
Di saat dua sejoli sedang menikmati sunset di pinggir pantai dengan sejuta kebahagiaan dan senyum yang terus mengembang, lain halnya dengan seseorang yang masih tertinggal di rumah Ranti. Naura tampak sedang duduk termangu di depan televisi dengan remote yang terus dimainkan, memencet asal mencari saluran yang mungkin bisa mengalihkan kekesalan hatinya.
Sementara itu, Dimas baru saja sampai di rumah mamah mertuanya itu menjelang magrib. Dengan wajah kusut, ia buru-buru turun dari mobil. Ia bisa bayangkan kekesalan menggunung sang istri. Tadi pagi saja saat Dimas berangkat, Naura sudah sebegitu marahnya, apalagi ditambah dengan ia yang pulang terlmabat. Sudah pasti tidak akan gampang membujuk wanita hamil itu.
Dimas bergegas masuk ke rumah, setelah pintu dibuka sang mamah mertua dan menyalaminya.
"Istrimu sejak kepergian kakaknya kayak orang yang kehilangan gairah hidup. Bibirnya saja sudah kayak kerucut," ujar Ranti yang tidak tahu menahu masalah yang menimpa anak dan menantunya. Karena saat keributan itu, Ranti masih berada di dalam rumah Andre.
"Mungkin dia juga ingin refreshing, Mah," jawab Dimas dengan seutas senyum, lalu menghampiri sang istri yang masih ada di depan televisi. "Malam Sayang, maaf aku jemputnya telat." Dimas merangkul dan mencium kening Naura, lalu duduk di samping Naura.
Naura hanya menatap jengah Dimas sembari mengelap kasar bekas bibir sang suami di keningnya, tanpa menjawab sepatah kata pun.
Bukannya marah, Dimas malah tersenyum mendapati sikap Naura yang masih jutek. "Aku mandi dulu. Setelah magrib kita pulang, ya!" lanjut Dimas. "Jangan manyun terus nanti aku gak tahan pengen nyosor," bisik Dimas, sebelum ia beranjak dari hadapan sang istri dan dijawab delikkan oleh Naura. Wanita itu benar-benar mogok bicara kepadanya.
Setelah salat magrib, Dimas dan Naura berpamitan kepada Ranti untuk pulang. Ranti sempat meminta anak dan menantunya untuk makan malam bersama, tetapi mereka menolak.
Diamnya seorang wanita itu lebih angker daripada berdiam diri di kuburan, seperti itulah yang Dimas rasakan. Semenjak pulang sampai di dalam mobil tak ada kata yang keluar dari mulut Naura. Bahkan, wanita itu tampak sangat muak melihat wajah sang suami yang terus merayu dan mengajaknya bicara.
"Sayang, sampai kapan kamu mau mendiamkanku? Apa tidak kasian dari tadi aku udah kayak radio ruksak, berbicara ke sana ke mari sendirian?" Dimas menoleh ke arah sang istri yang tampak sedang menikmati keindahan malam dari balik kaca mobil.
Naura hanya menoleh sekilas ke arah Dimas, lalu membuang muka kembali.
Huft! Dimas hanya bisa membuang napas kasar. Seharusnya ia sudah tahu konsekuensi membuat sang istri marah. Ya, seperti inilah kejadiannya.
Puas menikmati kerlap-kerlip lampu sepanjang perjalanan yang dilewati, membuat mata Naura mulai terasa berat. Rasa kantuk mulai menyerang si ibu hamil itu, hingga akhirnya perlahan matanya pun terpejam.
__ADS_1
"Semoga setelah ini kamu tidak marah lagi." Dimas memandang sembari mengusap lembut pucuk kepala wanita yang sudah tertidur itu. Sambil geleng-geleng, senyum Dimas tertampil mengingat kemarahan sang istri sekaligus sesuatu yang sudah ia siapkan. "Aku mencintaimu! Jangan marah lagi, ya!"
Dimas terus mengendarai mobil. Di persimpangan menuju kediamannya, tanpa ragu ia malah mengambil jalan lurus— membelah jalanan yang masih ramai oleh pengendara. Sejak awal, lelaki yang memakai hoodie tersebut memang tak berniat untuk pulang ke rumah.
Setelah memakan waktu berkendara hampir 1,5 jam, Dimas sampai di suatu tempat yang langsung di sambut suara deburan ombak. Sementara itu, Naura masih sibuk dengan mimpi indahnya.
"Sayang, bangun kita sudah sampai!"
Setelah menepikan mobil, Dimas membangunkan Naura yang tampak sangat pulas. Tidak ada pergerakkan, wanita itu benar-benar sudah sangat pulas. Dimas pun mendekati pemilik wajah yang sangat menggemaskan itu, lalu meniup telinganya. Cara ampuh yang selalu digunakan si istri kalau sedang membangunkan Dimas, berharap itu juga berlaku bagi wanita di hadapannya. Berhasil. Pergerakkan angin yang masuk dan menyentuh area telinga, perlahan membuat otak dan tubuh Naura merespon.
