
Andre yang teringat akan cerita-cerita tahayul di kota kelahirannya dulu langsung bergegas masuk ke rumah dengan membawa sapu lidi yang kata orang-orang dahulu makhluk seperti itu takut kepada sapu lidi.
Sesampai di dapur, Andre sangat geram mendapati sang istri sedang dipeluk oleh sosok yang disebutnya setan.
"Bu, kau jauh-jauh dari wanita itu. Dia itu bukan mamah, dia setan yang lagi nyamar. Awas, aku akan mengusirnya!" perintah Andre, kemudian ia berjalan mendekat sambil mengucapkan ayat kursi dengam begitu lantang serta tangan yang mengibas-ibas sapu lidi.
Sementara itu, Irma dan Rita hanya melongo dan sejurus kemudian Irma menahan tawa begitu menyadari maksud suaminya, sedangkan Rita yang juga paham wajahnya mulai merah padam.
Andre terus berjalan mendekati Rita dengan terus melafalkan ayat kursi, berharap sosok itu akan ketakutan dan menghilang. Akan tetapi, bukannya menghilang, sosok yang sudah semakin dekat itu malah berkacak pinggang.
"Apa kau mengira aku setan, hah?" hardik Rita.
'Setan zaman sekarang sudah tidak takut dengan ayat kursi. Malah nantangin kayak gitu. Dia bener-bener minta dipites pake sapu,' ucap Andre dalam hati dengan begitu geram.
Andre yang merasa ditantangi hantu, semakin mempercepat langkahnya dengan sapu yang siap mendarat di tubuh Rita. "Allahu akbar! Enyahlah kau setan!" teriak Andre sembari mengangkat sapu, membuat Irma terkesiap.
"Ba—" Irma hendak melerai Andre, tetapi terpotong oleh suara di dekat pintu.
"Mah, ini sandalmu! Kenapa jalan enggak pake sandal?" Suara seorang wanita menghentikan sapu yang beberapa centi lagi akan mendarat sempurna keras di tubuh Rita.
__ADS_1
Rita yang sudah tidak sabar ingin bertemu Irma, terpaksa turun dari mobil saat di pertigaan menuju rumah Andre ada penutupan jalan sementara karena pohon tumbang. Dengan setengah berlari, ia lantas menyusuri jalan raya. Rasa lelah dan cape karena berjalan cukup jauh di usia tua tidak lagi dirasa, bahkan tanpa disadari Rita berjalan tanpa alas kaki. Saat ini, seorang gadis sedang berdiri dengan tangan yang menenteng sandal Rita.
Friska yang juga ikut untuk berkunjung langsung mengomeli mamahnya yang keluar mobil tanpa alas kaki begitu sampai di rumah Andre.
Rita masih bergeming dengan mata yang menatap tajam anak lelakinya, tidak menjawab ucapan Friska. Sementara Andre langsung menoleh ke arah suara. "Ya, Tuhan. Setannya nambah lagi! Kenapa mereka berkeliaran siang-siang begini," umpat Andre.
"Apa setan?" Seketika sandal yang dipegang Friska melayang ke perut Andre, membuat lelaki itu merintih. "Kau bilang aku setan? Kalau aku setan berarti kau juga setan," sarkas Friska sembari mendekati Andre dan menghadiahi kakaknya itu pukulan di lengan.
"Apa kau bukan setan?" Andre mulai kebingungan, sepertinya ada yang salah dengan isi kepalanya, mencoba mencerna kembali semua yang sedang terjadi.
Tawa Irma pun pecah. Ia tidak tahan untuk terus menahannya melihat kelakuan Andre. Semenjak Irma hamil, lelaki itu memang sangat parno akan hal-hal seperti itu. Andre yang sering mendengar hal tahayul dan pantangan-pantangan ibu hamil di daerahnya dulu, membuat lelaki itu selalu waspada.
"Ba, mereka bukan setan. Ini Mamah dan yang di sampingmu Friska," jelas Irma sembari merangkul bahu Rita. "Dan di belakangmu adalah ayah," lanjut Irma, lalu menggampiri Ahmad yang masuk paling akhir.
"Hah, benarkah?" Rita mengulangi ucapan Andre. "Bukannya kamu mau memukul setan ini? Ayo, sini pukul!" titah Rita, masih berkacak pinggang dengan mata yang membulat sempurna.
'Mampus, ini lebih menyeramkan dari Setan,' gumam Andre dalam hati, menyadari wanita yang sedang murka di hadapannya adalah ibunya sendiri. Andre menepuk jidat sembari bertanya pada dirinya sendiri, 'Bagaimana pula aku bisa mengira mereka Setan?'
"Ampun, Mah! Maaf, aku kira kalian hantu!" Andre melarikan diri dari hadapan sang mamah yang siap menerkam.
__ADS_1
"Jangan lari kau, Dre! Dasar anak tidak berakhlak, ibu sendiri dibilang setan," teriak Rita, sembari mengejar Andre dengan sapu lidi yang sudah beralih ke tangannya. "Fris, bantuin mamah!" lanjutnya yang dijawab acungam jempol oleh Friska.
"Ampun, Mah!"
Andre pun menjadi bahan bulan-bulanan Rita dan Friska yang dikira hantu bin setan itu, hingga mereka terkapar di sofa dan Irma hanya menjadi penonton drama itu bersama sang ayah mertua.
"Bagaimana aku tak mengira hantu kalau mamah datang tiba-tiba dan menghilang juga tiba-tiba," tutur Andre mengingat bagaimana cara ibunya datang.
"Tiba-tiba bagaimana? Mamah sudah menyapamu, terus menanyakan Irma. Kamunya saja yang malah bengong enggak jelas." Rita membela diri.
"Gimana gak bengong kalau mamah tiba-tiba muncul tanpa kendaraan, bahkan tanpa alas kaki." Andre pun tidak mau kalah, sembari melirik kaki Rita yang sedang diolesi salep oleh Friska.
Karena berjalan tanpa alas, kaki Rita lecet-lecet dan baru menyadari beberapa saat lalu, terasa sangat perih ketika mengejar Andre.
"Sudah-sudah, jangan adu mulut terus!" Ahmad yang sejak datang menjadi penonton setia tingkah anak dan ibu itu mencoba melerai. "Kalian itu memberi contoh yang tidak baik untuk cucuku," lanjut Ahmad yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Yah, anaknya Kak Andre masih di perut, enggak bakal liat juga!" protes Friska.
"Tapi dia bisa merasakan apa yang sedang terjadi."
__ADS_1
"Jangan mengada-ngada usia kandungan Irma masih trisemester awal." Rita juga ikut menimpali sembari memukul lengan Ahmad dan hanya dijawab senyum mesem sang suami. "Sekali lagi selamat, ya, Sayang!" Rita lantas memeluk Irma yang ada di sampingnya.
Sejak mereka berkumpul di ruang keluarga, Rita tidak membiarkan Irma jauh darinya. Suasana hangat kembali terjalin seperti dulu, semua orang tidak lagi membahas masa lalu yang pilu. Hanya ada sejuta kebahagiaan dengan Irma sebagai sumber kebahagiaan itu. Bahkan, sebagai rasa syukur sekaligus penebus dosanya, Rita mengadakan syukuran dengan menyumbang ke beberapa panti asuhan di kota-nya dan di tempat tinggal Andre juga, yang pasti jumlah yang dikeluarkan tidaklah sedikit.