
Setelah menunggu beberapa jam di depan ruang operasi, seorang dokter keluar dari ruangan itu. Dimas yang semenjak Naura masuk ruang operasi tidak berhenti berdoa, langsung menghampiri sang dokter dan menanyakan keselamatan istri dan anaknya.
"Alhamdulilah, kami berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di punggung istri anda. Anak anda juga telah lahir dalam keadaan selamat dan sehat," ujar Dokter itu. "Nanti kalian bisa melihat bayinya setelah kami pindahkan ke ruang bayi," lanjutnya.
Kabar dari dokter tersebut bagaikan setetes hujan di padang tandus, membuat lega seluruh keluarga yang sudah dirundung ketakutan tak berujung. Dimas dan mengucap syukur, secercah senyum tertampil di wajah mereka. Anggota baru keluarga mereka telah lahir dengan keadaan selamat.
"Tapi ...." Dokter kembali berujar dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ia tak mau meruksak kebahagiaan mereka, tetapi ada berita lain yang juga harus ia sampaikan.
"Tapi apa, Dok?" tanya Dimas yang merasakan ada gelagat tak beres dari ucapan si dokter.
Semua orang menatap lelaki berjas putih itu, menunggu dengan waswas berita selanjut yang akan diucapkan. Dokter itu pun menarik napas panjang sebelum memulai bicara.
"Kami berhasil mengeluarkan pelurunya dan anak Ibu Naura juga lahir dengan selamat. Tapi, kondisi si Ibu tidak baik-baik saja dia mengalami koma."
"Apa?!" pekik seluruh keluarga yang ada di sana.
Setelah mendapatkan setetes hujan, mereka langsung diserang badai petir yang meluluhlantahkan pertahanan mereka dengan berita yang didapat.
"Tidak mungkin." Dimas menggeleng menolak berita yang baru saja didengarnya. "Dokter pasti bercanda, kan?" tanyanya sambil mengguncang bahu dokter itu.
"Aku juga berharap ini hanya sekedar candaan. Tapi maaf, ini adalah kebenarannya."
Naura yang mendapat tembakan di punggung dengan peluru yang menembus tulang belakang dan hampir mengenai belakang jantungnya serta pendarahan hebat yang dialami, membuat alat vitalnya terganggu dan otaknya tidak bisa merespon rangsangan. Ditambah kondisi Naura yang juga harus melaksanakan operasi caesar, semakin memperburuk kondisi wanita itu.
Seketika tubuh Dimas melorot ke lantai. Ia tak punya kekuatan untuk menghadapi kenyaataan yang baru saja diterimanya. "Tidak mungkin," gumam Dimas sembari menjambak rambutnya sendiri.
Ana dan Bambang berjongkok, lalu memeluk Dimas, menguatkan lelaki itu.
"Mah, Ara, Mah! Pah, Ara!" ucapnya dengan begitu lirih, sambil memandang ayah dan ibunya bergantian.
Ana tak sanggup untuk berucap, dia memeluk erat anaknya dengan air mata yang terus berderai.
"Sabar, Sayang, semuanya pasti kembali baik-baik saja. Kamu harus kuat untuk Naura dan juga anak kalian," tutur Bambang.
Sementara itu, Irma dan Ranti juga menangis di bahu Andre. Cobaan ini sangat berat, bukan hanya untuk Dimas, tetapi seluruh keluarga.
__ADS_1
Dimas masih terduduk lemas di lantai, meratapi nasib yang tak berpihak padanya. Sampai, bayinya dipindahkan ke ruang bayi pun, Dimas masih berdiam diri di sana.
"Dim, apa kamu tidak ingin melihat bayimu?" Ana menghampiri Dimas yang masih termangu dengan tatapan kosong.
"Bayiku?"
"Ya." Ana mengangguk. "Bayimu membutuhkanmu. Dia belum diazani. Kamu azani dia, gih!"
Dimas mengangguk, tanpa berkata sepatah kata pun. Ia bangkit, langkah gontainya pergi mengambil air wudu, lalu masuk ke ruang bayi dengan didampingi seorang perawat.
"Ini, Pak, bayinya!" Perawat menunjuk box bayi dengan namanya dan Naura tertulis di box itu.
"Terima kasih."
Dimas menatap lekat-lekat bayi merah yang baru saja berjuang bersama sang mama. Senyum bahagia tertampil di bibir Dimas saat melihat bayi mungil perpaduan dirinya dan Naura, dengan bibir tipis dan hidung milik Naura terpatri di sana. Bayi perempuan nan cantik yang dilahirkan si istri tampak sedang terlelap, sangat damai.
