
2
Sebuah tangan tampak meraba-raba tempat sekitarnya, mencari sesuatu yang sejak semalam selalu ada di sisinya dan memeluknya dengan penuh cinta.
"Ba ... Ba ...." gumam Irma dengan mata yang masih terpejam, mencari sosok Andre. Akan tetapi, tangannya tidak merasakan adanya kehadiran sang suami.
Perlahan, wanita itu membuka mata. Dilihat sekelilingnya, tidak ada sang suami di sana. Hingga, senyum tipis menghiasi wajah yang sudah mulai terlihat chubby itu, saat ia sudah tidak melihat kursi roda lagi di samping tempat tidur.
"Kamu memang suami ter-the best. Terima kasih sudah mau mengerti aku. Aku janji, aku tidak akan mengecewakanmu. Yang kemarin adalah pelajaran paling berharga yang tidak akan pernah aku lupakan," gumam Irma. "Sehat-sehat di dalam sana, ya, Sayang," lanjutnya sambil mengelus perut yang sudah mulai membesar itu. "Tapi, Baba-mu di mana, ya, Sayang?"
"Ba!" Irma beranjak dari tempat tidur sambil memanggil suaminya, tapi tidak ada sahutan. Ia yang mengira Andre ada di kamar mandi pun sampai mengecek ke kamar mandi, tetapi tidak ada siapa pun. Hanya bathtub yang sudah di isi air hangat dengan wangi aroma terapi yang menenangkan yang Irma temui di kamar mandi. Lelaki itu sudah mempersiapkan keperluan bersih-bersih sang istri dengan sempurna.
Tidak menemukan sang suami, Irma pun kembali keluar kamar mandi untuk mencari sosok yang telah memenuhi hatinya.
"Bu, sudah bangun?" sapa Andre yang sudah ada di dalam kamar lagi, saat Irma keluar.
"Baba dari mana? Aku mencarimu?" tanya Irma menghampiri lelaki itu, lalu memeluknya dan ndusel-ndusel di ketiak Andre.
Kebiasaan aneh Irma setelah hamil yang membuat Andre hanya bisa geleng-geleng kepala. Ritual bangun pagi yang menganehkan. Setiap bangun tidur, Irma akan mencium dan menghirup aroma ketiak Andre dan bila tidak dilakukan maka Irma akan mengalami morning sicknes seharian.
"Tidak ke mana-mana, hanya membuatkan susu untuk istriku tercinta," jawab Andre sambil menunjukkan segelas susu yang dibawanya. "Minum dulu, setelah itu kita mandi. Aku sudah menyiapkan semuanya," lanjut Andre.
Irma mengurai pelukannya, setelah puas menghirup aroma ketiak sang suami, lalu menghabiskan susu yang dibawa Andre.
"Terima kasih. Aku sayang kamu." Irma mendaratkan kecupan di pipi sang suami.
"Aku enggak," jawab Andre sambil mengambil gelas yang sudah kosong dan menyimpannya di nakas.
Mendengar jawaban Andre, spontan Irma langsung mengerucutkan bibirnya dengan wajah ditekuk. "Kok, enggak?"
__ADS_1
"Karena aku lebih lebih lebih sayang kamu," jawab Andre dengan tangan yang sudah menggendong Irma ala bridal style dan membawa wanita itu ke dalam kamar mandi. "Karena kamu sudah mencium ketekku yang wanginya seperti bunga kesturi, sekarang mari kita mandi!" lanjut Andre dengan seringai lebar menghiasi wajahnya.
Ya, Andre tidak akan berani membersihkan tubuhnya sebelum istrinya itu menghirup puas aroma ketiaknya yang menurut Irma sangat-sangat wangi. Karena bila itu terjadi, ia harus bersiap-siap menerima amukan si istri yang terus muntah-muntah.
***
"Libur hari ini rencananya mo ke mana, Ba?" tanya Irma saat keduanya sedang sarapan.
"Ke surga dunia, boleh," jawab Andre sambil menarik tipis ujung bibirnya dengan alis yang naik turun.
Irma hanya bisa mengerucutkan bibirnya, jika dirinya dalam mode siap bertempur, pasti Andre selalu menggodanya dengan segala sesuatu yang mengarah ke pergulatan yang berujung kenikmatan.
"Ba, ngomongnya jangan ke sana mulu napa?" omel Irma sembari memasukkan potongan roti bakar ke mulut dan mengunyahnya dengan kasar.
