
31
Makanan yang sedang dimakan oleh Ryan, tiba-tiba tersangkut di tenggorokannya hingga menghasilkan rasa sesak dan tercekik tenggorokan, ketika mendengar pernyataan Friska. Namun, ada tempat yang jauh lebih sesak. Entah mengapa sesaat setelah mendengar ucapan Friska, ada yang terasa sakit dan sesak di dalam sana.
Dewi yang melihat calon suaminya tersedak pun langsung mengambil air minum. "Mas, hati-hati," ucap Dewi sambil memberikan minuman itu kepada Ryan, lalu memijat tengkuk Ryan.
Friska pun sebenarnya sudah mengambil air untuk Ryan saat lelaki itu tersedak, tetapi melihat Dewi mengambil air juga untuk Ryan, Friska memilih meminum minumannya sendiri. Ia hanya memperhatikan Ryan yang sedang kesakitan dari tempat duduknya dan langsung mengalihkan pandangannya begitu lelaki itu melihat ke arahnya.
"Terima kasih, Dew," ucap Ryan.
"Sama-sama," jawab Dewi, lalu kembali ke duduk.
"Maaf, telah mengganggu perbincangan kalian. Silakan dilanjut lagi," ucap Ryan lagi.
"Maaf, tapi sepertinya kebersamaan kita cukup sampai di sini. Tiba-tiba aku ada urusan mendadak. Mbak Dewi lain kali kita sambung lagi obrolannya." Friska yang baru saja mendapatkan pesan masuk langsung pamit pulang terlebih dulu.
"Kita juga sudah selesai. Kita pulang bersama saja, Fris?" Dewi menawarkan jasa. "Enggak apa-apa kan Mas, kalau Friska pulang bareng sama kita.?"
Ryan tidak menjawab. Setelah mendengar pengakuan Friska tadi, kepalanya tidak bisa berpikir jernih, bahkan isi kepalanya terasa hilang dari tempatnya, semuanya terasa kosong.
"Mas!" Dewi menepuk bahu Ryan, menyadarkann lelaki itu.
"Ya!" jawabnya setengah terkesiap.
"Friska pulang bareng kita, enggak apa-apa kan? Jalan ke rumahnya kan searah sama rumahku. Kamu sekalian anterin dia, ya!" pinta Dewi.
"Oh, boleh. Tentu saja. Aku juga sekalian mau ke rumah Andre ada hal yang harus dibicarakan." Ryan menyetujui ide Dewi.
__ADS_1
Namun, yang ingin diantar malah dengan cepat menolak. Friska menolak pulang bersama beralasan ada janji masih di sekitar cafe.
"Kalau gitu, kita antar sampai kamu bertemu dengan temanmu itu, bagaimana? Sekalian kenalkan sama kita," Dewi kembali memberi saran.
Akan tetapi, Friska kembali menolak dan beralasan sudah memesan taxi online. Hingga akhirnya, mereka pun berpisah di sana.
***
Friska berjalan menyusuri trotoar. Ia yang berkata telah memesan taxi online pada kenyataannya Friska tidak memesan apa pun. Bahkan, ia yang beralasan ada janji dengan teman pun sebenarnya hanya bohong belaka karena pesan yang diterimanya bukanlah dari Krisna melainkan dari operator kartu SIM yang digunakannya. Friska hanya mencari alasan untuk segera pergi dari hadapan mereka.
Entah sudah berapa jauh Friska berjalan. Ia tidak merasakan lelah sedikit pun, karena ada yang lebih lelah dari kakinya. Ia lelah berpura-pura baik-baik saja.
Jalanan sore semakin ramai oleh kendaraan yang berlalulalang, tempat pejalan kaki juga mulai ramai oleh mereka yang sedang jalan-jalan sore.
"Maaf, Kak. Saya tidak sengaja." Tiba-tiba Friska yang masih jalan kaki tertabrak anak-anak yang main kejar-kejaran.
Sejenak ia memperhatikan mereka yang sedang saling kejar sampai masuk ke area taman. Hingga tanpa sadar, Friska mengikuti mereka, lalu duduk di sebuah bangku panjang taman.
"Hah ...." Friska menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kasar. Kemudian, menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya, mencoba menghilangkan kegundahannnya sebelum kembali ke rumah.
