Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
121


__ADS_3

Dimas tercenung di kursi, kepalanya sudah tak bisa lagi berpikir sehat. Pikirannya melayang entah ke mana. Mereka tidak mengatakan apa-apa, tetapi ia tahu telah terjadi sesuatu yang buruk kepada cintanya yang membuat semua orang bungkam dan malah meminta Dimas untuk kuat. Sementara itu, kekuatan di diri Dimas telah hilang entah kemana. Ia rapuh serapuh-rapuhnya, hingga semua pun tiba-tiba terasa sangat hampa dan gelap. Tak mampu menerima kenyataan membuat lelaki jangkung itu tak sadarkan diri.


"Dim, sadar! Bangun, Dim!" Ana duduk di samping Dimas yang sudah terbaring di ruang pasien. Ia mencoba menyadarkan anaknya yang sudah lima belas menit tak sadarkan diri.


Jemari Dimas perlahan mengalami pergerakan. Mata lelaki itu pun perlahan terbuka.


"Aww ...." rintih Dimas saat merasakan sakit di kepala.


"Nak, kamu sudah sadar," Ana langsung memeluk Dimas.


"Aku di mana? Ara mana, Mah?"


"Kamu tadi pingsan," jawab Ana, lalu terdiam. Ia tak mampu tuk menjawab pertanyaan Dimas.


"Ara mana, Mah?" tanya ulang Dimas sembari berusaha bangun.


Ana pun berdiri membantu Dimas untuk bangun, lalu kembali memeluk Dimas yang sudah dalam posisi duduk. Air mata kembali tak terbendungkan. "Kamu yang sabar ya, Sayang. Kamu harus kuat untuk anak kalian."


"Aku tanya Ara mana, Mah? Dan, kenapa aku malah ada di ranjang pasien seperti ini?"


"Kamu pingsan, Dim."


"Lalu Ara-ku?" tanya Dimas tak sabar.


Ana tak kunjung menjawab. Tidak mendapat jawaban, Dimas pun memilih tuk beranjak dari sana dan mencari istrinya sendirian. "Aku bisa mencari jawabannya sendiri," gumam Dimas sambil berlalu.

__ADS_1


"Ara ... Ara telah pergi untuk selamanya, Nak." Dengan berat hati, Ana mengungkap keadaan Naura.


Seketika langkah Dimas terhenti. Kakinya terasa membeku. Dunia Dimas menggelap kembali. Ribuan anak panah terasa melesat menghujam tubuhnya dengan mulut membisu. Ia masih mencoba mencerna ucapan Ana.


"Dokter sudah berupaya semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berkata lain. Tuhan lebih menyayangi istrimu, Dia tak mau istrimu kesakitan. Kamu yang kuat, ya, Sayang. Ada Mamah dan Papah di sini yang selalu bersamamu." Ana kembali memeluk Dimas yang sudah mematung.


"Tidak! Kalian pasti bohong." Sejurus kemudian Dimas mendorong Ana yang masih memeluknya. Ia bergegas ke ruangan tempat Naura berada. Ia menabrak apapun yang menghalangi jalannya. Tak peduli pasien, pengunjung atau pun benda mati sekali pun.


"Istriku baik-baik saja," gumamnya sembari membuka pintu dengan kasar.


Dimas kembali bergeming ketik pintu terbuka lebar dan menampilkan keluarga Naura sudah berkumpul di sana dengan raungan yang memilukan. Lalu, mata Dimas tertuju pada seseorang yang berada di atas ranjang dengan seluruh tubuh yang sudah tertutup selimut.


"Tidak!" Lelaki itu terus menggeleng. "Itu bukan istriku."


"Ra, jangan tinggalkan mamah!"


"Tidak! Ra, jangan tinggalkan aku." Dimas berlari ke ranjang pasien dan langsung memeluk Naura yang sudah tertutup selimut. "Jangan tinggalkan aku! Aku tak bisa hidup tanpamu."


