
Jam kerja kantoran sudah tiba, para karyawan di perusahaan milik Bara pun mulai berbenah untuk pulang. Begitu juga dengan Friska, setelah membereskan tugas yang diberikan Bara, ia pamit untuk pulang.
"Tunggu, Fris!" Bara menghentikan langkah Friska yang hendak keluar dari ruangan direktur, membuat Friska langsung berbalik.
"Iya, Pak. Apa ada kerjaan Friska yang salah?" tanya Friska. Ia takut ada kesalahan yang telah dilakukannya.
"Jam kerja sudah selesai, tidak perlu memanggilku bapak. Sini duduk sebentar!"
Friska pun langsung menuruti sahabat kakaknya itu. Ia kembali duduk di kursi. "Apa pekerjaan Friska tidak benar, ya, Kak?" tanya Friska lagi.
Bara menggeleng dengan senyum tipis yang menghiasi bibir berkumis tipisnya. "Gimana kerja di sini? Apa betah?" tanya Bara kemudian, yang dijawab anggukan oleh Friska.
"Apa pekerjaan dari kakak terlalu menguras tenagamu?" tanyanya lagi.
"Maksudnya?" Orang yang diberi pertanyaan malah kebingungan sendiri.
"Iya, siapa tahu kakak terlalu memporsir tenagamu sehingga kamu terlalu lelah. Kakak enggak mau, nanti ada yang bilang kalau kakak mempekerjakan mahasiswa magang seperti pekerja rodi yang tidak manusiawi," ucapnya dengan mata yang masih fokus pada komputer dan jemari yang sibuk menulis tulisan di layar dari keyboard.
Pertanyaan dan penjelasan yang cukup aneh. Namun, dengan segera Friska membantahnya karena memang Bara tidak pernah memporsir tenaga Friska.
"Tadi ada yang komplain dan meminta sama kakak untuk tidak terlalu memporsir tenagamu," jelas Bara.
"Maksudnya gimana?"
"Entahlah. Kakak juga bingung. Mungkin dia sedang PMS, jadi bicaranya agak ngawur. Perasaan Kakak tidak pernah memporsir tenagamu, bahkan meminta lembur pun kakak belum pernah," tutur Bara lagi. "Sudahlah tidak perlu dibahas lagi yang penting kamu nyaman dan tidak merasa dikekang atau terbebani oleh pekerjaan di sini itu sudah cukup. Mau pulang kan? Ya sudah sana!" Bara mempersilakan Friska untuk pulang.
__ADS_1
Ucapan-ucapan Bara membuat Friska dipenuhi oleh banyak pertanyaan, tetapi ia sungkan untuk bertanya dan memilih untuk pamit. 'Apa maksud dari ucapan Kak Bara, ya?' Hingga keluar dari gedung perusahaan pun, pertanyaan itu masih ada di kepala Friska. Ia masih memikirkan siapa yang mengatakan hal itu kepada Bara.
"Tau ah ... mending pulang," gumam Friska.
Ia yang sudah keluar gerbang, lantas mengembangkan senyumnya saat melihat seseorang yang dikenalnya berada di seberang jalan. Orang itu tampak sedang mengotak-atik ponsel dan sebuah panggilan pun tersambung kepada Friska. Orang di atas sepeda motor itu menelpon Friska.
"Aku baru sampe, kamu di mana?" tanyanya, begitu panggilan tersambung.
"Iya, aku melihatmu. Kamu tunggu di situ, aku akan ke sana," ucap Friska sambil melambaikan tangan ke arah Krisna yang berada di seberang jalan.
Dengan mata yang mata yang masih tertuju pada Krisna, Gadis yang memakai rok selutut dan jas itu pun lantas melangkah untuk menyebrang, tanpa memerhatikan keadaan jalanan yang cukup ramai.
"Fris, jangan dulu nyebrang banyak kendaraan," ucap Krisna yang melihat banyak kendaraan yang lewat, hingga mata Krisna tertuju pada sebuah motor yang melaju dengan ugal-ugalan dengan jarak yang sangat dekat Friska.
"Fris, awas!" Suara teriakan lain juga terdengar dari dekatnya.
Kedua teriakan itu pun menyadarkan Friska, hingga ia melihat sebuah motor sudah berada tepat di dekatnya. Tidak ada waktu lagi untuk menghindar.