"Selamat datang ke dunia, Sayang!" gumam Dimas, sembari menggendong dan mencium buah cintanya.
Si bayi hanya menggeliat dengan mata yang masih terpejam.
Pemandangan di dalam ruang bayi itu tak luput dari penglihatan para keluarga. Mereka memperhatikan Dimas dan bayinya dari balik kaca luar, membuat mereka juga tak bisa membendung air mata, perawat yang jaga di sana pun juga ikut menitikkan air mata.
"Cinta papa, jadilah anak yang solehah. Doakan mamamu, semoga cepat bangun biar dia bisa melihat wajah manismu ini." Dimas kembali mencium bayinya, lalu menidurkannya kembali di box.
Dimas tak langsung pergi. Ia masih bergeming, tangannya berpegangan pada pinggir box, sedangkan mata Dimas menatap kembali si bayi yang masih tertidur pulas. Air mata pun masih terus meluncur dari mata yang mulai sembab. "Ra, lihatlah anak kita sangat cantik. Kamu menang dan aku kalah. Anak kita seorang putri seperti yang kamu inginkan," gumam Dimas.
Sejurus kemudian tubuh lelaki itu melorot ke lantai, bersandar di tiang box dengan tubuh yang bergetar hebat karena tangis. ucapan-ucapan Naura terus terngiang di telinga Dimas.
"Aku ingin punya anak perempuan biar bisa aku dandanin pasti lucu dan ngegemesin," ujar Naura saat itu ketika mereka memprediksi anak yang dikandung Naura.
"Tapi, aku ingin punya anak lelaki."
"Perempuan."
"Lelaki."
__ADS_1
"Gini deh, kalau nanti anak pertama kita perempuan, aku janji gak bakalan masuk KB. Nanti kita langsung program bayi laki-laki. Ok?" imbuh Naura sembari menaik-turunkan alis.
"Biar gak penasaran kita tanya aja sama dokter."
"Enggak. Kalau udah tahu gak bakal jadi kejutan."
"Tapi kalau anak kita perempuan, kamu harus tepati janjimu. Ok!"
Naura mengangguk sembari menautkan kelingkingknya di kelingking Dimas.
Cukup lama Dimas duduk di lantai sambil memeluk kedua kakinya. Air mata terus mengalir di wajah yang bersembunyi di balik lutut. Ucapan-ucapan Naura saat mendebatkan perihal jenis kelamin anak mereka terus terlintas di kepala.
Perawat yang berjaga pun tidak berani menganggu, memilih tuk membiarkan lelaki malang itu menangis di samping box bayi dengan bayi yang masih terlelap itu.
"Ra, aku mau nagih janjimu!" Dimas mengusap air mata, lalu bangkit dan meninggalkan ruang bayi.
Kaki Dimas menuntunnya pergi ke ruangan tempat Naura berada setelah dipindahkan dari ruang operasi. Seluruh keluarga sudah berada di depan ruangan tersebut, tetapi wajah mereka tak kalah kacaunya dari Dimas. Dokter dan perawat berlarian masuk ke dalam ruangan, tanpa membiarkan satu keluarga pun yang diperbolehkan masuk.
"Ada apa ini?" tanya Dimas.
Bukannya menjawab, semua orang malah menangis. Ana kembali memeluk Dimas tanpa bisa menjawab.
"Apa kalian semua tuli? Aku bertanya, ada apa?" ujar Dimas setengah berteriak. Dari gelagat orang-orang, ia bisa menebak apa yang terjadi. Namun, pikirannya langsung menolak.
"Sa-bar ... sa-sa-bar, Sayang. Kamu harus kuat," imbuh Ana di sela tangisnya.
"Sabar apanya? Ada apa ini?"
Tidak ada yang berani menjawab.
"Kalian benar-benar sudah tuli." Dimas melepaskan pelukan Ana, lalu duduk di kursi.
"Dim ...." Andre yang sedang menenangkan Irma, menghampiri Dimas. Ia duduk di samping Dimas. "Percayalah dokter akan berjuang yang terbaik untuk Naura. Kamu harus yakin Naura akan baik-baik saja." Andre menepuk bahu Dimas.
Andre tak sanggup bila harus mengatakan kenyataan yang terjadi saat lelaki yang berpredikat ayah itu sedang berada di ruang bayi. Wanita yang dicintai Dimas beberapa saat setelah dipindahkan mengalami gagal napas, bahkan detak jantungnya sudah tidak bisa terdeteksi di monitor.
__ADS_1