
Kebahagiaan tengah menyelimuti dua keluarga kakak-adik yang hubangan mereka semakin tak bisa terpisahkan. Naura dan Irma semaki kompak dalam segala hal, termasuk dalam mengurus Kayla. Begitu pun dengan dua sahabat yang menjadi suami mereka, selalu kompak. Kayla sangat beruntung lahir ditengah-tengah keluarga yang saling menyayangi dan memberikannya cinta kasih yang sangat melimpah. Sesuai janji Naura, Kayla bukan hanya anaknya dan Dimas, tetapi juga anak bagi Irma dan Andre. Wanita itu membebaskan Irma dalam ikut andil memngurus Kayla.
Hari ini tepat empat puluh hari kelahiran Kayla. Rumah Naura dipenuhi para keluarga yang sedang sibuk mempersiapkan kebutuhan untuk acara yang akan digelar di rumah tersebut. Mereka akan melaksanakan syukuran akikahan Kayla sembari syukuran atas kesembuhan Naura.
Irma dan Andre merupakan orang yang paling antusias dalam acara ini. Bagi mereka, Kayla itu number one. Saat ini, suami istri itu sedang berada berada di pasar untuk membeli semua keperluan yang belum ada di rumah. Irma dan Andre langsung turun tangan untuk semua keperluan acara itu. Kambing yang akan digunakan untuk penyembelihan pun pilihan Baba dan Bubu. Mereka yang sudah menganggap Kayla sebagai anak mereka tidak akan membiarkan acara Kayla berjalan buruk.
"Ba, buah-buahannya belum," ucap Irma kepada Andre saat mereka melewati kios buah.
"Siap, Nyonya." Senyum Andre merekah sembari berhormat dengan satu tangan sudah dipenuhi kresek belanjaan.
Irma juga menampilkan senyumnya melihat kelakuan si suami. "Apa, sih? Aku bukan bendera," ujarnya sambil berjalan menghampiri kios buah dan diikuti oleh Andre.
"Jelas bukanlah. Kalau bendera habis dihormat langsung ditinggalkan sendirian di lapangan, kalau kamu 'kan habis dihormat langsung digandeng," imbuh Andre, berseringai sembari menautkan jemari yang tadi menghormat ke jemari Irma.
"Terserah kamu sajalah."
Irma hanya bisa geleng-geleng dengan tingkah sang suami yang semakin hari semakin menempel saja. Bahkan, sejak masuk pasar sampai mereka berakhir di tukang kios buah pun Andre tidak pernah melepaskan tautannya. Irma sampai malu sendiri karena harus memilih barang belanjaan dengan tangan mereka yang terus menyatu.
"Mas, Si Mbaknya gak bakal ilang juga kalau dilepas sebentar."
"Mas, Mbak, penganten baru, ya?"
"Mbak, tangannya ada lemnya, ya? Tangan si Masnya nempel terus." Beberapa celoteh para pedagang dan pembeli yang melihat tingkah mereka, tetapi Andre memilih tak peduli.
Andre dan Irma membeli buah jeruk, semangka, apel untuk cuci mulut para tamu yang hadir nanti sesuai dengan list yang sudah mereka buat. Namun, begitu Andre selesai membayar, Irma membeli beberapa jenis buah lagi.
"Bu, itu buah-buah untuk apaan? Masa iya, tamu mau dikasih mangga muda, kedongdong sama jambu air?" tanya Andre seraya berbisik saat Irma memasukkan buah-buah tersebut ke wadah.
"Untuk buat rujak bebeg," jawab Irma santai sembari mengambil bengkuang, umbi, serta nanas.
"Bu, kita mo hajat akikahan bukan mo hajat empat bulanan, lho."
__ADS_1
"Emang siapa yang bilang mo hajat empat bulanan. Ini buat kita-kita aja, pasti seger siang-siang makan rujak bebeg," papar Irma sembari membayangkan rujak bebeg yang begitu menyegarkan membuatnya langsung menelan ludah.
Andre pun hanya ber-oh ria.
Setelah semua kebutuhan sudah terbeli, mereka kembali ke rumah Naura. Hingga sesuatu membuat Irma tiba-tiba meminta Andre untuk menghentikan mobilnya.
"Ada apa?" tanya Andre, selepas menginjak rem secara mendadak.
"Mau itu!" Irma menunjuk sebuah gerobak dorong di seberang jalan dengan tulisan asinan di gerobaknya.
"Asinan lagi?" tanya Andre, memastikan.
Irma mengangguk pelan.
Bukan apa, sudah seminggu ini Irma selalu memakan asinan tanpa kenal waktu. Belum lagi jika menemukan tukang asinan di mana pun, ia pasti akan membelinya. Hari ini saja ia sudah dua kali membeli asinan dengan sekali beli dua porsi sekaligus.
"Kamu tunggu di sini. Aku yang beli." Andre melepas sabuk pengaman, lalu keluar.
"Biasa dua porsi, ya!" teriak Irma mengingatkan yang dijawab anggukan Andre.
"Pak, asinannya dua porsi yang pedes," pesan Andre begitu sampai di tempat si pedagang mangkal.
