Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
113


__ADS_3

Dengan lengkungan senyum yang terus tertampil di wajah dan senandung kecil yang menemani, Andre mengendarai mobilnya menembus jalanan. Mobil Rush yang dibelinya seminggu sebelum menikah itu, kini menjadi saksi betapa bahagianya Andre di sore nan cerah ini. Membayangkan sang istri yang menyambutnya dengan senyum indah membuat Andre tak sabar untuk segera sampai ke rumah. Apalagi dengan hadiah yang sudah menantinya, membuat Andre ingin langsung ada di rumah tanpa harus bergulat dengan ramainya jalanan.


Namun, di tengah jalan perjalanan Andre terganggu. Ia melihat seorang anak kecil sedang menangis histeris di tepi jalan sambil menghentikan taksi di depan Andre, tetapi sayang mobil itu tidak berhenti. Hati nuraninya pun tergugah dan memilih untuk menepikan mobil.


"Ada apa, De?" tanya Andre setelah menurunkan kaca mobilnya.


"Pak Polisi, Via sedang mencari taksi, tapi tidak ada yang mau berhenti," jawab anak kecil yang menyebut dirinya 'Via' dengan air mata yang masih terus membasahi pipinya.


Anak dengan taksiran baru berusia enam tahun sedang mencari taksi sendirian. Ia mau ke mana? Mungkinkah anak kecil itu sedang kabur atau sedang dalam masalah. Andre menatap anak itu dari atas sampai bawah, hingga memutuskan untuk turun dari mobil dan menghampiri anak itu.


"Memangnya Ade mau ke mana mencari taksi? Anak kecil tidak baik bepergian sendirian. Itu sangat bahaya, De." Andre berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil yang masih terisak.


"Mau ke rumah sakit. Pak Polisi bisa bantu Via, kan? Via mohon." Anak kecil itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Mamah Via sedang kesakitan di rumah. Pak Polisi tolong Via, ya!" ujarnya lagi seraya menunjuk rumah di belakangnya dengan pintu yang masih terbuka.


"Ayah Via ke mana?" tanya Andre kemudian.


Belum sempat Via menjawab, terdengar teriakkan histeris memanggil nama Via yang membuat anak kecil itu berhambur ke dalam rumah dan diikuti oleh Andre.


"Ya, Tuhan!" Andre dibuat terkejut saat tiba di dalam rumah.


Seorang wanita sedang mengerang kesakitan dengan perut besar dan cairan yang sudah membasahi bagian bawah baju bahkan lantai tempat wanita itu duduk.


"Pak, tolong antar saya ke rumah sakit! Sebentar lagi saya mau melahirkan. Awww ... aku sudah tidak tahan!" pinta wanita itu di tengah-tengah kontraksi hebat yang sedang dirasakannya.


Tanpa pikir panjang lagi, Andre dengan sigap menggendong wanita itu membawanya ke dalam mobil dan mengantar ke rumah sakit. Erangan kesakitan dari wanita itu menggema di mobil Andre bersahut-sahutan dengan tangis si anak kecil yang takut terjadi sesuatu kepada ibunya. Mobil pun dipacu dengan kecepatan tinggi, tak mau terjadi sesuatu dengan wanita itu, apalagi sampai melahirkan di tengah jalan. Walau bagaimana pun, Andre bukanlah bidan atau dokter yang mengerti ilmu tentang cara melahirkan.


Setiba di rumah sakit, wanita itu pun langsung mendapat penanganan dari para medis.


"Pak Polisi, jangan pulang dulu!" Via menggenggam tangan Andre saat mereka sudah tiba di depan ruang bersalin. "Via, takut! Mamah terus menjerit-jerit di dalam. Via takut," ucapnya lagi.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu ditakutkan, mamah Via akan baik-baik saja. Sebentar lagi Via bakal jadi kakak, Via harus jadi anak pemberani." Andre mencoba menenangkan anak kecil yang sedang ketakutan karena suara histeris mamahnya dari dalam ruang bersalin itu.


"Temani Via sampai ayah datang, ya, Pak Polisi. Via gak mau sendirian."


Anak itu terus memohon untuk Andre tidak meninggalkannya, hingga Andre pun mengiakan.


'Sebaiknya aku beri kabar Mbak Say dulu. Pasti dia khawatir kalau aku pulang telat.'


Andre merogok ponselnya di dalam saku, sejurus kemudian mendengkus kasar saat melihat ponsel yang dipegangnya mati, kehabisan batre. Lalu, sebuah tarikan di tangan mengagetkan Andre.