Dimas membuka penutup wajah si istri dan tangisnya pun semakin menjadi. Istrinya terpejam dengan wajah yang sudah memucat, bahkan seluruh tubuhnya berguncang saat Dimas mengguncang bahu Naura.


"Ra, jangan tinggalkan aku! Bukankah kamu sudah janji akan memberikanku anak lelaki setelah anak perempuan kita lahir? Ayo, tepati janjimu. Jangan seperti ini. Bukankah kamu juga ingin menggelar upacara pedang pora? Kamu juga bilang ingin berlibur ke pantai bersama anak kita. Ayo, ke sana! Kamu dan aku masih punya bnyak keinginan dan janji yang belum terlaksana. Cepat, bangun! Kita lakukan semua hal yang kemarin sempat tertunda. Ra, bangun jangan seperti ini! Ra, bangun!" Dimas mengguncang bahu Naura, tetapi tak ada respon. "Ra, ayo, bangun! Aku tak bisa hidup tanpamu," gumam Dimas sangat lirih. Frustrasi.


"Maaf, Pak, kami akan membawa jenazah untuk dimandikan." Tiba-tiba para pekerja rumah sakit menghampiri Dimas dan membawa Naura.


"Tidak, kalian mau bawa istriku ke mana? Istriku tidak meninggal. Ia hanya sedag tidur." Dimas menolak sembari memeluk erat Naura. "Sayang, ayo, bangun! Kalau tidak bangun mereka akan membawamu pergi." Dimas menangkup kedua pipi si istri, meminta wanita itu bangun.

__ADS_1


"Maaf, kami harus membawanya." Para pekerja itu membawa ranjang yang berisi Naura itu keluar, sedangkan Dimas dipegang oleh Andre dan Bambang supaya tidak menghalangi pekerjaan pekerja rumah sakit.


"Sabar, yang kuat Dim," ujar Andre dan Dimas bersamaan.


"Tidak! Jangan bawa istriku!" Dimas memberontak melihat si istri dibawa keluar oleh orang-orang yang berpakaian putih itu. "Tidak!!! Ra kembali! Jangan pergi!" teriak Dimas.


"Dim ... Dim! Sadar, Nak!" Ana yang sedari tadi di samping Dimas meraih tangan si anak yang terjulur sembari berteriak memanggil nama menantunya. "Bangun, Dim!" Ana menepuk pipi Dimas yang terus berteriak dengan mata yang tetap terpejam.


Kemudian Dimas terbangun langsung duduk dengan kedua matanya yang membulat sempurna. "Jangan bawa istriku!" teriak Dimas, dengan tubuh yang sudah bergetar hebat.


"Istrimu tidak ke mana-mana. Tidak ada yang membawanya. Kamu hanya bermimpi. Tenanglah!" Ana membawa sang anak ke dalam dekapannya. Dimas pun memeluk Ana sangat erat.


"Ara, Mah ...."


"Ara masih ditangani dokter. Papahmu dan keluarga yang lain masih menunggu kabar," tutur Ana.


"Aku melihat Ara dibawa orang-orang untuk dimandikan. Istriku meninggalkanku," ujar Dimas dengan suara parau karena tangis, mengingat yang baru saja dialaminya.


"Itu hanya mimpi buruk, Dim. Istrimu tidak ke mana-mana."


"Benarkah?" Dimas mendongak ke arah sang mama yang dijawab anggukan Ana.


"Aku ingin menemuinya," lanjut Dimas.


"Iya, ayo kita ke sana lagi."

__ADS_1


Ana memapah Dimas yang baru saja sadar dari pingsan untuk kembali ke depan ruangan Naura.


Sementara itu, di dalam ruangan para medis sedang berjuang menyelamatkan Naura yang tiba-tiba anfal. Beberapa kali dokter memberikan kejut dengan menggunakan defibrilator untuk mengembalikan detak jantung wanita itu yang sempat terhenti, hingga mereka bisa bernapas lega saat monitor kembali memperlihatkan grafis kinerja organ tubuh Naura. Naura berhasil keluar dari masa kritisnya.


__ADS_2