
17
Air mata terus mengalir dari kedua pelupuk mata Naura membasahi bahu sang kakak. Kesedihan yang seminggu ini gadis itu pendam, tidak lagi dapat ditutupinya. Ia tak mampu menyimpannya seorang diri. Di balik bahu Irma, Naura menumpahkan rasa sedihnya meskipun hanya dengan air mata.
Cukup lama, Naura menangis di pelukan sang kakak tanpa berkata sepatah kata pun. Bahkan, Irma yang berkali-kali bertanya pun tidak dijawabnya.
"Makasih, Kak, sudah mau menjadi tempatku bersandar." Setelah puas menumpahkan semua kesedihan yang mengganjal, Naura pun mengurai pelukannya dan mengusap air mata yang masih saja menetes.
Irma mengangguk. "Ada masalah apa? Cerita sama kakak jangan dipendam sendiri. Nanti kita cari solusinya bareng-bareng," ucap Irma, berpura-pura tidak tahu dengan drama yang dilakukan adik iparnya.
"Entahlah. Aku juga gak tahu ada masalah apa. Aku juga bingung, Kak," tandas Naura yang mulai bisa mengontrol diri lagi.
"Apa kamu dan Dimas sedang bertengkar?" tanya Irma lagi.
"Aku gak tahu harus jawab apa, Kak. Aku sendiri gak tahu kami sedang bertengkar atau tidak. Aku gak ngerti dengan semua yang terjadi," jawab Naura. "Tanpa sebab dan alasan yang jelas, dia tiba-tiba mendiamkan seperti orang asing."
"Coba kamu bicara baik-baik sama suamimu, mungkin ada sikap atau perbuatanmu yang menurut Dimas salah dan membuatnya kesal." Irma mencoba memberi saran.
__ADS_1
Sebelum membahas masalah yang dihadapinya dengan orang lain, sebenarnya Naura sudah mencoba menyelesaikan sendiri. Ia pun sudah melakukan yang diucapkan Irma. Bukan hanya sekali, Naura mengajak Dimas berbicara, tetapi tidak pernah ada respon dari suaminya. Tidak ada titik cerah karena ia tidak bisa berkomunikasi dengan baik.
"Seharusnya dia itu ngomong sama aku, Kak! Di mana letak kesalahanku, supaya aku bisa memperbaikinya," tandas Naura. "Tapi, ini tidak. Mungkinkah dia sudah bosan denganku? Dan dia sudah memiliki wanita lain, hingga ia lebih memilih mendiamkanku dan sedang mencari alasan untuk meninggalkanku?" lanjutnya.
Pikiran buruk itu selalu menghantui Naura seminggu ini. Mengingat Dimas yang sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Bahkan, lelaki yang selama ini tidak bisa jauh dari sang istri, seminggu ini memilih tidur terpisah di kamar tamu.
"De, jangan berpikir seperti itu! Kakak yakin Dimas bukan orang seperti itu. Kakak tahu dia sangat mencintaimu, tidak mungkin dia berpikiran sampai sejauh itu. Bisa saja suamimu sedang ada masalah pekerjaan yang berat sampai terbawa sampai ke rumah. Kamu jangan berpikiran negatif dulu, De."
Naura menarik sedikit ujung bibirnya ke atas. Ia tersenyum getir, saat mendengar ucapan sang kakak. "Semoga yang aku pikirkan itu bukanlah kenyataan. Tapi, satu yang seharusnya tidak pernah aku lupakan manusia itu memiliki sipat owah gingsir. Aku yang selalu terlena dengan semua prilakunya melupakan kalau manusia itu bisa saja berubah," ucapnya dengan seutas senyum yang terpaksa tertampil.
"De—"
Setelah itu, Naura mengganti topik pembicaraan mereka. Ia lebih memilih membicarakan masalah toko dan juga kehamilan Irma. Naura menceritakan masa-masa indah saat mengandung Kayla, sedikit melupakan permasalahan yang sedang dihadapi dengan mengingat semua kenangan indah yang pernah terjadi. Kemudian, pulang dari rumah Ranti saat waktu sudah menjelang sore.