"Pak, sebaiknya temani istrinya lahiran. Dari tadi dia teriak-teriak memanggil nama Bapak. Jadi, suami kok gak peka, mau enakanya saja." Seorang perawat menarik tangan Andre masuk ke ruang bersalin sambil mengomel karena teriakan si wanita itu sangat mengganggu, sedangkan Andre dikira suami wanita itu yang tidak peka.


"Tapi—"


"Temani istri Bapak di sini. Siapa tahu dia bisa lebih tenang," ucap Perawat itu lagi, memotong ucapan Andre.


Andre hanya melongo, bingung harus menjawab apa. Bahkan, lelaki itu tak diberi kesempatan untuk menjawab, karena sejurus kemudian wanita di sampingnya kembali histeris sembari mengeden dengan segala sumpah serapah yang keluar dari mulut. Sementara itu, tangan wanita itu juga terus bergerak mencari pegangan untuk mentransferkan rasa sakit yang begitu dalam.


"Aaa ...." teriakkan semakin menggema di ruang bersalin. Kini, bukan hanya satu suara, tetapi dua suara.


Andre yang berada di samping wanita bersalin menjadi tumbal abadi kesakitan proses melahirkan. Wanita itu tanpa sadar menarik baju Andre, menjambak rambut Andre, mencakar tangan Andre, bahkan kepala Andre sudah digunyeng-gunyeng tidak karuan, membuat Andre spontan juga berteriak saat wanita itu berteriak.


Hingga, akhirnya Andre bisa bernapas lega saat suara tangis bayi menggema di ruangan itu. Penderitaannya telah berakhir. Andre terduduk lesu di lantai dengan rambut dan baju yang sudah acak-acakkan serta cakaran memenuhi tangan. Sementara itu, para medis tampak sedang menangani si ibu dan bayi. Jika semengerikan ini perjuangan melahirkan, ia bersyukur karena Irma tidak bisa melahirkan.


'Orang lain yang enak-enaknya kenapa aku yang kena getahnya,' rutuk Andre dengan napas yang terengah-engah, rasanya habis maraton berkilo-kilo.


"Tenaga orang melahirkan sungguh luar binasa," gumam Andre saat merasakan beberapa bagian tubuh terasa sangat sakit.


Kemudian, seorang perawat menghampiri Andre dan menyodorkan bayi merah itu kepadanya.

__ADS_1


"Selamat, Pak! Bayinya laki-laki sangat tampan."


"Hah?" Andre yang masih bergelut dengan rasa sakit di tubuhnya, terperangah dengan ucapan si Perawat.


"Bayi anda laki-laki. Silakan diadanin dulu anaknya, Pak!"


"Eh!"


Andre langsung berdiri sempurna. Ia harus menjelaskan semuanya. Ini salah paham.


"Tapi, maaf, Mbak. Aku bukan ayahnya."


Andre menolak menggendong apalagi meng-adani anak itu, karena menurutnya itu bukan haknya. Meskipun, Andre tak memungkiri ia sangat terpesona dengam bayi mungil di gendongan si Perawat. Andai itu anaknya dan Irma, pasti sudah dengan antusias ia menggendong dan meng-adani bayi mungil itu.


"Maksudnya?" Semua para pekerja medis di sana terperangah.


"Saya bukan ayah anak ini, saya hanya membantu ibu ini membawanya ke rumah sakit. Eh, Mbak perawat malah main tarik saya, tanpa diberi waktu untuk menjelaskan apa-apa," jelas Andre, tak mau lagi ada salah paham.


"Yang diucapkan Pak Polisi itu benar. Dia bukan suami saya. Maaf, Pak sudah merepotkan." Si wanita itu juga membenarkan ucapan Andre dan dengan suara yang masih lesu, ia meminta maaf.


Sementara itu, si Perawat yang menarik Andre langsung mendapat tatapan tajam dari para rekannya. "Maaf, saya kira Bapak itu suaminya," ucap si Perawat, malu-malu.


"Lalu siapa yang mau ngadanin bayinya?" tanya si Perawat yang menggendong bayi.


"Suami saya belum ke sini. Kalau Pak Polisi tidak keberatan, boleh tidak, tolong adanin anak saya!" ujar wanita itu yang masih ditangani dokter.


Andre tampak berpikir sambil memperhatikan bayu mungil yang baru melihat dunia itu dan mengangguk. Ia pun meraih si bayi, menggendongnya. Andre lantas menghadap ke kiblat, hendak mengumandangkan adan dan iqomah di telinga kanan dan kiri bayi itu.


"Biar aku saja yang mengadaninya."

__ADS_1


__ADS_2