
Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam, akhirnya Irma sampai di toko. Raut kekesalan masih saja menempel di wajah putih wanita itu.
"Pak, tolong bawakan telur ini ke dalam, ya!" Dengan sangat ramah, Irma meminta tolong kepada tukang parkir di area pertokoan.
"Baik, Mbak!" Lelaki berumur sekitar 50 tahunan itu pun menurunkan satu peti telur dari motor Irma. "Telurnya banyak sekali, Mbak!" ucapnya lagi.
"Sekalian buat stok di rumah, Pak." Irma memamerkan rentetan gigi putihnya, mencoba membuang kekesalan yang masih menghinggapi.
"Owh pantas saja. Tapi, tumben pulang belanja siang sekali, Mbak? Mbak Ara sudah bolak-balik depan toko kayak setrikaan nungguin Mbak Irma dari tadi," ucap Tukang Parkir lagi, sambil menunjuk ke arah Naura yang sedang mondar-mandir di depan pintu toko kue.
Mata Irma pun mengikuti arah tangan tukang parkir menunjuk, dan didapatinya Naura sedang berkacak pinggang dengan mata yang seperti akan keluar dari tempatnya.
"Pak, cepat bawa telurnya ke dalam, ya! Ibu hamilnya udah bertanduk, sebentar lagi ngamuk." Pinta Irma kepada si tukang parkir yang sudah terbiasa membantu memasukkan barang belanjaannya. Sementara itu, si tukang parkir hanya tersenyum mendengar ucapan Irma. "Tepung dan gulanya nanti saja, balik lagi."
"Baik, Mbak." Lelaki tua itu pun membawa satu peti telur ke dalam toko lewat pintu belakang.
Irma sendiri berjalan ke pintu depan sambil menenteng kresek berisi barang-barang ringan. 'Senyum dulu, Ir! Jangan sampai itu ibu hamil berubah jadi singa lapar.' Irma menarik sudut-sudut bibirnya, menghampiri si adik yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sedang apa mondar-mandir di sini, De?"
"Kakak habis dari mana saja? Apa terjadi sesuatu?" Naura memeriksa keadaan Irma, bahkan sampai memutar-mutar tubuh yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Kamu apa-apaan sih, De? Pusing tahu, baru datang udah suruh muter kayak gini. Aku baik-baik saja, tapi jika kau suruh aku berputar kayak gini bisa-bisa aku kena vertigo," tandas Irma.
"Kau habis dari mana?" selidik Naura lagi.
"Apa kamu tak lihat, apa yang aku bawa?" Irma mengacungkan kresek belanjaan ke depan mata sang adik.
"Ish ...." Naura menepis kresek yang menghalangi wajahnya. "Bukan itu maksudku. Aku tahu kau pergi ke pasar, yang jadi pertanyaan kau pergi ke pasar mana? Kata mamah, Kakak pergi ke pasar pagi-pagi, kenapa tengah hari baru balik lagi. Bikin orang lain khawatir saja," cecar Naura yang begitu mengkhawatirkan kakaknya karena tak kunjung kembali. "Bahkan, aku telepon pun tak diangkat-angkat," rutuknya lagi.
"Memangnya kamu nelpon, Kakak?" tanya Irma, sembari mengecek ponselnya dan dilihatnya dua puluh lima panggilan tak tertajawab tertera di ponsel. "Eh, maaf, hp-nya kakak silent jadi gak kedengeran." Wanita itu memamerkan rentetan giginya.
"Makanya kalau punya ponsel jangan pakai gantungan kunci!" imbuh Naura sambil berjalan masuk ke toko yang juga diikuti Irma.
Tidak hanya Naura yang mencecar Irma dengan pertanyaan, begitu sampai di dapur, Ranti yang melihat Irma sebelum berangkat seperti tidak baik-baik saja juga menginterogasinya.
"Kakak, kamu baik-baik saja,'kan? Apa terjadi sesuatu di jalan, Kak? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Ranti.
"Syukurlah!" Ranti mengelus dadanya, ada rasa lega di hati.
"Gimana orang gak pada nanya, kalau ke pasar yang jarak tempuhnya cuma lima belas menit tiba-tiba menghabiskan waktu hampir empat jam," sarkas Naura. "Aku sampai berpikir, apa mungkin Sangkuriang memindahkan pasar ke Gunung Tangkuban Perahu dalam semalam, ya? Hingga Kakakku yang cantik ini tak bisa menemukan pasarnya." Naura mencubit pipi Irma saking geram akan kelakuan sang kakak.
"Kalau bicara jangan ngaco!" balas Irma sambil menyentil kening Naura. "Pas berangkat kejebak macet, muter-muter pasar juga lama. Belum lagi pas pulang kena razia. Jadi ... ya, maklum saja." Ia mencoba memberi penjelasan.
"Kena razia?" Naura memicingkan sebelah mata, menatap sang kakak penuh selidik. Jawaban Irma tak masuk di akal ibu hamil itu.