"Aaa ...." teriak Friska, sembari menutup kedua matanya.
Sebuah benturan keras pun tidak dapat dihindarkan. Motor sport berwarna hitam dengan kecepatan tinggi itu tidak bisa menghindar lagi dan menabrak apapun yang ada di depannya. Kendaraan yang sedang melintas pun langsung berhenti, bahkan orang-orang di sekitar kantor sampai berhambur keluar untuk melihat apa yang terjadi. Jalanan aspal yang tadinya berwarna hitam, seketika berubah menjadi berwarna merah dengan tubuh di atasnya yang sudah tidak sadarkan diri karena terpental sangat jauh.
"Fris, kamu tidak apa-apa?" tanya Ryan, kepada gadis yang matanya masih terpejam.
Mendengar suara orang yang sangat dikenalnya, perlahan Friska membuka mata. 'Apakah ini halusinasi?' tanya Friska dalam hati saat menyadari dirinya sedang berada dalam dekapan Ryan. 'Kenapa tabrakannya tidak terasa sakit? Apa aku sudah mati?' tanyanya lagi, mengingat kendaraan tadi hanya tinggal beberapa senti saja dari tubuhnya. 'Tapi, kenapa harus dia yang aku lihat pertama kali bahkan setelah kematianku? Sebesar itukah cintaku padanya?' Hatinya terus bergumam dengan air mata yang mulai menetes, meratapi cinta yang harus dipendamnya bahkan sampai ajal menjemput.
__ADS_1
Sementara itu, lelaki yang sedang mendekap Friska tampak sedang menangkup kedua pipi Friska saat gadis yang masih shock itu menatapnya dengan tatapan kosong serta air mata yang mulai membasahi pipi.
"Jangan menangis! Kamu tidak apa-apa, kamu sudah aman." Ryan mengusap air mata Friska, lalu memeluknya lagi. "Jangan menangis lagi, semuanya baik-baik saja," lanjut Ryan yang malah membuat tangis Friska semakin menjadi.
'Ya, Tuhan. Kenapa pelukan ini terasa sangat nyata?' gumam Friska dalam hati.
"Fris, kamu tidak apa-apa, kan?" Tiba-tiba seseorang yang tidak kalah mengkhawatirkan Friska, menarik gadis itu dari pelukan Ryan. "Mana yang sakit? Apa ada yang luka?" tanyanya lagi sambil mengamati keadaan Friska yang tampak baik-baik saja, tetapi Friska menangis sangat kencang.
"Kris ... apa kamu juga ikut denganku ke alam baka?" tanya Friska di sela tangisnya.
"Alam baka?" Krisna tidak mengerti dengan yang diucapkan adik rekan kerjanya itu
"Iya. Bukankah aku sudah mati?"
"Apa?" teriak Krisna dan Ryan secara bersamaan begitu mendengar ucapan Friska.
"Fris, kamu masih hidup. Dia telah menolongmu dan kamu selamat!" Krisna menunjuk Ryan yang ada di belakang Friska. Ya, sepersekian detik saat motor itu akan menabrak Friska, dengan cepat Ryan menarik tubuh Friska ke dalam pelukannya dan menjauhkan gadis itu terbebas dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawa itu.
"Jadi aku belum mati?" tanya Friska kembali, mencoba memastikan, dan dijawab anggukan Krisna. "Alhamdulilah ... aku masih selamat!" Tanpa sadar Friska langsung memeluk Krisna. "Aku pikir aku sudah mati. Terima kasih sudah menyelamatkanku," tandasnya lagi.
Krisna yang tiba-tiba dipeluk hanya mematung, begitu pun dengan lelaki yang ada di hadapan mereka. Aliran darah Ryan terasa berhenti saat melihat Friska malah memeluk lelaki berseragam polisi tersebut. Ia tidak sanggup melihat pemandangan itu, hingga memilih untuk meninggalkan mereka.
"Kamu salah kalau berterima kasih kepadaku. Seharusnya kamu berterima kasih kepada orang di belakangmu. Dia yang sudah menolongmu," ucap Krisna.
Namun, Friska seolah tidak mendengar ucapan Krisna dan malah semakin memeluk Krisna dengan erat.
__ADS_1