
Mendengar cerita mendetail dari sang kakak, membuat Naura langsung naik pitam. Meskipun mereka kakak-adik, tetapi sifat mereka jauhlah berbeda. Irma yang sifat lembut, lebih suka diam dalam menghadapi masalah dan memendam masalah, hingga berakhir dengan tangis. Karena itu pula, Naura yang memiliki sifat kebalikkan dari Irma, selalu berada di garda terdepan saat ada orang lain yang menyakiti kakaknya. Kesakitan Irma adalah kesakitannya juga. Masalah Irma adalah masalah Irma juga. Ia tak terima, kakak satu-satunya diperlakukan semena-mena oleh oranglain.
Setelah menembus jalanan dengan kecepatan tinggi, Naura pun tiba di sebuah rumah besar yang ditujunya. Kemudian melajukan motor, memasuki gerbang rumah yang masih terbuka dan segera memarkirkan motornya. Tak sabar ingin memberi pelajaran kepada si pembuat onar, Naura turun dari motor dan bergegas mengayunkan kakinya menuju pintu rumah. Namun, ia dibuat terkejut saat melihat keadaan teras rumah yang sudah berantakan.
"Apa sebelum aku datang, ada perang Baratayuda di sini? Atau mungkin si Elsa abis di tagih deptkolektor, ya? Secara wanita matrealistis itu kan senangnya foya-foya." Naura tersenyum-senyum sendiri membayangkan Elsa yang gemetaran saat ditagih orang-orang berbadan besar, hingga membuat kericuhan di rumah itu. "Ah, ngapain pula malah mikirin tempat yang berantakan? Malah aku bisa buat tempat ini lebih dari ini." Naura kembali geram, mengingat kedatangannya datang ke tempat itu.
Ia melangkahi pot-pot bunga yang tergeletak tak beraturan di teras, lalu memencet bel rumah itu berkali-kali. Tak sabar hanya dengan memencet bel, Naura juga menggedor-gedor pintu yang terbuat kayu jati itu dengan kakinya.
"Elsa, buka pintunya!" teriak Naura.
Cukup lama, Naura berdiri di depan pintu, tetapi tak kunjung ada yang membuka pintu. Kakinya pun sudah terasa pegal karena dipakai menendang-nendang daun pintu.
"Haruskah aku pencet belnya dengan bodem? Atau ... buka pintunya saja sekalian pake bodem." Kekesalan Naura semakin di atas ubun-ubun, mendapati pintu tak kunjung terbuka.
Hingga, yang ditunggu pun tiba. Ia melihat pergerakan di handle pintu. Seseorang akan membuka pintu di hadapannya. Naura pun berdiri tegap, mengambil ancang-ancang. Kedua mata elangnya pun menatap tajam ke arah pintu, tetap waspada, takutnya si penghuni rumah langsung memberikan serangan setelah tahu kehadirannya di rumah itu.
Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Ryan yang sedang mendumel kepadanya. Namun, ia terlihat syok begitu melihat Naura di depan pintu.
"Apa? Dasa para bedebah!" pekik Naura dengan bola mata yang sudah menyala jauh lebih menyeramkan dari amukan Elsa, membuat Ryan menelan salivanya dan sebuah tamparan pun mendarat di pipi. "Seharusnya aku yang menyeretmu ke jembatan dan melempar kalian dari sana. Mana istrimu? Aku ingin memberikan pelajaran tak terlupakan kepada wanita tak tahu adat itu," lanjutnya lagi sembari mendorong Ryan dengan sebuah pukulan di perut Ryan, lalu menorobos masuk ke rumah.
__ADS_1
'Lihatlah karena ulahmu, sekarang aku yang malah kena tamparan dan pukulan Naura!' ujar Ryan dalam hati sembari memegangi perut laparnya yang dipukul Naura. Ia merutuki perbuatan Elsa yang tak pernah berkaca dengan pengalaman sebelum-sebelumnya. Berani membuat masalah dengan Irma, berarti harus siap mendapat amukkan Naura.
"Elsa! Elsa di mana kau! Elsa keluar!" Naura terus berteriak memanggil wanita yang sudah pergi beberapa saat sebelum ia datang.
"Ra—"
"Kau sembunyikan di mana istri tak berakhlak itu? Suruh keluar sekarang!" Naura memotong pembicaraan Ryan. Wanita itu berbalik badan dan menatap sinis Ryan yang masih memegangi perut.
"Elsa tidak ada di rumah."
