
Mobil yang disewa Rita melaju meninggalkan area parkir mall. Semenjak keluar dari cafe tak banyak yang dibicarakan antara Irma dan Rita. Rita lebih memilih menikmati jalanan dari balik jendela mobil daripada mengajak Irma berbicara seperti seharian ini. Membuat Irma berpikir kalau calon mamah mertuanya marah karena mereka bertemu masa lalu dirinya di dalam cafe.
Sembari memainkan ujung-ujung kukunya, Irma sesekali melirik Rita yang masih fokus melihat jalanan. Ia ingin memulai perbincangan, tetapi ada ragu di dalam benak.
"Ada apa?" Rita yang menyadari Irma terus memperhatikannya, akhirnya buka suara meski tanpa melirik wanita di sampingnya itu.
"Ma-maaf, Mah." Hanya kata maaf yang bisa terucap dari mulutnya. Ini baru pertama kalinya Irma didiamkan oleh Rita. Ia yang belum kenal jauh dengan sang calon mertua membuatnya menjadi paranoid sendiri.
"Maaf untuk apa? Apa kamu punya salah sama mamah?" Rita melirik Irma yang masih memainkan kuku, saling beradu.
"Untuk kejadian di dalam cafe. Tanpa sengaja aku telah merusak acara kita. Sekali lagi aku minta maaf, Mah. Aku tak tahu kalau kita akan bertemu dengan Mamah Ambar dan mantan suamiku," tutur Irma, penuh sesal.
Rita membuang napas kasar. Tidak dapat dipungkiri ia memang kesal dengan kejadian di dalam cafe. Momen kebersamaannya bersama Irma tiba-tiba terganggu. Namun, sebenarnya ia bukan kesal kepada Irma. Hanya satu orang yang membuat mood Rita langsung anjlok, yakni Ryan. Rita sama sekali tak mempermasalahkan pertemuan mantan menantu dengan mantan mertua itu, bahkan ia juga tak akan mempermasalahkan pertemuan sepasang mantan suami istri itu juga kalau saja Ryan tak menatap Irma dengan tatapan yang begitu mendamba. Rita dibuat muak oleh sikap Ryan terhadap si calon menantu, yang malah membuat Irma juga kena imbasnya.
"Boleh mamah bertanya sesuatu?" Rita menatap Irma yang terus saja menunduk.
Irma tak menjawab, ia hanya menggerakkan kepalanya ke bawah, mengiakan.
"Apa kamu masih memiliki rasa dengan mantan suamimu?" tanya Rita to the point.
'Hah? Pertanyaan macam apa ini? Kenapa Mamah seakan ragu dengan perasaanku untuk Mas Andre.' Irma dibuat terperangah oleh pertanyaan Rita.
__ADS_1
"Apa Mamah meragukanku?" tanya Irma begitu pelan.
"Mamah tidak meragukanmu, tapi mamah meragukan mantan suamimu."
Rita menggeser tubuhnya, membuat tubuh yang muda itu menghadap ke arah Irma. Lantas, ia menarik Irma untuk menghadap dirinya juga. "Jika suamimu ingin kembali. Siapa yang akan kau pilih? Masalalumu atau Andre?" tanyanya sembari mengangkat dagu Irma, membuat mata keduanya saling bertemu.
'Apa yang Mamah lihat dari Mas Ryan, sampai Mamah berpikir sejauh itu?'
"Untuk apa aku kembali kepada orang yang telah membuat hidupku bagaikan di neraka? Dulu aku dan Mas Ryan menikah karena dijodohkan, meskipun seperti itu aku pernah berharap pernikahanku berjalan lancar dan akan tumbuh cinta diantara kami. Tapi ... nyatanya, hanya orangtuanya yang merimaku, dia tidak. Bahkan, ia dengan teganya menginjak harga diriku sebagai seorang istri tanpa ampun. Ia tega membawa wanita lain dan bermain di kamar kami. Haruskah aku kembali kepada orang seperti itu? Bahkan jika tak ada Mas Andre pun, tak sudi aku kembali padanya. Sama saja aku merelakan harga diriku kembali diinjak-injak kembali. Bukan tak mungkin ia akan melakukan hal yang lebih parah dari kemarin." Tangis Irma tak dapat terbendung. Rasa sakit itu datang lagi. Masalalu yang telah diobati oleh Andre itu, kembali terlintas di kepala.
