
"Kalau gitu langkahi dulu mayatku?"
Suara Rita menggema di ruang tamu, membuat semua orang terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Rita yang diselimuti amarah itu.
"Mah!!" pekik Andre, Friska dan Ahmad secara bersamaan.
"Bukannya kau sudah berjanji akan menyelesaikannya dengan cara baik-baik? Ini bukan cara baik-baik?" lanjut Ahmad yang tak setuju dengan keputusan Rita.
"Apa yang akan kita harapkan dari wanita mandul? Keputusanku final," sarkas Rita lagi. Lalu, melangkah kembali tanpa memedulikan siapa pun.
Mandul. Menyakitkan sekali saat kata itu kembali merusak kebahagiaannya. Tubuh Irma melemas. Nyawanya serasa terpisah dengan raga. Sakit benar-benar sakit, orang yang ia sayang menolaknya dengan begitu menyakitkan. Ingin membela diri, tetapi tak bisa. Mulut pun terkunci, tanpa bisa mengucap sepatah kata pun. Hanya air mata yang terus berderai menjadi saksi kepedihan wanita malang itu.
Begitu pun dengan Ranti. Air mata juga menitik dari kedua mata rentanya. Ia yang duduk di samping Irma, hanya bisa menggenggam tangan Irma saling menguatkan. Ia juga sama sakitnya. Ibu mana tak sakit hati melihat anaknya tersakiti. Namun, ia juga tak bisa menyalahkan Rita. Ia sadar seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Mungkin ... di sini tak ada yang salah, hanya keadaan dan nasib baik saja tak berpihak kepada anaknya.
Berbeda dengan Naura. Mata elangnya menatap tajam ke arah Rita, kedua tangannya mengepal sempurna. Ia tak terima kakak satu-satunya mendapatkan perlakuan yang menurutnya tidak perlu.
"Tunggu, Tan!" Naura berdiri dan suaranya pun tak kalah menggelegarnya di ruang tamu, membuat semua orang mengalihkan pandangannya ke arah ibu hamil itu. Termasuk Rita, ia pun menghentikan langkahnya.
"Apa membangun sebuah keluarga itu hanya untuk membuat anak? Apa tak bisa mempunyai anak itu, sebegitu rendahnya kah? Sampai-sampai Tante melupakan kasih sayang yang telah Tante berikan dan terima dari kakakku? Kenapa pendek sekali pikiran Tante?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Naura. "Memangnya Tante siapa? Bisa memutuskan semuanya sepihak, tanpa menanyakan kepada mereka yang akan menjalani hidup?" Suara Naura semakin meninggi. Ia tak lagi peduli dengan siapa ia berbicara. Bahkan, Irma yang memegang tangan Naura, meminta ibu hamil itu menghentikan ocehannya, tak dihiraukan.
__ADS_1
"Aku mamahnya Andre. Aku berhak memutuskan apapun yang menyangkut anakku." Rita berbalik, menatap Naura tak kalah tajamnya.
"Hanya karena mandul?"
"Ya."
Tiba-tiba tawa Naura menggema di ruangan itu saat mendengar jawaban Rita, membuat semua orang kebingungan.
"Aku tak menyangka orang-orang yang begitu dekat dengan Tuhan, tetapi meragukan kehadiran Tuhan dan lebih memercayai secarik kertas yang dibuat manusia," ujar Naura lagi. Ia dibuat geleng-geleng.
"Apa maksudmu?" Rahang Rita mengeras, ia tak terima Naura yang malah menertawakan dan menyebutnya meragukan Tuhan.
Friska bahkan tak mampu menatap Naura, menurutnya wanita itu lebih menakutkan dari Rita. Kata-kata Naura kalau sedang emosi selalu tajam melebihi pedang.
"Jika Tante meletakkan Tuhan di atas segalanya, Tante tak akan berpikir sesempit ini," lanjut Naura lagi.
Ahmad yang mendengar ucapan Naura, tanpa orang sadari ia malah mengulumkan senyum. Ia tak menyangka wanita yang usianya sepantar dengan anak bungsunya bisa berpikir sampai ke sana.