"Iya, razia. Tadi di jalan ada razia dan kakak diberhentikan," jawab Irma lagi dengan santai, tanpa merasa ada yang salah dengan jawaban yang terlontar dari mulutnya.
__ADS_1
"Beneran kena razia?" tanya Naura lagi, mamastikan.
Irma pun mengangguk pasti.
"Beneran. Kenapa nanyanya gitu amat? Kayak yang gak pernah kena razia aja," sungut Irma sembari menata barang belanjaannya. "Sudah masuk semua, Pak?" tanya Irma kepada Tukang Parkir yang baru saja selesai mengantarkan gula dan tepung.
"Sudah, Mbak."
"Terima kasih, Pak." Irma berterima kasih, tak lupa juga memberi upah kepada Tukang Parkir tersebut.
Setelah mengucapkan terima kasih, si Tukang Parkir pun undur diri.
"Tunggu, Pak! Ini buat anak-anaknya di rumah, siapa tahu suka." Naura memberikan satu kotak red pelvet kepada lelaki yang berkalung piluit tersebut.
"Enggak usah, Mbak. Ini 'kan buat jualan," tolak lelaki itu.
"Bukan buat jualan, Kok. Aku sengaja bikin karena lagi pengen saja, tapi ide Bapak bisa dipikirkan juga. Siapa tahu nanti bisa nambah menunya." Naura memberikan kue yang memang belum ada di daftar menu toko mereka.
Kegembiraan tampak jelas di mata si Tukang Parkir itu, berulang kali ia mengucapkan terima kasih kepada Naura, Irma dan Ranti. Semenjak mereka menyewa ruko di sana, tak jarang tukang parkir dan para tukang becak di sana mendapat rejeki lebih dari para wanita hebat itu.
"Kembali ke laptop!" tukas Naura dengan gaya bicara menirukan logat komedian ternama, saat tukang parkir itu sudah pergi. "Jangan mentang-mentang ada breaking news, perkara kita sudah selesai. Kalau boleh tahu, Ibu Alesha Irmania kena razia di mana? Bukannya yang ada razia itu di Jalan X, ya? Itu jauh, lho, dari pasar. Bukan jalan biasa yang suka dilewati pula, lho!" tanya Naura sembari menaik-turunkan alisnya.
Irma terjebak jawabannya sendiri. Ia lupa kalau adiknya istri seorang polisi, yang pastinya lebih tahu di mana suaminya bertugas. 'Ish ... kenapa bisa lupa?'
Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam, akhirnya Irma sampai di toko. Raut kekesalan masih saja menempel di wajah putih wanita itu.
"Pak, tolong bawakan telur ini ke dalam, ya!" Dengan sangat ramah, Irma meminta tolong kepada tukang parkir di area pertokoan.
"Baik, Mbak!" Lelaki berumur sekitar 50 tahunan itu pun menurunkan satu peti telur dari motor Irma. "Telurnya banyak sekali, Mbak!" ucapnya lagi.
"Sekalian buat stok di rumah, Pak." Irma memamerkan rentetan gigi putihnya, mencoba membuang kekesalan yang masih menghinggapi.
"Owh pantas saja. Tapi, tumben pulang belanja siang sekali, Mbak? Mbak Ara sudah bolak-balik depan toko kayak setrikaan nungguin Mbak Irma dari tadi," ucap Tukang Parkir lagi, sambil menunjuk ke arah Naura yang sedang mondar-mandir di depan pintu toko kue.
Mata Irma pun mengikuti arah tangan tukang parkir menunjuk, dan didapatinya Naura sedang berkacak pinggang dengan mata yang seperti akan keluar dari tempatnya.
"Pak, cepat bawa telurnya ke dalam, ya! Ibu hamilnya udah bertanduk, sebentar lagi ngamuk." Pinta Irma kepada si tukang parkir yang sudah terbiasa membantu memasukkan barang belanjaannya. Sementara itu, si tukang parkir hanya tersenyum mendengar ucapan Irma. "Tepung dan gulanya nanti saja, balik lagi."
"Baik, Mbak." Lelaki tua itu pun membawa satu peti telur ke dalam toko lewat pintu belakang.
Irma sendiri berjalan ke pintu depan sambil menenteng kresek berisi barang-barang ringan. 'Senyum dulu, Ir! Jangan sampai itu ibu hamil berubah jadi singa lapar.' Irma menarik sudut-sudut bibirnya, menghampiri si adik yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sedang apa mondar-mandir di sini, De?"
"Kakak habis dari mana saja? Apa terjadi sesuatu?" Naura memeriksa keadaan Irma, bahkan sampai memutar-mutar tubuh yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Kamu apa-apaan sih, De? Pusing tahu, baru datang udah suruh muter kayak gini. Aku baik-baik saja, tapi jika kau suruh aku berputar kayak gini bisa-bisa aku kena vertigo," tandas Irma.
__ADS_1
"Kau habis dari mana?" selidik Naura lagi.