"Masnya lagi?" Pedagang itu menoleh ke arah Andre. Sementara itu, Andre hanya mengangguk sambil tersenyum. "Istrinya suka sekali asinan, ya, Mas?" tanyanya lagi sembari membuat asinan.
"Bisa dibilang begitu, Pak. Udah seminggu ini makanan nomor satu di kepala istriku asinan. Dimana pun dan kapan pun nemu tukang asinan pasti langsung minta. Kalau gak diturutin, bibirnya langsung monyong lima centi," jawab Andre, mengingat beberapa waktu lalu pernah tidak mengabulkan permintaan si istri karena sudah malam dan berakhir dengan rajukan. Ia juga sebenarnya mulai khawatir dengan kesehatan Irma yang selalu memakan asinan tanpa aturan.
"Itu biasa, Pak. Kita sebagai suami harus sigap dan siaga. Turuti saja dari pada nanti anaknya ngences," ucap si pedagang yang membuat Andre melongo tak mengerti.
"Maksudnya, Pak?"
"Istri Bapak sedang ngidam kan? Turuti saja, biasanya itu bawaan orok," imbuhnya lagi sembari menyodorkan kresek berisi dua bungku asinan yang sudah jadi sesuai pesanan.
__ADS_1
Andre pun menyodorkan uang kepada di penjual sembari berterima kasih dengan isi kepala yang masih mencerna perkataan tukang asinan itu, lalu pamit. Namun, ucapan lelaki itu terus terngiang-ngiang di telinga Andre. Mungkinkah istrinya hamil? Pertanyaan itu terus muncul di kepala. Sikap Irma minggu-minggu ini memang sangat ganjil. Naura pun pernah mengutarakan keganjalan itu kepadanya. Bahkan, Naura meminta Andre untuk membawa Irma periksa ke dokter kandungan.
Bila mengingat waktu ke belakang. Memang, setelah memori berdarah di pantai itu, Andre yang sudah paranoid dengan tanggal tersebut tidak pernah bertemu dengan insiden itu lagi. Akan tetapi, Irma selalu berkata kadang siklus datang bulannya tidak beraturan, membuat Andre tidak berpikir sangat jauh seperti Naura dan penjual asinan itu.
"Ba, kenapa?" tanya Irma begitu Andre sudah kembali ke mobil dengan isi kepala yang masib berkelana.
"Bu, sekarang tanggal berapa?" tanya Andre sembari menyodorkan asinan kepada Irma.
"Tanggal 24. Kenapa?"
"Semenjak di pantai kayaknya Bubu belum pernah absen, ya?"
"Absen apaan?" Irma tak mengerti.
"Itu ... halangan maksudnya."
Irma mengangguk, mengerti yang dimaksud Andre. Memang benar semenjak kepulangan dari pantai, ia belum pernah menstruasi lagi, bahkan sekarang sudah lebih dari tanggal biasanya si tamu datang.
"Mungkinkah, kalau kamu itu—"
"Mas, jangan terlalu berharap. Bukankah kamu tahu sendiri kemungkinannya sangat kecil. Jangan menggantungkan harapan tinggi-tinggi, nanti kalau jatuh sakit." Irma yang tahu maksud tujuan ucapan Andre langsung memotong. "Telat datang bulan bukan berarti positif. Banyak faktor yang mempengaruhi siklus haid tidak teratur," paparnya lagi.
Kemudian ia terdiam, kepalanya menunduk. Bukan Irma tidak mau berharap. Jauh di lubuk hatinya, ia sangat mengharapkan ada benih yang tumbuh di rahimnya. Akan tetapi, vonis dokter membuatnya sedikit mengubur asa itu dan membuatnya tak berharap lebih.
"Apa kamu mulai bosen dengan pernikahan kita yang begini-begini saja?" tanya Irma tanpa berani menoleh ke arah suaminya.
Andre yang mendengar ucapan Irma pun terkesiap. Wanita di sampingnya memang sangat sensitif akan hal yang satu itu. Karena itu pula, Andre tidak berani membahasanya, tetapi kali ini mulutnya sudah gatal.
"Sayang, bukan itu maksudku." Andre membenarkan posisi tubuhnya, lalu menggenggam tangan Irma. "Aku bahagia dengan pernikahan kita. Aku hanya butuh kamu, tidak perlu yang lain. Hanya saja aku merasa ... sudahlah jangan dipikirkan! Hanya satu yang perlu kamu ingat sampai kapan pun aku gak akan pernah bosen sama kamu. Kamu jangan salah paham! Aku sangat-sangat mencintaimu." Andre mencium tangan yang sedang digenggamnya. "Sebaiknya kita langsung pulang, orang-orang pasti sudah menunggu!"
Irma hanya mengangguk.
__ADS_1
"Maaf, telah membuatmu sedih." Sekali lagi Andre mencium tangan itu sebelum melepasnya dan mengendari mobil kembali.
'Tapi aku yakin sesuatu telah hadir di perutmu. Bagaimana aku meyakinkannya untuk mau diperiksa?'