
Beberapa waktu yang lalu ....
Andre yang membawa sepeda motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, akhirnya tiba di lokasi dengan selamat. Ia menepikan si kuda besinya itu di tempat parkir yang sudah disediakan butik.
Merasakan motor yang ditumpanginya berhenti, Irma yang sedari tadi memejamkan kedua matanya sembari komat-kamit melafalkan doa-doa—saking takutnya—pun langsung turun dari motor. Ia tak menyangka jarak yang lumayan jauh itu hanya ditempuh beberapa menit oleh Andre. Jangan tanya seperti apa Andre membawa motor, jika ia ikut acara motor GP mungkin bukan Marquess yang akan naik podium melainkan lelaki yang sedang membuka helm di hadapan Irma.
Lalu, bagaiman dengan Irma? Wanita itu seumur-umur baru pertama kali naik motor sampai membuat perutnya terasa tak berisi. Hembusan angin dari cepatnya Andre mengendarai motor terasa akan membawanya terbang. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh. Wajahnya pun seperti tak berdarah. Kecelakaan yang sebelumnya dialami dan hampir merenggut nyawanya, membuat Irma semakin ketakutan saat menaiki motor dengan kecepatan seperti roket yang melesat ke angkasa itu. Tubuh Irma bergetar hebat, meskipun ia sudah berhasil menginjak bumi dan sampai di tempat tujuan dengan selamat.
"Ayo, Mbak Say! Waktu istirahatku enggak banyak." Andre yang selesai membuka helm mengajak Irma untuk segera masuk, tanpa melihat keadaan Irma yang sudah tak baik-baik saja.
"Tu—" Belum sempat Irma menjawab, Andre sudah melenggang pergi. "Ish ...." Ia hanya bisa mendesah pelan dengan tangan yang masih berpegangan pada belakang motor. Irma hanya bisa menatap punggung Andre yang mulai menghilang di balik pintu kaca butik, tanpa ada niatan mengejar. Tubuhnya masih terasa lemas dan gemetar, jangankan untuk berjalan untuk berdiri tegak pun ia tak sanggup.
Hingga, tiba-tiba kepala wanita itu terasa begitu berat, bahkan keadaan sekitar terlihat sedang berputar-putar. Selain itu perutnya juga terasa begitu panas dan bergejolak. "Kenapa semuanya jadi putar-putar begini dan ...." Ia menutup mulutnya terasa ada yang hendak keluar dari sana. Ingin berlari mencari toilet, tetapi tubuhnya masih tak berdaya. Rasa mual sudah tak bisa lagi ditahan. Namun, mau meminta bantuan pun kepada siapa? Andre sudah terlanjur masuk ke butik. Ia hanya bisa membekap mulut, berharap tak sampai mengotori area parkiran.
"Kakak kenapa?" Bagaikan seorang malaikat penolong, seorang anak yang sedang berjualan menghampiri Irma yang sudah sangat tak berdaya.
__ADS_1
"Aku pusing, mual-mual juga. Boleh bantu kakak ke toilet?" Isi perut yang sudah mendesak ingin keluar, membuat Irma tanpa basa-basi langsung meminta bantuan anak perempuan berusia sekitar sembilan tahunan itu.
"Ayo, Kak!" Anak perempuan itu pun meletakkan terlebih dahulu barang dagangannya, lalu membantu Irma berdiri.
Belum sempat berdiri sempurna, mual yang dirasa Irma sudah tak bisa tahan lagi. "Aku gak kuat! Rasanya pengen keluar sekarang." Irma kembali membekap mulut.
Melihat keadaan yang tak memungkinkan, anak perempuan itu mengambil kresek dari wadah dagangannya. "Keluarin di sini saja, Kak." Ia memberikan kresek itu kepada Irma.
Irma benar-benar sudah tak tahan. Ia langsung meraih kresek itu dan mengeluarkan apa yang ingin dikeluarkan.
"Kalau boleh tahu Kakak kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya si anak, prihatin dengan keadaan Irma yang malah ngegepor di parkiran seperti anak hilang dengan rambut yang sudah acak-acakkan.
Si anak hanya melongo tak mengerti dengan yang ducapkan Irma, atau lebih tepatnya berpikir orang yang ditolongnya waras atau tidak? Karena seingatnya tidak angin ribut jenis apapun yang terjadi. Hingga sebuah panggilan masuk ke ponsel Irma menyadarkan anak kecil itu. Irma pun langsung mengambil poselnya di tas dan melihat siapa yang menghubunyinya.
"Boleh minta tolong lagi?" Dengan senyum yang teukir di wajah pucatnya sembari memicingka sebelah mata, Irma meminta bantuan si anak lagi dan mendapat angggukan dari lawan bicaranya. "Tolong bicara dengan orang di balik telepon ini!" Irma memberikan ponselnya, sedangkan ia yang merasa perutnya masih bergejolak masih sibuk dengan kresek di tangan.
__ADS_1
***
"Udah dimaafin?" Andre memicingkan sebelah matanya melirik Irma.
"Udah. Tapi buangin ini, ya!" Dengan senyum yang mengembang, Irma menyodorkan kresek kepada Andre.
"Ini apaan?" tanya Andre menilik-nilik kresek hitam yang sudah beralih tangan itu.
"Mahakaryaku setelah kau bawa aku melesat kayak rudal," jawab Irma sembari melenggang mendahului Andre.
Sementara itu, Andre mengingat apa yag dilakukan si calon istri terhadap kresek yang dipegangnya langsung menjauhkan tangannya sambil bergidig dengan ekspresi seakan-akan ia juga akan muntah. Dengan segera, ia berlari ke tempat sampah yang berjarak hanya satu meter, meninggalkan benda itu di sana. Ia pun lantas mencuci tangan di tempat yang sudah di sediakan di depan butik bagi para pengunjung, kemudian menyusul Irma yang sudah masuk ke butik bahkan wanita itu tampak asyik berbincang-bincang dengan Dian.
"Ketemu di mana calon istrinya, Dre?" tanya Dian begitu Andre tiba di sana.
Andre memamerkan senyumnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Makanya kalau bawa motor itu alon-alon asal kelakon. Kasihan cantik begini kamu samakan dengan karung beras. Seenaknya dewek bawa motornya. Dia kapok baru tahu rasa, lho!" tutur Dian yang hanya dijawab senyuman oleh Andre. "Senyum mulu! Mikir!"
"Rasain," ujar Irma tanpa suara sembari menjulurkan lidah kepada Andre. Ia merasa puas dengan pembelaan yang dilakukan Dian terhadapnya.