
Ranti masih menatap Andre yang sedang berpelukkan, saat Irma menjatuhkan dua kilogram telur. Mendengar benda terjatuh di sampingnya, Ranti pun memutar mata, mengalihkan pandangannya pada kresek putih yang beberapa detik lalu beralih tangan. Kini, keresek itu pun bukan saja beralih tangan, tetapi sudah beralih tempat yang sudah bisa dipastikan pasti isinya sudah terpecah belah.
"Ya, ampun, Kak! Kalau tahu mau dijatuhkan, barusan gak bakal mamah kasih kresek itu ke kamu," gerutu Ranti, karena semula dirinyalah yang membawa telur tersebut.
Bukan jawaban dari Irma yang di dapat, melainkan bantingan daun pintu yang sangat mengejutkan menjadi jawaban omelan Ranti. Bahkan, suara pintu itu sampai terdengar ke pinggir jalan, mengejutkan dua insan yang sedang berpelukkan. Andre pun terkejut bukan kepalang melihat Ranti di depan rumah.
"Tante, ada apa?" tanya Andre dari pinggir jalan.
"Maaf, Nak Andre pasti terganggu, ya! Pintu rumah kami sepertinya susah ditutup, makanya Irma menutupnya lumayan keras." Ranti yang masih tertegun melihat tingkah anak sulungnya menjawab pertanyaan Andre seraya tersenyum.
'Apa ini juga termasuk skenario yang kalian buat? Tapi ini keterlaluan,' tanya Ranti dalam hati. Ia memang mengizinkan Andre memberikan Irma pelajaran, tetapi tidak sampai melibatkan wanita lain. "Tante permisi masuk dulu, ya!" lanjut Ranti kemudian, tampak sekali kekecewaan di raut wajah tua Ranti, meskipun ia menutupinya dengan senyum yang tertampil. "Kak, tunggu!" Ranti memanggil Irma seraya masuk ke rumah.
"Tan, tunggu dulu!" Andre mengejar Ranti.
Namun, Ranti tak menghiraukan teriakkan Andre, ia langsung masuk dan menutup pintu.
"Mereka pasti salah paham." Andre menepuk jidatnya sendiri.
"Mereka siapa?" Wanita itu pun mengikuti Andre masuk ke halaman rumah Ranti.
"Yang barusan Tante Ranti, yang banting pintu pasti Irma."
"Kenapa dia banting pintu? Dari suaranya, pasti tuh pintu di banting dengan tenaga dalam. Kasian sekali pintunya, pasti sakit sekali," imbuh Wanita itu lagi yang malah menghawatirkan pintu.
"Pasti dia salah paham sama kita."
__ADS_1
"Kenapa harus salah paham? Kenapa gak langsung nanya aja? Kenapa malah marahin pintu? Aneh banget."
"Diamlah! Cerewetmu gak sembuh-sembuh." Andre menutup mulut wanita di sampingnya dengan tangan satu lagi mengetuk pintu. Ia tak mau kedua wanita penghuni rumah itu salah paham.
Sementara itu, wanita di sampingnya sedang berusaha melepaskan tangan yang membekapnya. "Kau kira aku ini tawanan apa? di bekap segala," protesnya, begitu berhasil menyingkirkan tangan yang menghalangi mulutnya.
"Kalau gak mau dibekap, diam. Ini juga gara-gara kamu!"
"Aku tak tahu apa-apa. Lagian aku baru datang, kenapa nyalahin aku?" Ia tak terima dengan tuduhan yang ditunjukkan kepadanya.
Saat mereka sedang beradu mulut, tiba-tiba Ranti membukakan pintu.
"Diamlah!" ucap Andre tanpa buka mulut, memperingati wanita di sampingnya sembari tersenyum ke arah Ranti. "Malam, Tan!" ujarnya, kemudian kepada Ranti.
"Malam." Ranti menatap Andre dan wanita di samping pria itu secara bergantian.
"Malam. Ada apa, ya, Nak Andre?" tanya Ranti tanpa basa-basi.
"Tan, ada yang ingin aku jelaskan kepada Irma. Bolehkah aku ketemu dia?" ucap Andre.
"Irma sedang istirahat. Sepertinya, hari ini cukup menguras energi Irma, sampai-sampai dia langsung ke kamar dan istirhat."
"Tapi, Tan—" Andre mencoba membujuk Ranti.
"Besok saja, ya! Irma juga sudah istirahat, Andre juga sebaiknya istirahat. Belum lagi, sekarang Nak Andre sedang ada tamu, sebaiknya Nak Andre urus dulu tamunya. Tante masuk dulu, ya!" Dengan seutas senyum yang tertampil, Ranti menutup kembali pintunya tanpa menunggu penjelasan dari Andre.
__ADS_1
"Tan, jangan ditutup dulu! Aku juga mo ngomong sama Tante." Andre kembali mengetuk pintu, tetapi tak ada lagi yang membukakan pintu.
Andre terpaksa kembali ke rumah, tanpa berhasil menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Bukan hanya Irma yang salah paham, Tante Ranti juga. Apa yang harus kulakukan?" Lelaki itu mengacak-acak rambutnya.
Wanita yang sejak tadi mengikuti Andre, hanya memperhatikan lelaki yang tampak frustrasi itu.
"Apa aku salah waktu liburannya, ya?" tanyanya dengan mulut yang penuh dengan makanan, sedangkan pandangannya tak lepas dari Andre. "Bukannya disambut dengan kalungan bunga kayak artis top gitu, atau seenggaknya dengan wajah yang riang gembira. Ini mah boro-boro, yang ada aku disuguhi wajah yang kayak baju gak setrika setahun," omelnya kepada Andre.
"Itu juga gara-gara kamu, peluk-peluk kakak di pinggir jalan, bikin orang salah paham." Andre menunjuk hidung wanita yang bernotaben sebagai adiknya.
"Kenapa malah nyalahin Friska? Kakak juga ngapain balas peluk Friska, pake cium kening segala. Siapa yang bikin orang makin salah paham, hayo?" Wanita yang menyebut namanya Friska itu, juga membalas menunjuk hidung Andre.
"Refleks. Kakakmu ini 'kan rindu juga sama adiknya yang sudah setengah tahun kagak ketemu."
"Ya, sudah, berarti salah kita berdua, jangan nyalahin aku doang. Daripada nyalahin orang, mending coba telpon tuh gebetan! Siapa tahu diangkat, nanti tinggal jelasin siapa gadis cantik nan imut ini."
"Ide brilian. Otakmu encer juga!" Tanpa pikir panjang, Andre meraih ponsel. Dengan senyum yang tertampil, ia langsung menghubungi nomor Irma.
"Ya, iyalah, selain cantik dan imut, otakku 'kan selalu encer." Friska menepuk dadanya, membanggakan dirinya sendiri yang membuat sang kakak mencebik. "Kenapa?" tanya Friska sejurus kemudian, saat melihat raut wajah sang kakak kembali kusut.
"Enggak diangkat."
Bahkan, sampai berulang kali Andre menghubungi Irma, tak ada satu pun panggilannya yang tersambung.
__ADS_1
Btw, kakak readers pinter banget nebaknya. Good!!!🥳🥳