Setelah kepulangan Naura, Irma juga pulang ke rumahnya yang jarak hanya lima langkah. Ia sudah tidak sabar menunggu suaminya pulang dan menanyakan sejauh mana mereka melakukan rencana yang mereka sebut sudah tersusun rapi itu.
Tidak selang berapa lama orang yang ditunggu pun pulang. Irma dengan segera menyambut suaminya yang tampak sangat lelah itu dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Apa Bubu sedang menunggu baba pulang?" tanya Andre menghampiri si istri yang sedang duduk di teras.
Irma mengangguk, lalu mencium tangan suaminya. Ia yang hendak membombardir Andre dengan seribu pertanyaan langsung mengurungkan niatnya saat melihat wajah lelah sang suami. Andre merangkul bahu Irma, mengajak wanita itu masuk ke rumah. Andre dan Irma pun masuk dengan pikiran mereka yang tertuju pada adik masing-masing.
Andre yang sudah menghubungi Bara dan menanyakan tentang keadaan Friska di kantor semakin yakin kalau adiknya itu menyukai Ryan dan itu berhasil membuat kepalanya pusing, karena adiknya itu bukanlah tipe orang yang pantang menyerah. Ia sedikit pesimis, jika adiknya mau mendengarkan ucapannya.
***
Dewi malam sudah tiba dengan kerudung hitam yang menutupinya, tanpa bulan maupun bintang. Naura yang sudah sangat lelah mengurus Kayla seharian, tampak sudah terlelap sejak selepas isya. Mata terlihat sembab karena sebelum tidur lagi dan lagi Naura menangis.
Tanpa sepengetahuan wanita itu, Dimas masuk ke kamar. Ia mencium Kayla yang tidur di ranjang khusus yang terletak di samping ranjangnya. Kemudian menghampiri sang istri yang sudah terlelap. Namun, Dimas masih bisa melihat jelas sisa-sisa air mata di wajah sang istri. Ia yang sudah mendengar keluh kesah sang istri terhadap dirinya dari Irma, tampak sedang memindai setiap inci wajah yang selalu membuat Dimas ingin menyentuh dan menikmatinya.
"Apa aku sudah keterlaluan dalam mengerjaimu? Aku tidak tidur sekamar denganmu, aku membuat jarak bukan karena aku sudah tidak mencintaimu. Aku hanya takut khilaf karena setiap di dekatmu aku selalu tidak bisa mengontrol diri dan malah membuat semua kacau. Aku ingin saat waktunya tiba kita bisa merasakan sensasi seperti pengantin baru yang dulu tidak sempat kita rasakan. Percayalah ... aku sangat-sangat mencintaimu! Bahkan aku rela mati hanya demi untukmu! Jangan pernah berpikir kalau aku sudah tidak mencintaimu lagi! Itu rasanya sangat menyakitkan." Dimas mengabsen setiap lekuk wajah Naura dengan jemarinya. "Dua hari lagi impianmu akan segera terwujud. Jangan marah lagi, ya! I love you so much," ucap Dimas, lantas mencium kening, mata dan sekilas bibir Naura.
Sementara itu Naura hanya menggeliat dengan senyum yang merekah. Di bawah sadarnya, ia juga bermimpi kalau Dimas sedang menyentuhnya dengan begitu mesra. Hingga, akhirnya terbangun dan menyadari kalau semua hanyalah mimpi.
"Ternyata hanya sebuah mimpi. Tidak ada siapa-siapa di sini," ucapnya dengan begitu lirih, lalu bangun untuk mengecek Kayla yang masih terlelap. "Tidur yang nyenyak Kesayangan mama," gumam Naura sambil mendaratkan kecupan di pipi chuby sang anak.
__ADS_1
Kemudian, Naura kembali ke tempat tidurnya dan memilih melanjutkan kembali tidurnya.