
Jeritan sirene terus melengking dengan lampu isyarat merah yang terus menyala dari ambulans yang membawa Naura ke rumah sakit. Jeritan yang membuat pengendara lain menepi dan menatap pilu pada kendaraan yang harus memiliki prioritas utama di jalanan itu.
Di dalam ambulans, Dimas terus menggenggam dan menciumi tangan wanita yang sangat dicintainya itu, meminta Naura untuk bangun. Air mata terus mengalir semakin lama semakin deras melihat separuh hidupnya terkujur lemah tak sadarkan diri di atas belangkar.
"Sayang, bangun! Jangan seperti ini! Ini sungguh tidak lucu," ucap Dimas sembari mencium tangan Naura di sela isakan tangisnya.
"Aku berharap ini hanyalah mimpi buruk saja. Sayang, tampar aku! Agar aku cepat terbangun dari mimpi buruk ini," lanjutnya, sembari menamparkan tangan Naura dengan bantuan tangan Dimas sendiri ke wajahnya. "Ini bukan menampar, tapi mengelus," gumamnya dengan seutas senyum yang malah akan membuat orang yang melihat merasa pilu. Dimas melepaskan tangan Naura. Matanya lantas terpejam sembari menampar diri sendiri, sangat keras.
Perlahan, Dimas membuka mata setelah mendapatkan tamparan keras dari tangannya sendiri, berharap ia telah kembali ke dunia yang diinginkan. Ia menatap ruang bergerak tempatnya berada, sang istri masih tetap tergeletak di sana dengan baju putih gading yang sudah berubah warna.
"Kenapa masih seperti ini? Ini sangat menyakitkan. Ini bukan mimpi." Dimas meraung, meratapi kepedihan yang menghampirinya. Ia kembali meraih tangan Naura yang terkulai di samping belangkar dan terus menciuminya, berharap sang istri akan bangun dengan setiap sentuhan
yang diberikan Dimas sama seperti kebiasaan Naura kalau sedang tidur. Namun, dada Dimas terasa sangat sesak, istrinya masih saja seperti itu. Jeritan sirene dan air mata menjadi saksi kehancuran Dimas saat ini.
Setiba di rumah sakit, Naura langsung dibawa ke ruang ICU (Instensive Care Unit) dan mendapakan tindakan dari para medis. Dokter dan perawat berjuang menangani Naura yang sedang dalam keadaan kritis.
Sementara itu, Dimas dan Irma tampak hilir mudik di depan ruang ICU menunggu seseorang keluar dari dalam, memberi kabar tentang keadaan Naura.
__ADS_1
Ranti, Ana, dan Bambang baru saja tiba di rumah sakit. Setelah mendapatkan kabar, mereka langsung bergegas menuju rumah sakit. Ranti menatap anak dan menantunya yang tampak sangat kacau.
"Apa yang terjadi dengan Ara?" tanya Ranti yang berdiri beberapa langkah dari Dimas dan Irma. Suaranya terdengar bergetar dengan air mata yang terus mengiringinya semenjak mendapatkan kabar buruk itu.
Dimas dan Irma menoleh ke arah suara. Irma langsung berhambur ke pelukan Ranti dan menangis sesegukan tanpa bisa menjelaskan apa pun. Begitu pun Dimas, ia berhambur ke pelukan Ana, menumpahkan kesakitan yang dirasakannya. Kedua keluarga itu larut dalam tangis yang menganak sungai di wajah mereka.
"Ara, Mah! Aku takut terjadi apa-apa dengannya. Aku tak sanggup bila harus hidup tanpa dia. Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku saja?" ucap Dimas begitu lirih dan menyayat hati.
"Tidak akan terjadi apa-apa dengan istrimu. Dia akan baik-baik saja." Ana membawa Dimas duduk di tempat tunggu, mencoba menenangkan, meskipun ketakutannya juga sangat besar.
'Dia?' Ana tersentak saat melihat sekilas orang yang ada di blangkar.
"Bagaimana keadaan Naura?" tanya Andre yang juga ada di belakang blangkar pasien itu, menghampiri istrinya dan keluarga.
"Dre, apa dia yang menembak Naura?" Bukannya menjawab pertanyaan Andre, Ana malah bertanya balik.
Mendengar ucapan Ana, Dimas langsung menoleh ke arah Andre, lantas menghampiri Andre. "Kau di sini? Apa pelakunya sudah tertangkap? Siapa yang menembak Ara?" tanyanya sembari mengguncang bahu Andre.
__ADS_1
"Ya, kami berhasil menangkapnya. Dia juga terkapar lemah karena mencoba bunuh diri. Sekarang dokter akan menanganinya, semoga dia bisa selamat dan kita bisa mengintrogasinya," tutur Andre.
"Siapa dia?" Dimas bangkit dan hendak menyusul belangkar yang sudah menjauh.
"Sabar, Dim." Andre mencegah Dimas. Ia bingung menjelaskan siapa dalang dibalik penembakan Naura karena Dimas pasti akan menyalahkan dirinya sendiri jika tahu si pelaku. "Nanti kamu bakal tahu siapa dia, tapi sekarang sebaiknya kamu di sini saja. Polisi lain sudah menjaga ketat orang itu," lanjut Andre.
"Tapi, aku harus tahu orang yang telah membuat istriku kritis?" keukeuh Dimas dan mulai beranjak hendak menyusul belangkar yang masuk ke satu ruangan.
Namun, langkah Dimas terhenti saat mendengar pintu ICU terbuka. Dokter yang cukup lama berkutat di dalam keluar, mengurungkan niat Dimas yang hendak menyusul tersangka penembakan sang istri. Ia pun menghampiri si dokter dengan tak sabar menanyakan kondisi Naura.
Dokter pun menuturkan kondisi Naura, tetapi bukan kabar baik yang didapat Dimas dan keluarga. Naura harus segera mendapatkan tindakan lanjutan, yakni dua operasi sekaligus. Mengeluarkan peluru yang menembus tulang punggungnya dan mengeluarkan si bayi, membuat seluruh keluarga semakin syok mendengarnya.
'Ini semua gara-gara dia, menantuku jadi begini. Belum puaskah dia membuat hidup anakku menderita. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu!' Hati Ana menjerit mendengar penuturan dokter. Ditambah lagi, ia tahu siapa yang telah melakukan semua ini. Ana mengutuk wanita yang juga terkapar di ruangan lain, wanita yang pernah dipuja sang anak dan sekarang menjadi penyebab kehancuran Dimas.
Setelah mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga, para medis pun langsung bergerak cepat karena semakin lama ditunda, akan mempengaruhi keadaan pasien yang kritis.
Sekarang seluruh keluarga berada di depan ruang operasi, menunggu para penyelamat yang sedang berjuang menyelamatkan Naura dan juga anak yang dikandungnya.
__ADS_1