucap Irma, begitu selesai mengobati semua luka Ryan. "Sekarang kita impas, aku tak akan merasa berhutang budi padamu. Sekali lagi, terima kasih sudah menolongku." Irma membereskan kembali alat p3k-nya, tanpa menghiraukan ucapan Ryan sebelumnya.
Ryan terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba memberanikan diri untuk mengutarakan sesuatu yang sudah mengganjal sejak beberapa hati itu. "Apa yang aku lakukan, masih tak sebanding dengan sakit yang telah aku berikan padamu." Ryan berujar dengan kepala yang sudah menunduk. Kini ia tak berani memandang wanita di hadapannya, tatkala mengingat perlakuannya di masa lalu.
"Bagus kalau nyadar," sela Irma. Jawaban itu spontan keluar dari mulut wanita yang dulu selalu ia sia-siakan cinta dan kebaikannya.
"Aku sudah memaafkanmu." Irma meremas ujung baju yang dipakainya. Ia bisa saja berbicara sudah memaafkannya, tetapi luka itu tetap saja masih membekas.
"Terima kasih. Apa mungkin ada kesempatan kedua untukku?" Ryan mendongak ke arah Irma yang dibuat terkejut oleh ucapannya.
"Jangan aneh-aneh! Sudah beruntung aku memaafkanmu, jangan meminta lebih." Kesal dan terkejut itulah yang dirasakan oleh Irma. Hingga, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
"Tapi—" Ryan ingin melanjutkan ucapannya, tetapi langsung dihentikan oleh tangan Irma yang memintanya untuk diam.
"Jika posisi kita dibalik. Aku yang telah menyakitimu dengan maha dahsyatnya, apa kamu mau kembali padaku? Setelah semua yang aku lakukan?" Sembari mengambil tas, Irma membalikkan pertanyaan itu kepada Ryan. Ia lantas pergi tanpa menunggu jawaban lelaki itu.
__ADS_1
Ryan hanya bisa membuang napas kasar. Ia sadar tak akan pernah ada kesempatan ke dua bagi lelaki macam dirinya.
"Dew, aku pergi dulu, ya! Kalau ada Ara bilang nanti aku kembali lagi setelah ini!" ujar Irma kepada Dewi dan dijawab anggukan Dewi.
Seolah-olah lupa dengan tragedi yang baru saja terjadi, senyum Irma kembali mengembang, saat melihat seseorang telah menunggunya di depan toko dengan seragam yang selalu membuat lelaki tampak sangat gagah. Irma langsung menghampiri Andre yang sudah menunggunya di atas motor. Senyum lelaki itu pun terukir, melihat Irma keluar dari toko dan langsung mencium tangannya.
"Benar-benar calon istri soleha." Andre memuji Irma, ketika wanita itu mencium tangannya dengan takjim.
"Calon istrinya udah soleha, calon imamnya udah soleh belum?" tanya Irma seraya memicingkan sebelah matanya.
"Soleh dong. Kurang soleh apanya coba? Pacaran pun hanya puas pegang tangan, paling mentok pelukkan itu pun nyuri-nyuri waktu. Apalagi sekarang ada satpam, pegang tangan juga harus puasa," sungut Andre yang memang belum pernah aneh-aneh kepada Irma.
"Kalau soleh, mana ada ngasih bunga sama pacarnya hasil maling. Maling dosa lho!" Irma menunjuk hidung Andre.
"Hah?!"
"Jangan pura-pura amnesia," ujar Irma dengan tangan yang dilipat di dada, mengingat kejadian tadi pagi seusai Andre pergi.
Tiba-tiba tawa Andre pun pecah, mengingat bunga yang diberikannya kepada Irma tadi pagi. Keduanya pun tampak terlibat perbincangan yang diselangi tawa dari mereka, bahkam Irma berkali-kali menghadiahi lelaki itu dengan cubitan di pinggang.
Sementara itu, dari balik pintu kaca tampak Ryan memperhatikan Irma yang terlihat begitu bahagia berada di dekat Andre.
'Jika ada kesempatan aku ingin kembali padamu, tapi sepertinya kesempatan itu sudah tak ada lagi. Kau terlihat begitu bahagia dengannya. Mungkinkah, ini ganjaran yang harus kutanggung karena telah menyia-nyiakanmu?'
__ADS_1