Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
93


__ADS_3

Andre dan Irma sedang duduk berdampingan di depan penghulu dan Budi (wali nikah Irma). Keduanya menjadi pusat perhatian orang-orang yang hadir di Mesjid Agung, tempat Andre dan Irma melaksanakan ijab qobul. Seluruh tamu yang didominasi keluarga dari kedua belah pihak begitu terpesona oleh dua sejoli itu. Irma dan Andre tampak begitu serasi dengan pakaian adat sunda yang dikenakan. Andre yang menggunakan beskap berwarna putih terlihat sangat tampan, bersanding dengan Irma yang juga memakai kebaya senada. Irma tampil sangat cantik dengan kebaya putih full payet yang digunakannya, serta siger gold dengan ukiran padat dan taburan permata disekitarnya, juga kembang goyang berwarna senada menghiasi kepala Irma yang dibalut kerudung, membuat penampilan Irma semakin menawan.


Detik-detik yang Andre tunggu pun akan segera terlaksana. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuh. Jantung pun terus menalu-nalu, semakin lama duduk di hadapan penghulu, semakin keras dan kencang jantungnya berdentang. Padahal, ia sudah menanti dan mempersiapkan matang-matang momen ini, tetapi tetap saja rasa gerogi masih menyerang. Apalagi saat Pak Penghulu menanyakan kesiapan Andre untuk melaksanakan ijab kabul, seketika jantungnya terasa mau meledak.


Setelah Andre mengangguk, Pak penghulu pun memulai acara sakral yang akan menjadi langkah awal Andre dalam kehidupan berrumah tangga. Penghulu menyuruh Andre dan Budi saling berjabatan tangan, lalu ikrar ijab kabul menggema di dalam Rumah Allah itu. Dengan satu tarikan napas, Andre berhasil mengucapkan ijab kabul dengan lantang yang langsung dijawab 'sah' oleh seluruh tamu yang hadir.


Seluruh keluarga yang mengetahui peliknya masalah sebelum pernikahan dapat bernapas lega. Acara ijab kabul bisa berjalan dengan lancar. Bahkan, Andre sampai meneteskan air mata saat mencium kening Irma. Salahsatu kebahagiaan terbesarnya adalah menikahi wanita yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.


"Terima kasih sudah mau mempertahankan hubungan kita, meskipun kamu tahu jalan kita tidak akan mudah," gumam Andre, setelah mencium kening Irma cukup lama.


Air mata juga luruh dari kedua mata Irma. Wanita itu hanya bisa mengangguk, tanpa bisa berkata-kata.


"Eh, kenapa jadi pada menangis?" tanya Penghulu yang tidak tahu masalah sepasang pengantin itu.


"Tangis bahagia, Pak." Andre menjawab dengan sembari memamerkan rentetan giginya.


Acara berlanjut dengan pembacaan doa. Setelah itu, mereka sungkem, menyalami dan meminta restu kepada kedua orang tua masing-masing secara bergantian. Air mata pun membanjiri pipi kedua mempelai saat keduanya meminta restu. Irma sampai sesegukkan saat meminta restu kepada Ranti, begitu pun dengan sang ibu. Mereka larut dalam tangis yang membuat seluruh keluarga juga menitikkan air mata.

__ADS_1


"Selamat datang di keluarga kita, Nak. Semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan." Ahmad berujar sembari mengelus kepala Irma yang sedang sungkem kepadanya.


"Terima kasih sudah menerima anak mamah yang tidak sesempurna wanita lain. Dia wanita yang rapuh, tolong jaga dia!" pinta Ranti saat Andre sungkem kepadanya dan langsung dijawab anggukkan Andre.


"Mamah bisa memercayaiku. Aku akan menjaganya melebihi dari nyawaku sendiri. Bahkan, aku rela melawan dunia untuk bersatu dengan anak Mamah." Janji Andre kepada Ranti dan sekilas melirik Irma yang sedang sungkem di hadapan Rita.


Setelah acara ijab kabul di Mesjid berjalan lancar, dua sejoli yang telah sah menjadi suami istri itu berserta para keluarga kembali ke rumah untuk melanjutkan acara selanjutnya.