"Mmmm ...." Meskipun begitu, Naura masih enggan tuk terbangun. Ia malah menutup telinga yang sedang di mainkan Dimas. Tidak hanya tiupan, tetapi juga sentuhan-sentuhan kecil yang membuat Naura geli. "Aku ngantuk. "
"Sayang, bangun kita sudah sampai!" ulang Dimas seraya berbisik. "Lihatlah kita ada di mana?"
"Di depan rumah," gumam Naura dengan suara parau dan malas.
"Sayang apa kamu masih tak mau bangun? Aku bangunkan dengan cara lain, mau?" Sekarang ia mulai dilanda frustrasi, haruskah surprisenya gagal total karena sang istri yang masih tetap merajuk meskipun keinginannya sudah terpenuhi.
Naura sendiri masih enggan tuk membuka mata. Sebagai hukuman kepada Dimas karena telah mengabaikannya seharian, ia sudah bertekad sebagaimana pun lelaki itu menggoda dan merayunya, tidak akan cepat terbujuk, meskipun bunyi ombak terus memintanya untuk segera membuka mata. Bahkan Dimas sudah membuat dua kiss mark di leher Naura dan itu berhasil membuat wanita itu cenat-cenut gak karuan, menahan diri.
"Beneran gak mau bangun? Ya, sudah kita balik lagi saja." Dimas kembali ke posisi duduknya setelah mencoba membujuk Naura untuk terjaga dengan berbagai cara, tetapi gagal. Hingga memilih menghidupkan mobil lagi.
"Emang gak cape bolak-balik?" Naura menyipitkan kedua matanya, menatap sang suami yang sedang berpura-pura hendak menjalankan mobil kembali.
"Akhirnya bangun juga," ujar Dimas dengan senyum yang mengembang. "Lihatlah kita ada di mana?" Ia menunjuk ke arah pantai yang hanya beberapa meter dari tempat mereka berada.
__ADS_1
"Di pantai," jawab Naura, ketus, lalu keluar mobil tanpa menoleh sedikit pun ke arah sang suami.
Senyum Dimas memudar. Ia membuang napas kasar, menyadari sang istri masih kesal kepadanya. Padahal ia sudah berusaha memenuhi keinginan Naura di tengah-tengah harinya yang sangat sibuk karena sebuah kecelakaan yang harus ditangani.
"Terima kasih. Aku sayang Papol!" Namun tiba-tiba suara Naura mengejutkan Dimas. Ia memeluk lelaki itu dari belakang saat sedang menutup pintu mobil.
Senyum Dimas mengembang kembali begitu mendapati tangan sang istri melingkar di perutnya. Ia mengurai pelukkan itu, lalu menghadap Naura yang juga sedang tersenyum ke arahnya dengan kedua tangan yang saling menggenggam.
"Sudah enggak marah?"
"Memang siapa yang marah? Aku cuma pengen buat Papol kesel. Masih untung aku gak buat Papol nangis biar impas."
"Kau ini ...." Dimas mencubit hidung Naura, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukkannya.
"Maaf, aku kayak anak kecil, ya? Merengek-rengek hanya ingin pergi berlibur, padahal aku tahu kamu pasti sangat lelah sudah bekerja. Dan, sekarang harus bela-belain datang ke mari." Naura berujar seraya mengeratkan pelukkannya.
Entah mengapa sikap manjanya kepada sang suami semakin ke sini semakin menjadi saja. Ia selalu ingin berada di dekat Dimas dan menjadi prioritas utama. Serakah dan kekanak-kanakkan, Naura sadar itu, tetapi ia tidak bisa mengontrol diri. Bahkan, beberapa waktu lalu saat ia izin untuk tidur bersama Irma pun pada ujung-ujungnya kembali ke kamar karena tidak bisa tidur nyenyak tanpa ada Dimas di dekatnya.
"Kenapa ngomongnya gitu? Bagiku memenuhi keinginanmu itu memiliki kepuasaan tersendiri."
"Iya, karena abis itu mau kamu juga aku penuhi," jawab Naura seraya mendongak melihat wajah sang suami yang sedang memamerkan rentetan gigi.
"Nah, itu, tahu. Lagian dari kemarin malam aku cuma bilang enggak bisa berangkat bareng sama Andre dan Kak Irma, bukan berarti tidak bisa berangkat ke sini kan? Kamu saja yang baperan," ucap Dimas sambil mencubit lagi hidung Naura. "Tapi, hampir kecewa juga sih saat kamu tidak antusias lagi dan malah asyik pura-pura tidur," lanjutnya.
"Kan biar satu sama," jawab Naura sambil menjulurkan lidah dengan seringai lebar yang juga menghiasi wajah. Lalu melepaskan pelukkannya dan meninggalkan Dimas yang masih mematung di dekat mobil.
__ADS_1
"Mau ke mana?"
"Cari hiburan." Naura berujar sambil terus berjalan tanpa menoleh.