Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
101


__ADS_3

Beberapa jam yang lalu sebelum keberangkatan Andre dan Irma berbulan madu, tampak dua keluarga yang baru diikat oleh pernikahan mereka itu sedang berkumpul di rumah Andre. Meskipun masih sedikit canggung bertemu dengan Rita karena permasalahan yang menimpa, Ranti ditemani Naura dan Dimas berusaha menghadari undangan sarapan bersama dari si besan.


Dua keluarga itu pun menggelar karpet di ruang tengah dan sarapan bersama di sana. Karena keluarga Andre yang cukup banyak tak memungkinkan mereka sarapan di meja makan. Keadaan yang awal-awal terasa canggung pun lama-lama mencair. Sikap Rita sedikit demi sedikit mulai menghangat, meskipun terkadang sinis kepada sang menantu. Semua mencoba memakluminya.


"Terima kasih, Bro! Kado darimu benar-benar berharga tiada tara." Andre menghampiri Dimas yang sedang duduk di teras, lalu merangkul sahabatnya itu.


"Berterima kasihnya kepada adik iparmu, dia yang punya ide ngasih itu." Dimas berujar sambil mengenakan sepatu.


Begitu pun dengan Irma, ia memeluk sang adik yang duduk tidak jauh dari Dimas. "Terima kasih, De. Kamu memang paling tahu keinginan kakakmu."


"Aku terima ucapan terima kasih Kakak, tapi bujukin laki-laki itu dulu biar aku bisa liburan bareng ke sana." Dengan bibir yang mengerucut, Naura menunjuk lelaki yang sedang mengenakan sepatu sambil berbincang dengan Andre.


"Bukannya dia mau berangkat kerja?"


"Makanya bujukin dia! Atau ... sini balikin aja hadiahnya! Biar gak ada yang berangkat sekalian."


"Eh, kok gitu, sih?" Andre yang mendengar perbincangan antara kakak dan adik itu pun langsung menyambar. Tak terima bila tiket honeymoon yang didapatnya dipinta kembali, membuatnya langsung kebakaran jenggot.

__ADS_1


Sementara itu, Dimas yang menjadi si biang masalah malah tampak acuh dan lebih fokus memasang sepatu, seolah-olah tak mendengar rengekan sang istri. Atau mungkin, lelaki itu sudah kebal karena dari semenjak upacara pedang pora, Naura lebih sering merajuk dengan berbagai macam masalah. Terakhir sampai ia akan berangkat kerja, wanita hamil itu merajuk ingin ikut ke pantai atau akan mengambil kembali kado yang mereka berikan.


Andre membuang napas kasar. Ia yang tidak mau acara honeymoon-nya batal pun, mencoba membujuk Dimas. Namun, Dimas tetaplah Dimas, lelaki berseragam itu tetap teguh pada pendiriannya. Dimas harus berangkat bekerja.


Naura yang berharap banyak pada usaha kakak dan kakak iparnya hanya bisa gigit jari saat Dimas tetap menolak. Hidungnya pun sudah kembung kempis dengan wajah yang memerah menahan amarah.


"Papol jahat! Sana puas-puasin kerja, enggak usah pulang sekalian!" Naura melemparkan kunci mobil yang disanderanya sejak semalam langsung ke muka Dimas. Lalu, pulang ke rumah Ranti tanpa memedulikan Dimas yang meringis kesakitan karena kunci mendarat cukup keras di hidungnya.


"Ra!" panggil Andre dan Irma bersamaan, tetapi Naura tidak peduli.


"Kamu tak terima karena tiket honeymoon-mu dalam ancaman. Iya, kan?" Dimas memicingkan matanya ke arah Andre. "Tenang saja, tiketmu aman!" lanjut Dimas, juga beranjak dari teras dan menyusul Naura.


"Dim, tugas polisi itu mengayomi masyarakat. Istrimu juga masyarakat yang harus kau ayomi," ujar Andre lagi yang hanya di jawab acungan jempol dari Dimas.