***


Meskipun acara pernikahan Irma dan Andre juga dilaksanakan masih dalam masa pandemi yang belum sepenuhnya usai, tetapi acara pernikahan keduanya berbeda dengan acara pernikahan Naura dan Dimas yang hanya boleh dihadiri segelintir orang saja. Keadaan sekarang sudah lebih membaik, bahkan pernikahan Irma dan Andre sudah mendapatkan izin untuk diselenggarakan secara meriah, dengan syarat menaati protokol kesehatan yang berlaku tentunya. Prosesi pedang pora yang dilaksanakan oleh prajurit aktif yang melaksanakan pernikahan, prosesi tidak bisa diselenggarakan saat pernikahan Naura, saat ini di pernikahan Irma dan Andre bisa digelar.


"Mas, aku gugup plus takut. Kemarin waktu Ara nikah gak ada yang kayak ginian?" Irma meremas jari jemarinya, kegugupan melanda saat ia melihat dua belas prajurit mengenakan seragam lengkap dengan atribut dan pedang pora yang masih bersarung sudah berdiri di depannya.


"Tidak ada yang perlu ditakutkan." Andre menoleh ke arah Irma dengan senyum yang tertampil. Lalu, ia meraih tangan sang istri yang sudah terasa dingin dan mengaitkan tangan tersebut pada lengannya. "Adikmu kurang beruntung menikah di saat pandemi lagi gawat-gawatnya. Seharusnya ia juga merasakan hal seperti ini. Aku bisa pastikan habis ini dia nangis-nangis minta diadain pedang pora juga," bisik Andre yang dibalas seutas senyum dan cubitan kecil di lengannya. Bisa-bisanya di saat seperti itu, Andre masih saja mengejek Naura.


Pedang pora pun di mulai. Komandan regu melaporkan kepada Andre dan Irma bahwa pasukan pedang sudah siap untuk melaksanakan prosesi pedang pora. Kemudian, pasukan pun disiapkan untuk menghunuskan pedangnya ke atas, mengiringi perjalanan kedua mempelai menuju area resepsi yang juga diiringi oleh suara tambur.

__ADS_1


Setelah Irma dan Andre melewati gerbang pora, pasukan pedang pora mengiringi mereka dengan berjalan tegap dari belakang. Lalu, berlanjut dengan pasukan membuat lingkaran, mengelilingi mempelai dengan menghunuskan pedang ke atas membentuk sebuah payung yang dinamakan payung pora. Selanjutnya kedua mempelai menerima pemasangan cincin dan Irma mendapatkan seragam bhayangkari sebagai simbol bahwa dirinya siap menjadi istri seorang polisi.


Prosesi pedang pora yang menghadirkan nuansa sakral dan juga memiliki makna mendalam bagi pasangan pengantin itu pun selesai digelar. Kemudian, berlanjut dengan acara resepsi. Para tamu yang hadir pun sudah tak sabar untuk memberikan selamat kepada Irma dan Andre yang sudah berdiri di atas pelaminan dengan senyum menawan yang terus menghiasi wajah keduanya.


Berbeda dengan sepasang suami istri yang tengah menerima tamu, seorang wanita dengan menggunakan gaun merah muda tampak termangu di sebuah kursi tamu. Ia yang sejak tadi begitu semangat dengan acara resepsi, mendadak mood-nya hilang entah ke mana.


"Kamu kenapa?" tanya Dimas yang menggunakan pakaian polisi lengkap, menghampiri sang istri, lalu duduk di kursi sebelah.


Wanita itu yang tak lain adalah Naura langsung menoleh ke arah suara. Namun sejurus kemudian, ia memalingkan wajahnya lagi. Melihat sang suami yang memakai seragam polisi malah membuat dadanya semakin bergemuruh.


Tingkah Naura yang tiba-tiba merajuk tanpa sebab, padahal sebelumnya wanita itu memuji penampilannya membuat Dimas kebingungan. "Ada apa? Kok, tiba-tiba ngambek." Dimas menarik bahu Naura, membuat si istri menghadap ke arahnya. "Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Dimas lagi sembari menatap lembut sang istri hingga pandangan keduanya pun saling bertemu.


Naura tak menjawab. Lagi dan lagi ia memalingkan wajahnya dari pandangan Dimas, membuat Dimas gemas sendiri. Ia pun menangkup wajah sang istri, tak memberi ruang untuk Naura berpaling lagi. "Kenapa?" tak bosannya Dimas bertanya.


Buka jawaban yang didapat, tetapi derai air mata yang malah membanjiri pipi ibu hamil itu. Segera, ia membawa Naura ke dalam pelukannya. 'Sekarang malah menangis,' gumam Dimas dalam hati, semakin bingung saja.


"Aku benci Papol," gumam Naura di sela tangisnya.

__ADS_1


'Hah? Apa salahku?'


__ADS_2