"Tante bukannya Tahu, Tak ada yang bisa mencegah kehendak Tuhan? Ketika Tuhan menghendakkan sesuatu, maka akan terjadi dan terjadilah! Tidak ada yang tak mungkin juga dengan keadaan ini. Jangan mendahului Tuhan, Tante! Nanti ujung-ujungnya murtad. Aku pernah mendengar kisah Nabi Ishaq, anak Nabi Ibrahim dan Siti sarah. Mungkin, Tante lebih tahu cerita itu? Aku yakin Tante pasti lebih tahu. Beliau lahir dilahirkan saat usia Siti Sarah sudah tua, bahkan menurut logika tidak mungkin bisa melahirkan dalam usia setua itu. Tapi, yang menurut nalar manusia tidak mungkin, itu mungkin saja bagi Tuhan. Apa Tante tidak bercermin dari kisah Siti Sarah itu? Kakakku memang divonis mandul oleh dokter, tapi bukan berarti dia tidak bisa memiliki anak. Selagi berikhtiar dan berdoa, semuanya mungkin-mungkin saja. Ingat Tante, Tuhan saja tidak pernah membeda-bedakan manusia. Kenapa Tante membedakan kakakku setelah tahu dia tidak bisa mempunyai anak." Naura benar-benar meledak. Bahkan, jika tidak dihentikan Ranti, ia akan tetap berbicara sepatas jalan tol yang tanpa hambatan.
__ADS_1
"Sayang, jaga bicaramu! Bagaimana pun Tante Rita itu orang tua, Mamah tak pernah mengajarkanmu kurang ajar kepada orang tua." Ranti memegang bahu Naura, menghentikan ocehan Naura.
"Tapi, Mah ...." Naura tak terima. Ia masih gatal ingin mengeluarkan unek-uneknya. Namun, mendapat gelengan dari Ranti dan Irma. Terpaksa ia berhenti.
Rita sendiri, tampak mematung. Ia tak lagi menyanggah ucapan Naura.
"Maafkan anak saya! Ara memang anaknya labil, ia sering tersulut emosi. Dalam permasalahan Irma, saya tidak bisa menyalahkan Mbak Rita. Saya paham, Mbak ingin yang terbaik untuk anaknya. Saya hanya berharap Mbak Rita bisa mempertimbangkan Irma dengan segala kekurangannya. Akan tetapi, jika tak ada kesempatan pun kami akan bisa menerima dengan legowo. Kami percaya, hidup, mati dan jodoh ada di tangan Yang Kuasa." Ranti berujar, sebelum akhirnya memilih pamit daripada permasalahan semakin rumit dan malah menjadi benang kusut. Mungkin, mereka butuh waktu untuk saling intropeksi diri.
Rita sendiri, setelah kepulangan Irma dan keluarganya langsung masuk ke kamar mengunci diri. Andre, Ahmad dan Friska mencoba membujuk sang mamah untuk membuka pintu, tetapi tetap saja nihil. Hingga sebuah ketukkan dari pintu depan mengalihkan mereka.
"Biar aku saja yang buka pintu," ujar Andre.
Ia pun berjalan ke depan seraya mengacak-acak rambutnya sendiri, frustrasi itulah yang dirasakan Andre saat ini. Sementara itu, pintu terus diketuk dengan tak sabar, membuat mempercepat langkahnya.
"Sebentar. Tidak sabaran banget," rutuk Andre sembari membuka pintu. "Mbak Say?" lanjutnya begitu tahu siapa yang ada di depan pintu.
"Ara pergi menggunakan motor. Tolong kejar dia! Aku takut dia berbuat nekad, dia pergi dengan segudang amarah. Kamu tahu sendiri kalau dia lagi ngamuk. Aku takut dia kenapa-napa, apalagi ia lagi hamil besar. Aku mau mengejarnya, tapi tidak ada lagi motor. Susul dia, ya, Mas!" ujar Irma tanpa jeda.
"Hah?!"
__ADS_1
Masalah di rumah belum selesai, Naura sudah mencari mangsa baru. Padahal, tanpa Naura turun tangan pun, Andre sudah berjanji akan membuat perhitungan terhadap mereka.