"Owh, ya, ampun! Kenapa susah sekali membuang perasaan ini? Dulu saja datangnya gampang banget. Kenapa giliran suruh pergi, susahnya minta ampun?" umpat Friska, hingga tanpa terasa cairan bening lolos dari pelupuk matanya. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jebol juga. "Ya, Tuhan. Kenapa pula malah nangis? Dasar air mata gak ada akhlak untuk apa kau keluar hanya demi sebuah kata yang mereka sebut cinta. Kau itu tidak pantas keluar untuk itu! Hayo, balik lagi," ucapnya sambil menyembunyikan wajahnya di balik lutut. Air mata semakin deras keluar.
Tanpa disadari Friska, seseorang sedang berdiri di hadapannya dan menyaksikan gadis itu menangis sambil merutuki air mata yang keluar begitu saja.
"Boleh ikut duduk?" Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Friska.
Mendengar seseorang berbicara, Friska mendongak dan dilihatnya seseorang sedang tersenyum ke arahnya. Senyum yang cukup manis, tetapi belum bisa membuat hatinya bergetar. Dengan cepat, Friska pun mengusap air mata yang masih membasahi pipinya.
__ADS_1
"Wanita cantik sendirian, apa gak takut digangguin preman?"
"Nih, premannya udah di hadapanku." Dengan air mata yang masih susah direm, Friska mencoba tersenyum kepada seseorang yang berpakaian memang seperti preman itu. " Sini duduk!" Friska menunjuk tempat kosong di sebelahnya. "Katanya lagi ada tugas?" lanjutnya.
Lelaki itu yang tidak lain adalah Krisna pun duduk. "Ini baru pulang. Tadi pas buka hp, lihat banyak panggilan tidak terjawab dan chat-an dari kamu, jadi pas pulang aku langsung menyusulmu ke cafe. Tapi, sudah tidak ada siapa-siapa. Dan malah ketemu gadis yang sedang marah-marah pada air matanya sendiri." Krisna melirik gadis di sebelahnya. "Jika kamu butuh tempat bersandar, bahuku siap menjadi sandaran," lanjut Krisna sambil menepuk bahunya.
"Ya, ampun. Maaf, ya, aku pasti sudah mengganggu pekerjaanmu. Aku lupa kalau janjian kita dibatalkan." Friska merasa bersalah, tanpa berani menatap wajah lelaki itu.
"Tidak seperti itu. Lagian kerjaannya juga sudah selesai. Kemarilah! Tumpahkan semua sedihmu di sini. Aku tidak akan bertanya apapun. Aku hanya akan menemanimu sampai kau merasa lega," tandas Krisna lagi.
Friska memberanikan diri menatap Krisna yang sedang tersenyum dan mengangguk kepadanya. Ia memang sedang butuh sandaran, tanpa pikir panjang lagi, Friska langsung menyandarkan kepalanya di bahu Krisna. Gadis itu menumpahkan perasaannya dengan air mata, tanpa berkata sepatah kata pun dan Krisna tidak sekali pun bertanya.
"Makasih!" Setelah cukup lama dan merasa tenang, Friska duduk tegap kembali, menjauhlan kepalanya dari bahu Krisna.
"Apa sudah lega?" tanya Krisna yang dijawab anggukan Friska. "Karena sudah tenang, bagaimana kalau kita lanjut saja kencannya?" ucap Krisna dengan senyum tipis yang tertampil.
Friska menatap Krisna dari ujung kepala sampai kaki."Apa aku gak bakal dikira jalan ama preman, ya?" bisik Friska, melihat penampilan Krisna yang sangat jauh dari penampilan biasa lelaki itu. Tangisnya pun sudah hilang.
"Apa aku harus ganti baju dulu?" tanya Krisna.
"Enggak usah. Ayo, kita kencan!" Friska menarik tangan lelaki itu. Mood-nya yang sudah kembali, membuat gadis itu sangat bersemangat. "Tapi, kita mo ngapain, ya?" Baru beberapa langkah, Friska menghentikan jalannya dan menoleh ke arah lelaki yang diajaknya kencan.
Krisna sendiri hanya mengedigkan bahu. Karena ia sendiri tidak tahu apa saja yang akan dilakukan oleh orang yang sedang berkencan. Ini kali pertama lelaki itu mengajak seorang gadis berkencan.
Mereka pun memilih bermain di taman tersebut. Menikmati beberapa kuliner di sana dengan senda gurau dari keduanya.
"Terima kasih telah mengembalikan mood-ku," ucap Friska sembari memakan permen kapas yang dibelinya dari pedagang asongan.
__ADS_1