Percaya? Tentu saja Naura tak percaya dengan ucapan Ryan. Si ibu hamil itu, melangkah, mendekati Ryan dengan sorot mata yang seperti tajamnya pedang—menusuk sampai ke jantung.
'Ya, Tuhan. Tenaganya masih kuat aja.' Ryan berujar dalam hati.
"Tapi, Ra ... Elsa memang tidak ada di sini. Aku berani sumpah!" ujar Ryan sembari mengangkat jari telunjuk dan tengah.
"Aku tak percaya sumpahmu," jawab Naura. "Elsa keluar!" teriaknya, memanggil Elsa lagi.
"Dia tidak ada di sini, Ra! Aku telah mengusirnya. Walaupun berteriak sampai pita suaramu putus pun, Elsa tidak akan muncul." Entah harus dengan cara bagaimana lagi Ryan menjelaskan kalau Elsa tidak ada di rumah itu.
__ADS_1
"Jadi sekarang kau juga menyumpahi pita suaraku putus? Dasar kalian memang pasangan suami istri tidak berakhlak. Kenapa dulu aku pernah tertipu dengan wajahmu yang so baik itu? Sampai aku buta kalau lelaki yang pernah aku anggap kakak itu hanyalah seorang lelaki biadab tak berakhlak." Kesal yang menggunung itulah yang dirasakan Naura. Hingga wanita yang sudah berjalan sampai ruang tamu itu melemparkan barang-barang di dekatnya kepada Ryan. Pas bunga, pernak-pernik, bingkai foto dan bantal sofa tak ada yang Naura lewatkan. Untung saja, Ryan dapat menghindar, hanya bantal sofa yang mendarat tepat di wajahnya.
Namun, sejurus kemudian Naura diam mematung. Terlalu banyak menguras energi dan pikiran, tiba-tiba saja Naura merasakan kram di perut. "Aww ...." Ia meringis sembari memegangi perut yang terasa sedikit sakit.
"Ra, kamu kenapa?" Melihat Naura yang tampak kesakitan membuat Ryan khawatir dan menghampirinya, meskipun sembari waspada—takut sesuatu melayang lagi.
"Tidak perlu pura-pura khawatir," jawab Naura ketus, masih memegangi perut.
"Aku benar-benar khawatir. Sini duduk dulu!" Ryan memapah Naura untuk duduk di sofa. "Kamu sedang hamil, harusnya kebarbaranmu itu dikurangi dikit. Kamu itu tak pernah berubah," lanjut Ryan lagi.
Naura menoleh ke arah lelaki yang sedang membantunya. Hatinya bertanya-tanya, setan jenis apa yang telah merasuki mantan kakak iparnya itu? Bukankah ini kesempatan bagus kalau lelaki itu ingin membalas perbuatan Naura, tetapi lelaki itu malah membantunya. Bahkan Ryan memunguti bantal-bantal yang dilempar Naura dan menumpuk beberapa di ujung sofa. Menyuruh Naura berbaring meluruskan tubuh agar kram di perut lekas membaik.
"Kebiasaan burukmu kalau orang lagi mau mangap main potong saja. Dengarkan dulu kakak bicara, baru nyanggah ampe mulut berbusa pun hayu!" ujar Ryan lagi.
'Kenapa aku merasa dia sudah kembali seperti dulu?' Naura masih memperhatikan Ryan, tanpa bisa menyanggah.
Rasa kram di perut mencekat semua kata yang hendak keluar dari mulut. Tapi, ia merasakan ada satu hal yang berubah dari lelaki yang sudah dikenalnya cukup lama. Ryan yang baik hati dan sangat menyayanginya itulah yang Naura rasakan sejak awal mereka kenal, hingga lelaki itu dijodohkan dengan Irma dan sikap Ryan berubah seiring berjalannya waktu, membuat Naura sama sekali tak mengenal lelaki itu.
"Kakak dan Elsa sudah bercerai," ujar Ryan, lalu menceritakan kejadian yang terjadi sebelum Naura datang sampai Elsa pergi.
__ADS_1
"Bagus kalau sudah bercerai dengannya," jawab Naura, tanpa melihat ke arah Ryan. "Jangan bilang kau menceraikan Elsa untuk kembali kepada kakakku?" teriak Naura, membuat Ryan kembali tersentak. Mata wanita itu kembali menatap Ryan dengan tajam. Aura dingin kembali terpancar di wajah ibu hamil itu, tetapi sejurus kemudian langsung ambyar karena perut yang tiba-tiba berbunyi sangat keras.