Rita bisa melihat betapa menderitanya Irma menjalani rumah tangga dengan lelaki itu, membuatnya merasa bersalah karena kepenasarannya telah memaksa Irma mengungkit masalalu yang berusaha Irma lupakan itu.
"Dia bukan seorang suami tapi seorang monster. Bahkan sikapnya semakin menggila saat ia tahu aku tak—"
Dengan air mata yang terus berderai, Irma tak sadar ia hampir saja mengungkap sesuatu yang telah disepakatinya bersama Andre untuk menjadi rahasia mereka. Namun, belum sempat Irma menyatakan semuanya, Rita menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Maafkan, mamah. Maafkan mamah, Sayang. Mamah tak bermaksud untuk mengungkit lukamu. Mamah hanya takut kamu akan kembali kepada lelaki itu dan meninggalkan Andre, jika lelaki itu mengajakmu kembali. Mamah bisa melihat, ada tatapan lain dari tatapan mantan suamimu. Semoga saja itu hanya pikiran mamah saja. Sekali lagi mamah minta maaf." Rita mengecup pucuk kepala Irma.
"Tak mungkin aku membuang berlian hanya untuk lumpur tak berguna yang hanya akan mengotori saja. Mas Andre tak akan sebanding jika disamakan dengan lelaki bejad macam dia, Mah," ujar Irma disela-sela tangisnya.
"Mamah tahu. Sudah, jangan menangis lagi! Mamah percaya kamu seratus persen."
__ADS_1
Bukannya mereda, tangis Irma malah semakin menjadi saat mendengar jawaban Rita. Ia memeluk erat wanita paruh baya itu, ada rasa nyaman berada didekatnya. Sejak awal ia bukan tak percaya kepada Irma, hanya saja ia takut pernikahan sang anak terganggu oleh hadirnya masalalu Irma.
Sementara itu di mobil lain, tampak seorang pengemudi sedang tersenyum-senyum sendiri. Entah apa yang ada dipikirannya, hanya dia sendiri yang tahu. Membuat seseorang yang ada di sampingnya, memicingkan sebelah matanya, menatap heran ke arah si anak.
"Cantik," gumamnya tanpa sadar memuji wanita yang sudah disakitinya berkali-kali itu.
Mengerti dengan apa yang dipikirkan sang anak, orang yang berada kursi penumpang dan tak lain adalah Ambar langsung memukul cukup keras bahu si anak, membuat Ryan meringis kesakitan.
"Siapa yang cantik? Apa kau sedang memikirkan Irma?" bentak Ambar.
"Bukankah dia memang cantik?"
"Dari kemarin kamu ke mana saja, di saat dia akan menjadi milik orang lain kau baru menyadarinya. Sudah terlambat! Ingat kau sudah punya anak istri! Jangan berpikir yang aneh-aneh! Cukup sekali kamu itu menyakiti Irma, jangan lagi!" ujar Ambar. "Ingat jangan aneh-aneh! Kalau kau tak mau mamah juga memecatmu jadi seorang anak," lanjut Ambar penuh penekanan.
"Tapi bukankah syarat dari Papah kalau aku mau diakui lagi jadi anak papah, aku harus kembali kepada Irma?" Ryan mengingat betul persyaratan dari ayahnya kala itu.
"Persyaratan itu sudah kadaluarsa. Jangan macam-macam kalau tak mau mamah dan ayahmu mati gantung diri karena kelakuan memalukanmu." Ambar mengingatkan sang anak yang kelakuannya selalu membuatnya sakit kepala. Masalah satu belum selesai, malah akan menambah masalah baru lagi. "Ketimbang ngejar calon istri orang berusahalah dapat restu dari papahmu lagi untuk pernikahan kamu yang sekarang. Mungkin saja dia akan luluh jika sudah melihat kelucuan cucunya."
"Lihat saja nanti," jawan Ryan sembari memamerkan senyumnya, seakan-akan semua ucapan Ambar masuk dari telinga kiri dan keluar telinga kanan.
"RYAN !!!!" pekik Ambar, membuat suaranya memenuhi mobil dan terasa pengang di telinga Ryan.
__ADS_1