
Andre mengendarai motornya, membawa Irma menikmati indahnya pemandangan di pegunungan yang indah di pandang dan menyejukkan. Kebun teh di kiri dan kanan jalan dengan sistem terasering semakin membuat indah suasana di tempat kelahiran Andre. Andre terus menyusuri jalan menanjak nan berkelok itu, berharap jika Irma melihat apa yang akan ditunjukkan, wanita itu akan melupakan ucapan-ucapan Anisa.
"Apa kamu suka pemandangannya?" tanya Andre yang sengaja mengendarai motornya sangat pelan supaya Irma dapat menikmati setiap tempat yang dilewati mereka.
"Iya, aku suka."
"Aku mau mengajakmu ke satu tempat, semoga kamu suka."
Irma hanya tersenyum, lalu mengeratkan pelukkannya, tanpa menjawab sepatah kata pun.
Tidak dapat dipungkiri, Irma begitu menikmati setiap pemandangan yang Tuhan suguhkan di setiap tempat yang dilewatinya. Indah memang sangat indah, tetapi kesakitan yang dirasakannya tak bisa pergi dengan begitu saja. Air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya tak terbendung lagi. Air matanya luruh di bahu sang kekasih. Ia tak menyalahkan siapa pun atas keadaan ini. Ia tahu, tidak ada yang salah dari ucapan Anisa. Karena sejatinya orang menikah itu selain menyatukan cinta dalam sebuah ikatan suci, hal lain yang mereka harapkan ialah lahirnya penerus sebagai bukti cinta mereka.
Dari kaca spion, Andre bisa melihat dengan jelas air mata itu luruh begitu saja membasahi pipi sang kekasih yang sebagian wajahnya tertutup masker. Sakit, itu pun yang dirasakan Andre. Ia sampai menggigit ujung bibirnya, tak tahan melihat air mata itu terus mengalir semakin tak terbendung. Semakin sakit karena itu adalah ulahnya, mungkin jika dirinya tak membahas keponakan-keponakannya, Anisa pun tak akan sampai membahas soal anak kepada Irma.
__ADS_1
"Pelukkanmu semakin erat saja. Apa kamu kedinginan?" Andre menggenggam tangan yang masih melingkar di perutnya. Berpura-pura tidak tahu kalau wanita itu sedang menangis.
"Iya, dingin banget. Bolehkan, aku seperti ini terus?" jawab Irma dengan suara yang mulai parau.
"Teruslah peluk aku seperti ini."
Andre pun mengendarai motor hanya dengan satu tangan, sedangkan tangan satu lagi masih menggenggam erat tangan wanita yang masih berderai air mata. Hingga, beberapa meter kemudian ia menepikan motornya.
"Kenapa berhenti? Apa kita sudah sampai?" tanya Irma saat motor yang dikendarai Andre tiba-tiba saja berhenti. "Kenapa doyan sekali berhenti di tempat sepi." Irma turun dari motor sambil menyeka air matanya. Mata yang berembun mencoba memperhatikan daerah sekitarnya, sepi, tidak ada para pekerja seperti di kebun teh yang baru saja mereka lewati. Lalu, apa istimewanya tempat itu, hingga Andre mengajaknya ke sana?
"Kenapa harus meminta maaf? Kamu tak ada salah apa-apa."
"Semuanya salahku. Aku tanpa sengaja telah memancing Kak Anisa untuk mengatakan itu." Lelaki itu menyembunyikan wajahnya di tengkuk Irma.
__ADS_1
"Kamu tidak salah, Mas. Tak ada yang salah di sini, baik Kak Anisa atau pun kamu tak ada yang salah. Jika pun ada yang salah itu adalah hatiku sendiri yang terlalu perasa. Aku hanya takut mengecewakan mereka yang sudah sangat baik padaku, aku takut mengecewakan keluargamu jika nanti mereka tahu semuanya," ucap Irma panjang lebar. Saat mendengar ucapan Anisa, Irma menyadari satu hal, lelaki yang saat ini memeluknya belum berterus terang seutuhnya tentang keadaannya. "Mereka tahu aku janda, tapi mereka belum tahu aku tidak bisa memberimu keturunan, kan?" tanya Irma kemudian.
Andre terdiam, hanya embusan napas berat yang bisa Irma rasakan menyentuh tengkuknya.
"Kamu diam, berarti jawabannya iya," Senyum hambar tersungging di bibir Irma. "Mungkin selamanya kita akan berputar-putar dalam masalah yang sama, jika tak ada keterbukaan dari kedua belah pihak. Bukankah, sebelum kita kemari aku pernah bilang jangan berbohong kepada siapa pun?" Irma mengurai tangan yang masih melingkar di perutnya dan memilih duduk di tepi jalan.
"Aku tidak berbohong kepada siapa pun. Hanya saja aku belum bisa mengatakan itu kepada mereka. Aku belum siap jika nantinya mereka menentang hubungan kita." Suaranya begitu berat. Andre belum siap jika harus memilih antara keluarga dan Irma. "Tak bisakah untuk yang satu itu, keluargaku tak perlu tahu? Lagian di dunia ini tak ada yang tak mungkin. Kuasa Tuhan lebih segalanya, ketimbang selembar surat buatan manusia."
"Entahlah ... sebenarnya ini juga berat bagiku. Aku takut kehilanganmu jika nanti keluargamu benar-benar tak bisa menerimaku."
"Kalau begitu akhiri masalah ini sampai di sini. Aku tak mau kamu terus menangis oleh hal yang sama sepanjang masa. Aku mencintaimu dan aku menerimamu apa adanya, itu sudah cukup. Yang lainnya biarkanlah semua berjalan seperti air yang mengalir, jalani hubungan ini tanpa harus dibayang-bayangi hal yang belum pasti."
"Tapi—"
__ADS_1
"Aku tak mau kehilanganmu dan kamu pun tak mau kehilanganku. Tak bisakah kita egois dengan cinta kita, tanpa memedulikan oranglain? Cukup kita saja yang tahu akan hal ini. Toh, yang akan menjalani hubungan ini kita bukan oranglain." Andre menangkup kedua sisi wajah Irma. Mata mereka pun saling bertemu, membuat Irma bisa melihat dengan jelas iris mata Andre pun dipenuhi genangan yang masih tertahan di sana.
'Sebesar itukah cintamu padaku?'