
9
"Ini mah yang ada gue yang dijadiin rempeyek sama Kak Andre," rutuk Friska begitu sampai ke rumah yang sudah tampak sepi.
Setelah memasukkan motor ke garasi, dengan langkah seribu ia lantas masuk ke rumah. Keadan rumah sudah sangat sepi, bahkan beberapa lampu sudah mati.
"Sepertinya mereka sudah tidur. Tapi, itu lebih baik ketimbang ketahuan kalau aku baru sampai rumah jam setengah sebelas."
Di ruangan yang hampir tidak ada cahaya, Friska pun berjalan mengendap-endap supaya tidak membangunkan si pemilik rumah. Namun, saat sampai di ruang tengah Friska dikejutkan oleh ruangan yang tiba-tiba menjadi terang benderang, hingga menampakkan seseorang yang memakai kolor berwarna hijau sedang berdiri di dekat saklar lampu dan tepat berada di hadapannya dengan tatapan tajam yang tertuju padanya.
"Eh, copot-copot! Ada Setan, kolor ijo, dedemit, kuntilanak. Pait-pait …." Friska yang terkejut, spontan mengabsen nama-nama hantu Indonesia sambil menutup kedua matanya.
"Kau kira aku setan, hah?" Andre langsung menjitak kening Friska.
Perlahan Friska membuka matanya dan dilihat baik-baik lelaki yang ada di hadapannya. Ia bernapas lega ternyata itu adalah Andre "Mirip juga sih, sama-sama pakai kolor ijo," celetuk Friska yang membuatnya mendapat jitakkan kedua kalinya dari Andre.
"Kau ini, ya! Beli coklat dari mana? Jam segini baru pulang? Kau itu kalau sudah dikasih motor selalu saja lupa diri, pasti kelayaban dahulu! Seharusnya—" Andre yang sedang bicara panjang lebar tiba-tiba disumpal oleh sebungkus coklat ukuran 95 gram.
"Sttt ....! Diamlah gue itu cape abis ngabulin ngidammu yang aneh itu. Terlalu banyak drama yang aku lewati, harusnya gue yang mencak-mencak sama Kakak." Tidak mau dirinya dahulu yang dapat semprot, Friska balik memarahi Andre.
Andre yang belum selesai bicara pun langsung mengambil benda yang menghalangi mulutnya, kemudian berbicara lagi, "Sa—"
__ADS_1
Sambil berkacak pinggang, lagi-lagi Friska memasukkan sebungkus coklat ke mulut kakaknya, membuat Andre langsung terdiam kembali. "Sudah kubilang gue dulu yang ngomong. Kakak tahu tidak, gara-gara kakak, gue itu kejebak di jalan sepi dan hampir aja mati ketakutan," ucap Friska dengan penuh drama.
"Memangnya apa yang terjadi?"
Friska pun menceritakan kronologis saat dirinya kehabisan bensin di jalan pintas tadi dan tentunya dengan sedikit bumbu agar terdengar lebih dramatisasi. Andre yang mendengar penuturan Friska yang tadinya ingin marah-marah langsung melunak. Ia merasa bersalah karena telah membuat adiknya kesusahan dan pastinya sangat ketakutan karena di sana juga rawan kejahatan.
"Tapi, kamu tidak apa-apakan?" tanya Andre sambil memegang bahu Friska dan memutar-mutar tubuh adiknya, memastikan tidak terjadi sesuatu pada Friska.
"Aku tidak apa-apa." Friska mengempaskan tangan yang memutar-mutar tubuhnya, sambil memelototi Andre. "Aaaa ... Kakak!!!"
Sejurus kemudian, Friska berteriak sangat kencang. Ia yang memelototi Andre, menyadari sesuatu yang tadi tidak disadarinya karena sibuk berakting agar tidak dimarahi karena telat sampai rumah. Akan tetapi, sekarang Friska bisa melihat dengan jelas tanda-tanda kemerahan di leher dan beberapa bagian tubuh lain Andre yang terekspos bebas karena lelaki itu hanya memakai kolor saja. Friska bukanlah anak kecil yang tidak tahu bekas apa yang dilihatnya sekarang.