"Apa kamu tak lihat, apa yang aku bawa?" Irma mengacungkan kresek belanjaan ke depan mata sang adik.
"Ish ...." Naura menepis kresek yang menghalangi wajahnya. "Bukan itu maksudku. Aku tahu kau pergi ke pasar, yang jadi pertanyaan kau pergi ke pasar mana? Kata mamah, Kakak pergi ke pasar pagi-pagi, kenapa tengah hari baru balik lagi. Bikin orang lain khawatir saja," cecar Naura yang begitu mengkhawatirkan kakaknya karena tak kunjung kembali. "Bahkan, aku telepon pun tak diangkat-angkat," rutuknya lagi.
"Memangnya kamu nelpon, Kakak?" tanya Irma, sembari mengecek ponselnya dan dilihatnya dua puluh lima panggilan tak tertajawab tertera di ponsel. "Eh, maaf, hp-nya kakak silent jadi gak kedengeran." Wanita itu memamerkan rentetan giginya.
"Makanya kalau punya ponsel jangan pakai gantungan kunci!" imbuh Naura sambil berjalan masuk ke toko yang juga diikuti Irma.
Tidak hanya Naura yang mencecar Irma dengan pertanyaan, begitu sampai di dapur, Ranti yang melihat Irma sebelum berangkat seperti tidak baik-baik saja juga menginterogasinya.
"Kakak, kamu baik-baik saja,'kan? Apa terjadi sesuatu di jalan, Kak? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Ranti.
"Syukurlah!" Ranti mengelus dadanya, ada rasa lega di hati.
"Gimana orang gak pada nanya, kalau ke pasar yang jarak tempuhnya cuma lima belas menit tiba-tiba menghabiskan waktu hampir empat jam," sarkas Naura. "Aku sampai berpikir, apa mungkin Sangkuriang memindahkan pasar ke Gunung Tangkuban Perahu dalam semalam, ya? Hingga Kakakku yang cantik ini tak bisa menemukan pasarnya." Naura mencubit pipi Irma saking geram akan kelakuan sang kakak.
"Kalau bicara jangan ngaco!" balas Irma sambil menyentil kening Naura. "Pas berangkat kejebak macet, muter-muter pasar juga lama. Belum lagi pas pulang kena razia. Jadi ... ya, maklum saja." Ia mencoba memberi penjelasan.
"Kena razia?" Naura memicingkan sebelah mata, menatap sang kakak penuh selidik. Jawaban Irma tak masuk di akal ibu hamil itu.
"Iya, razia. Tadi di jalan ada razia dan kakak diberhentikan," jawab Irma lagi dengan santai, tanpa merasa ada yang salah dengan jawaban yang terlontar dari mulutnya.
"Beneran kena razia?" tanya Naura lagi, mamastikan.
Irma pun mengangguk pasti.
"Beneran. Kenapa nanyanya gitu amat? Kayak yang gak pernah kena razia aja," sungut Irma sembari menata barang belanjaannya. "Sudah masuk semua, Pak?" tanya Irma kepada Tukang Parkir yang baru saja selesai mengantarkan gula dan tepung.
"Sudah, Mbak."
"Terima kasih, Pak." Irma berterima kasih, tak lupa juga memberi upah kepada Tukang Parkir tersebut.
Setelah mengucapkan terima kasih, si Tukang Parkir pun undur diri.
"Tunggu, Pak! Ini buat anak-anaknya di rumah, siapa tahu suka." Naura memberikan satu kotak red pelvet kepada lelaki yang berkalung piluit tersebut.
"Enggak usah, Mbak. Ini 'kan buat jualan," tolak lelaki itu.
"Bukan buat jualan, Kok. Aku sengaja bikin karena lagi pengen saja, tapi ide Bapak bisa dipikirkan juga. Siapa tahu nanti bisa nambah menunya." Naura memberikan kue yang memang belum ada di daftar menu toko mereka.
Kegembiraan tampak jelas di mata si Tukang Parkir itu, berulang kali ia mengucapkan terima kasih kepada Naura, Irma dan Ranti. Semenjak mereka menyewa ruko di sana, tak jarang tukang parkir dan para tukang becak di sana mendapat rejeki lebih dari para wanita hebat itu.
"Kembali ke laptop!" tukas Naura dengan gaya bicara menirukan logat komedian ternama, saat tukang parkir itu sudah pergi. "Jangan mentang-mentang ada breaking news, perkara kita sudah selesai. Kalau boleh tahu, Ibu Alesha Irmania kena razia di mana? Bukannya yang ada razia itu di Jalan X, ya? Itu jauh, lho, dari pasar. Bukan jalan biasa yang suka dilewati pula, lho!" tanya Naura sembari menaik-turunkan alisnya.
Irma terjebak jawabannya sendiri. Ia lupa kalau adiknya istri seorang polisi, yang pastinya lebih tahu di mana suaminya bertugas. 'Ish ... kenapa bisa lupa?'
__ADS_1