
Naura dan Dimas merayakan ulang bulan pernikahan mereka dengan saling menyuapi kue yang dibuat oleh Naura. Meskipun bentuknya nyeleneh, tetapi soal rasa, Dimas memberikan nilai sempurna untuk sang istri. Diselangi dengan canda tawa, mereka menikmati kue itu—membuat penghujung hari mereka penuh dengan kebahagiaan nan romantis.
Namun, canda tawa Naura berubah ketika sebuah telepon masuk ke ponselnya.
"Bentar, Papol, ada yang nelpon." Naura menghentikan tangan Dimas yang hendak menyuapinya, lantas wanita itu menerima panggilan yang masuk.
Mulanya, Naura masih tampak biasa saja, senyumnya masih bersinar saat menerima panggilan itu. Namun, sejurus kemudian wajahnya berubah.
"Ada apa?" tanya Dimas, saat melihat perubahan raut wajah sang istri.
Naura tak menjawab. Ia malah menempelkan telunjuk di bibir Dimas, meminta lelaki itu untuk diam.
"Memang, kenapa Kakak ngunci diri di kamar, Mah?" tanya Naura kepada si penelpon yang tak lain adalah Ranti.
__ADS_1
"Dia melihat Andre memeluk seorang wanita di depan rumah. Apa ini salah satu rencana dari kalian? Bukankah sudah mamah bilang jangan melibatkan wanita dalam rencana kalian. Kamu tahu sendiri, kakakmu habis dikhianati, yang ada entar malah dia berpikir semua laki-laki sama." Dari seberang sana Ranti berujar dengan panjang lebar.
"Maksud Mamah gimana? Andre memeluk siapa? Gak ada rencana kayak begituan. Aku berani sumpah, Mah. Mana mungkin Mamah Ana buat ide yang malah akan buat suasana makin runyam."
"Memeluk siapa, mamah gak tahu. Yang pasti mereka mesra sekali. Mamah juga melihatnya. Mamah tak berani menegur, karena takut itu rencana kalian."
"Tidak ada rencana seperti itu. Mamah gak usah khawatir aku akan membereskannya. Awas saja kalau dia main-main dengan kakakku!" Ia dibuat geram oleh kabar yang didapatnya.
Setelah mendengar kabar itu, Naura pun langsung menghubungi Irma. Beberapa kali ia menghubungi nomor yang sama, tetapi tak ada satu pun yang tersambung.
"Tersambung," gumam Naura, saat panggilan tersambung, tanpa menjawab pertanyaan si suami.
Merasa dianggurkan, Dimas hanya bisa membuang kasar napasnya sembari menebak-nebak duduk permasalahan yang terjadi. "Pasti si Andre buat masalah. Naura sampe ngangguri aku kayak gini," omelnya sambil mengunyah kasar kue yang ada di mulut.
__ADS_1
Sementara itu, Naura yang panggilannya baru tersambung langsung memborbardir Irma dengan berbagai pertanyaan, lalu berbicara dengan begitu lembut memberikan pengertian kepada si kakak yang terdengar sangat terguncang. Bahkan, tangis pilu begitu mengiris hati Naura, membuat emosi si ibu hamil untuk Andre tak terkontrol. 'Kenapa jadi seperti ini, sih?' rutuk Naura dalam hati.
"Sahabatmu cari gara-gara, aku harus kasih dia pelajaran!" ujar Naura begitu selesai menelpon Irma.
"Apa yang dia lakukan?" Meskipun Dimas sedikit bisa menerka permasalahan dari perbicangan sang istri, tetapi ia ingin mendengar langsung dari mulut yang beberapa waktu lalu ia bilang seksi itu. Sebenarnya, ia tak percaya juga kalau Andre melakukan hal seperti yang diceritakan Irma dan ibu mertuanya. Dimas tahu betuo, sebesar apa Andre menyukai kakak iparnya. 'Sepertinya ada salah paham diantara mereka. Tapi, siapa pula yang dipeluk Andre?'
"Nanti aku jelaskan di jalan. Ayo, berangkat!" ucap Naura sambil menarik tangan Dimas.
"Apa aku berangkat seperti ini? Sebaiknya aku ganti baju dulu, Honey!" ucap Dimas yang masih memakai baju koko, sarung dan kopeah.
"Enggak perlu, kelamaan."
Tak ada lagi yang bisa diperbuat Dimas, selain mengalah. Lelaki itu pun menuruti perintah sang istri, daripada dirinya harus mendapat amukkan Naura, yang jika sudah mengamuk melebihi singa lapar.
__ADS_1
Setiba di depan rumah Andre, Naura langsung menerobos masuk ke rumah yang tidak di kunci itu. Ia yang dilanda emosi dibuat terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya. Membuat wanitu itu tak bisa menahan diri saat melihat Andre benar-benar bersama seorang wanita, bahkan Andre berada dalam posisi yang membuat orang bisa salah paham.
"Andre!" teriak Naura sambil mengguyurkan air dari wadah ikan koki ke kepala orang yang disebutnya.