"Itu namanya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Aku belum tahu pasti, berapa hari lagi aku harus berpuasa. Kalau sampai kayak kemarin hampir satu bulan full lagi gimana? Cuma bisa nelen ludah doang, dong."
Andre masih ingat betul betapa menyiksanya menahan hasrat yang ingin segera tersalurkan, tetapi si istri sama sekali tidak mau disentuhnya. Lebih parah lagi kalau sudah setengah jalan, tiba-tiba Irma tidak mau melanjutkannya lagi. Di masa kehamilannya Irma tidak pernah meminta ngidam yang aneh-aneh seperti Naura yang kadang permintaannya diluar nalar. Akan tetapi, sifat Irma cepat sekali berubah. Ia seperti angin yang susah di tebak, apalagi tentang urusan hormon s*ksualitasnya, tidak jarang membuat Andre harus berakhir di kamar mandi.
"Aku ikut. Aku kangen sama si gemoy Arka."
Mendengar akan ke rumah Bara, Irma langsung antusias. Semenjak peristiwa itu, Andre dan Bara menjalin hubungan dekat dengan Bara. Keduanya bersahabat, begitu pun dengan istri mereka. Irma selama sebulan terakhir ini dikurung di rumah sudah sangat merindukan bayi yang membuat suaminya dipenuhi cakaran saat bayi itu akan lahir ke dunia. Bayi menggemaskan yang sekarang menjadi teman bermain Kayla.
"Ikutlah mana mungkin aku tinggal Bubu sendiri di rumah, yang ada kamu membandel lagi," tandas Andre.
"Ish ... tidak percayaan banget sama istri sendiri. Aku istri penurut, lho!"
Andre tersenyum tipis, dan sarapan pagi mereka pun dibarengi dengan obrolan-obrolan santai mereka. Hingga terdengar bel pintu terdengar beberapa berbunyi.
"Siapa pagi-pagi gini udah bertamu?" rutuk Andre sambil meletakkan roti yang dipegangnya ke piring.
__ADS_1
"Biar aku buka dulu, Ba."
Irma langsung beranjak dari kursi, tetapi langsung dicegah oleh Andre. Lelaki itu pergi ke depan dan membuka pintu.
"Kau!" Andre tertegun melihat siapa yang datang dan pikirannya langsung melayang entah ke mana. 'Bukannya setahun ini ia akan tinggal di Paris? Kenapa tiba-tiba ada di depan pintu?'
"Iya, ini aku. Boleh aku masuk? Aku sudah cukup lama berdiri di sini dan alhamdulilah membuat kakiku pegal," jawab orang itu dengan santai, tanpa memedulikan wajah Andre yang terlihat kaget atas kehadirannya.
Bukannya mempersilakan tamunya masuk, Andre malah menutup kembali pintu dan menguncinya. Ia pun bergegas kembali ke ruang makan sambil komat-kamit tidak jelas.
"Siapa, Ba?"
"Tukang kredit panci," jawab Andre, singkat
"Ngapain tukang kredit panci pagi-pagi ke sini? Lagian kita kan gak pernah ngambil panci dari mereka?"
"Entahlah. " Andre mengedigkan kedua bahunya. "Mungkin nyari Bi Sri, biasanya kan dia sama barang kreditan selalu paling depan," jawab Andre lagi, asal, lalu melanjutkan lagi sarapannya.
Irma pun hanya ber-oh ria dan percaya pada ucapan sang suami. Namun, baru saja Andre mengunyah makanannya, bel kembali berbunyi. Bahkan, kali ini belnya di tekan berkali-kali sampai bunyinya terasa sangat mengganggu.
"Ah, sial!" umpat Andre, pelan.
"Tukang kreditnya belum pergi, Ba?" tanya Irma. "Biar aku saja yang bicara dengannya. Baba pasti lupa bilang sama dia kalau hari minggu Bi Sri libur."
Irma beranjak dari tempat duduknya hendak menemui orang yang disebut Andre tukang kredit panci. Namun, baru beberapa langkah, Andre kembali mencegahnya dan berjalan mendahului Irma.
"Biar Baba saja. Bubu lanjutkan saja lagi sarapannya," ujar Andre, sambil setengah berlari ke arah pintu.
"Aneh. Sebenarnya siapa yang ada di depan? Apa iya tukang kredit panci? Kenapa Baba seperti orang yang kebakaran jenggot?" Pertanyaan-pertanyaan muncul di benak Irma, melihat tingkah Andre yang terlihat aneh setelah membuka pintu tadi.
__ADS_1