"G*la kau ini, Kak! Di saat gue kesusahan demi coklat yang kau bilang bakal bikin twins ngences, bahkan gue kena semprot kasir karena gak bisa bayar gara-gara dompet ketinggalan. Gue juga harus dorong motor ampe berkilo-kilo dan tega-teganya kau malah asyik main kuda-kudaan di rumah. Sialan banget kau itu, Kak!" Friska kembali berkacak pinggang, kali ini ia benar-benar kesal oleh ulah calon bapak si kembar itu. "Makan noh coklat!" Friska melemparkan sisa coklat yang masih di dalam kresek ke dada Andre, lalu pergi.
"Masih nanya apa salahmu?" Friska kembali berbalik berbalik saat mendengar pertanyaan Andre. "Sungguh terlalu," lanjutnya sambil membuang muka, lalu pergi.
Sementara itu, Andre yang melihat kekesalan sang adik malah tertawa terbahak-bahak. "Salah sendiri lama sekali. Sambil nunggu coklat, ya, mending minum susu dulu." Sambil bersiul ria, Ia pun kembali ke kamar dengan lima coklat di tangan.
Beberapa jam yang lalu setelah kepergian Friska untuk memberi coklat, Andre menyunggingkan senyum dengan sejuta arti yang membuat Irma kedua alis Irma mengkerung.
"Kenapa aku merasa ada bau sesuatu, ya?" Irma lantas mendekati Andre sambil mengendus-enduskan hidungnya ke dekat tubuh Andre.
__ADS_1
"Bau, apa, Bu?" tanya Andre dengan tawa yang sudah tidak bisa ditahannya.
Melihat Andre yang tertawa terbahak-bahak, membuat Irma yakin kalau dugaannya itu benar adanya. Sebuah cubitan pun mendarat keras di perut Andre, hingga lelaki itu meringis kesakitan.
"Aww ... kenapa dicubit, sih, Bu?" protes Andre.
"Baba itu jahat. Tega sekali ngerjain Friska. Kasihan tahu dia, malam-malam gini harus nyari coklat." Irma merutuki kejahilan suaminya itu.
"Kenapa jadi baba yang jahat? Dia, lho, yang jahat. Dia yang abisin coklat baba," jawab Andre, dengan raut wajah seperti orang tertindas. "Padahal, sepanjang perjalanan baba udah bayangin makan coklat seperti di mobil tadi," lanjutnya seraya berbisik di telinga Irma.
"What?"
Andre yang memiliki tingkat kemesuman di atas Dimas, sepanjang perjalanan ia sudah merencanakan acara malam kedua buka puasanya. Dimulai dengan memakan coklat manis yang akan ia padupadankan dengan bibir si istri yang manisnya tiada duanya, hingga berlanjut sampai mereguk madu yang manisnya terasa sampai ke surga. Namun, saat sampai di rumah semuanya ambyar karena si coklat sudah raib di makan Friska.
"No what-what," jawab Andre sekenanya sambil mengangkat tubuh Irma. "Sebelum coklatnya datang bolehlah kita pemanasan dulu! Mumpung enggak ada orang, lebih aman," lanjut Andre sambil menaik-turunkan alisnya.
Andre membawa Irma ke kamar. Irma yang sejatinya juga menginginkan itu, tidak sedikit menolak ajakan Andre. Bahkan, Irma yang mengalungkan tangannya di leher sang suami dengan berani mencium bibir Andre.
"Tanpa coklat pun masih tetap manis," ujar Andre yang membuat keduanya tertawa.
Sepasang suami istri itu pun, tanpa memedulikan Friska yang sedang kesusahan, keduanya malah asyik bercumbu saling memuaskan dan menyalurkan hasrat yang membara. Keduanya menyelami lautan cinta dengan sejuta peluh yang menjadi bukti penyatuan cinta mereka. Bahkan, keduanya meninggalkan banyak jejak kepemilikan di tubuh setiap pasangan.
__ADS_1
***
"Kak Andre, sialan ...! Ya, Tuhan. Baru setengah hari saja gue sudah dikerjain habis-habisan oleh kakak tak tahu akhlak itu. Bagaimana dengan nasib gue tiga bulan ke depan?" Friska menjatuhkan tubuhnya ke kasur dengan bantal yang sengaja ditutupkan di wajah. "Dia abis ***-***, sedangkan gue? Gue hampir aja digondol wewe gombel. Gue mau dia membayar semua perbuatannya dan gue tahu betul apa yang gue inginkan dari kakak tak berakhlak itu," gumam Friska dengan senyum smirk yang menghiasi wajah.