Sebelum berangkat kerja, Dimas kembali menemui Naura yang sedang menangis di kamar. Irma yang merasa khawatir pun menyeret sang suami untuk mengikuti Dimas. Hingga, keduanya disuguhi Dimas yang sedang dilempari guling dan bantal oleh Naura.


"Sana pergi! Kau memang tak pernah sayang kepadaku!" Dengan air mata yang sudah menganak sungai wanita itu terus memukul Dimas dengan bantal dan guling.

__ADS_1


Dimas hanya bergeming, tanpa ada niatan membalas sampai Naura sendiri yang berhenti karena kelelahan. Mendapati Naura sudah tidak meradang, lelaki itu pun menarik wanita yang sudah acak-acakkan ke dalam pelukkan, tetapi sang istri menolak.


"Sayang, cobalah mengerti! Kita tidak bisa berangkat bersama Andre dan Kak Irma. Aku harus kerja! Tapi, aku janji nanti jika sudah ada waktu kita pergi liburan. Kemana pun kamu mau, aku pasti akan turuti," ujar Dimas sembari memegang kedua bahu Naura dengan kedua mata menatap sang istri, meminta pengertian dari wanita itu.


"Ya, aku mengerti. Pergilah!" Naura menjawab sambil membuang muka.


Lain di mulut, lain di hati. Dimas pun tahu itu. Namun, waktu yang sudah siang mengharuskannya untuk segera berangkat kerja dan memilih mengabaikan perasaan Naura.


"Terima kasih. Aku mencintaimu!" Dimas mendaratkan ciuman di kening snag istri. "Sekarang sudah siang, aku berangkat dulu, ya! Nanti sore aku jemput," lanjutnya lalu mencium perut Naura. "Debay jagain mamamu selagi papa gak ada, ya. Jangan biarin dia ngambek terus! Itu gak baik buat mama dan juga kamu." Ia berbicara kepada sang anak yang masih ada di dalam perut yang langsung mendapat sebuah pergerakkan dari dalam sana, membuat Dimas tersenyum dan mencium perut Naura lagi. "Aku berangkat, ya!" Dimas kembali berpamitan kepada si calon ibu, tetapi tak ada jawaban dari yang di ajak bicara.


Pertengkaran suami istri itu pun tak luput dari Andre dan Irma. Andre sampai merutuki Dimas yang bisa-bisanya sekeras itu terhadap Naura, padahal wanita itu sedang hamil. Dan seingat Andre, selama ini Dimas selalu menuruti kemauan Naura, bahkan rambutan yang sedang tak musim pun rela dicari demi sang istri. Lalu, kenapa sekarang bersikeras sekali menolak keinginan Naura? Bukankah lelaki itu juga bisa mengambil izin? Melihat pertengkaran pasangan suami istri itu membuat Andre bertanya-tanya dan berpikir yang bukan-bukan.


"Aku tidak tega dengan Ara. Apa kita batalkan saja perjalanan kita? Kita berikan lagi saja hadiahnya kepada Ara," usul Irma yang langsung dapat anggukkan dari Andre.


Meskipun tengil, tetapi ia tak tega saat mengingat Naura yang terus berderai air mata, hingga sepasang suami istri baru itu pun mengembalikan hadiah dari Naura. Namun, Naura juga menolaknya. Ia tetap ingin kakaknya pergi berbulan madu. Menurutnya di dalam permasalahan ini yang salah bukan Irma dan Andre, tetapi Dimas. Dan, ia tak berhak menghukum pasangan baru itu karena kekesalannya kepada sang suami.


"Aku tunggu kabar baiknya! Jangan lupa kasih liat ke aku apa aja yang ada di sana," ujar Naura saat melepas kepergian Andre dan Irma dengan air mata yang sudah menghalangi penglihatannya, berbondong-bondong hendak menjebol mata indahnya.

__ADS_1


__ADS_2