Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
31


__ADS_3

Laporan medis yang didapat ketika pernikahan dengan Ryan menginjak setahun masih dipegang Irma. Ia membaca kembali laporan medis itu. Rasa sakitnya masih sama dengan saat pertama kali ia membacanya. Laporan yang membuat penghalang dirinya untuk melangkah maju. Irma terlalu takut, langkah apa pun yang akan diambil nantinya, akan tetap membuatnya terluka. Mungkin bedanya, jika ia mundur sekarang, ia akan merasakan sakit lebih awal. Namun, jika ia melangkah maju, ia akan merasakan sedikit kebahagian, tetapi sakitnya pun pasti akan jauh lebih sakit.


"Kenapa cobaan ini datang kepadaku? Kenapa aku tak sempurna seperti wanita lainnya?" ratapnya begitu lirih.


"Ya, Tuhan! Kenapa ponsel itu juga tak henti-hentinya berdering? Apa kau ingin memastikan aku menangis tidaknya?" Ponsel yang terus berdering, membuatnya semakin frutrasi. Dengan malas, ia pun meraih ponsel itu. Namun, ketika dilihat nama pemanggilnya sudah berganti nama. "Ara? Ada apa dia menelponku? Apa Mamah berbicara sesuatu padanya?"


Sebelum menerima telepon sang adik, Irma berusaha menetralkan kondisinya. Tak ingin, terdengar begitu menyedihkan di telinga adiknya yang kadang tanpa diberitahu pun, ibu hamil itu sudah lebih tahu lebih dahulu keadaan dirinya.


"Ha—" baru saja Irma akan mengucapkan 'halo', tetapi ucapannya sudah terpotong oleh pekikan suara cempreng si adik yang langsung membombardir dengan seribu pertanyaan—membuat Irma menjauhkan ponsel tersebut dari telinga.

__ADS_1


"Kakak kenapa teleponku tak kau angkat lagi? Sudah bosankah kau memiliki adik yang cerewet sepertiku, sampai-sampai setiap panggilanku tak kau hiraukan. Tega sekali kau ini! Apa terjadi sesuatu lagi padamu? Mamah bilang kamu ngunci diri di kamar? Ada masalah apa lagi? Apa Kakak habis menangis? Apa ada yang telah menyakitimu? Sini bilang sama aku, biar aku kasih pelajaran. Ngomong, Kak, jangan dipendam sendiri! Jangan bikin orang khawatir!"


'Kau memang adikku yang terbaik, selalu tanggap kapanpun aku ada masalah, meskipun aku tak pernah memberitahumu. Membuatku kadang malu menjadi seorang kakak. Harusnya aku yang melindungimu, tapi ini sebaliknya,' gumam Irma saat mendengar ocehan Naura yang begitu mengkhawatirkan keadaanya.


"Bicara pake koma, De! Nanti keselek. Lagian gimana aku mau jawab? Kalau kamu nyerocos terus," tukas Irma begitu Naura selesai bicara. "Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah jadi pas pulang langsung istirahat di kamar. Mamah hanya terlalu melebih-lebihkan. Kamu gak perlu khawatir," kilah Irma, saat Naura terus mendesak, menanyakan keadaannya.


"Gini, deh, jawab saja iya atu tidak. Jadi, Kakak gak perlu panjang lebar nyeritain semuanya," usul Naura dari seberang sana yang disetujui Irma.


"Iya." jawab Irma disela tangisnya saat sang adik melontarkan sebuah pertanyaan kepadanya. "Iya" jawabnya lagi saat Naura melontarkan pertanyaan lain.

__ADS_1


"Tapi Kakak menangis bukan karena hal itu. Mungkin karena kakak sedang PMS, jadi kakak lebih sensitif. Kamu tidak perlu khawatir, kakak baik-baik saja." Ia masih mencoba menyangkal, meskipun dirinya sudah mengakuinya sendiri.


"Kakak gak usah nangis lagi! Aku akan bereskan semuanya."


"Kamu mau ngapain, De? Kamu jangan berbuat yang aneh-aneh!" Mendengar ucapan Naura, Irma khawatir adiknya akan berbuat aneh seperti yang dilakukan kepada Ryan. "De, Kakak nangis bukan sepenuhnya karena itu. Lagian, tak ada yang perlu dipermasalahkan tentang itu. Toh, aku dan Andre gak ada hubungan apa-apa, dia bebas mau berhubungan dengan siapa pun."


"Ini masalah besar bagiku. Karena aku telah mendukungnya mendekatimu. Aku pikir dia sungguh-sungguh mencintaimu. Aku bersalah padamu, Kak! Maafkan aku!" Naura terdengar begitu menyesal. "Kakak jangan khawatir, aku akan menyelesaikannya." Tanpa sempat Irma menyanggah ucapan sang adik, telepon sudah terputus.


"Apa yang akan dilakukannya? Kenapa malah jadi semakin rumit saja? Hubunganku dengannya belum dimulai, tetapi sudah seperti benang kusut saja." Irma melempar ponselnya cukup keras (ke kasur), ia semakin dibuat frustrasi saja.

__ADS_1


__ADS_2