Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
37


__ADS_3

Setelah rapat paripurna dadakan yang diselangi adu mulut sampai saling lempar bantal sofa antara Naura dan Friska dan diakhiri gelak tawa keduanya, Dimas pun memilih mengajak sang istri untuk pulang ke sebelah rumah Andre. Bila terlalu lama di satukan dengan Friska, bisa-bisa Andre dan dirinya stres dadakan oleh ulah dua wanita beda status itu—meskipun seumuran.


"Friska orangnya asyik juga, ya, meskipun lebih banyak ngeselinnya," imbuh Naura begitu mereka berada di depan pintu rumah Ranti, menunggu si pemilik rumah mempersilakan mereka masuk.


"Kalian sama gesreknya." Dimas mengelus kepala yang bersandar di dadanya.


"Wah, suami gak ada akhlak, istri sendiri dibilang gesrek." Naura mencubit pinggang Dimas, lalu mengkilitiki lelaki itu.


Tak tahan diklitiki, tawa Dimas pun pecah sembari memohon ampun kepada sang istri untuk mengakhiri kejahilannya. Bertepatan dengan itu pintu juga terbuka, tampak Ranti membukakan lebar pintu untuk sepasang suami istri yang malah tertawa malam-malam di teras.


"Kalian, kenapa malah ketawa-ketiwi di depan rumah? Mamah sampai sempat mikir dua kali untuk buka pintu, takutnya Nyi Kun lagi bertamu ke rumah." Ranti mengomeli anak dan menantunya, lalu mepersilakan keduanya masuk.


"Mana ada Kun ganteng dan cantik kayak gini? Mamah ada-ada aja," imbuh Naura sambil menarik Dimas, nyelonong masuk. "Gara-gara Mamah aku hampir saja gantiin 2 kilo telur yang pecah itu dengan mecahin dua butir telur yang lain. Bahkan, aku sampai nyiram mereka malam-malam gini." Setelah puas mengomeli dua kakak-beradik di rumah sebelah, kini giliran mamahnya sendiri yang kena omel.


"Memang kamu apakan Andre? Mamah kan cuma minta memastikan siapa yang bersama Andre. Bukan nyuruh ngapa-ngapain dia." Ranti membela diri.

__ADS_1


"Au, ah. Tanya aja sama Papol. Aku terlalu lelah habis nguras energi banyak sekali, jadi hari ini aku nginep sini, ya!" ujar Naura, kemudian. "Kakak di mana, Mah?" Tiba-tiba ia teringat sang kakak yang tidak terlihat batang hidungnya.


"Belum keluar kamar."


Mendengar jawaban Ranti, Naura hanya ber-oh ria, tak sedikit pun menampakkan kekhawatirannya seperti di sambungan telepon. "Kalau gitu aku ke kamar kakak dulu. Ngobrol sama mamah dulu aja, ya!" pinta Naura, yang dijawab anggukan Dimas.


Lantas, ibu hamil itu pergi ke kamar Irma. Seperti yang diucapkan Ranti, ternyata Irma masih mengunci diri di kamar. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya Irma pun membukanya.


'Sekacau ini kah hidup Kakak seminggu ini? Aku jadi merasa bersalah telah mengizinkan Andre melakukan ide dari Mamah Ana.' Naura menatap Irma dari ujung kepala sampai ujung kaki yang terlihat sangat kacau, bahkan matanya sudah membengkak akibat tangis yang tak pernah berhenti.


Dengan segera, tangan Naura menghentikan aksi si kakak dan langsung masuk ke dalam kamar—mendahului Irma—dan ibu hamil itu dibuat semakin terperangah melihat keadaan kamar yang sudah seperti kapal pecah. 'Apa kakak juga setiap ada masalah seperti ini? Kenapa aku baru tahu? Sikapnya yang lebih suka tertutup, membuatku tak tahu sepenuhnya tentang kakakku sendiri. Adik macam apaan aku ini?' Terselip rasa sesal kepada dirinya sendiri, selama ini ia tak sepenuhnya memahami kakaknya sendiri.


Melihat kekacauan Irma, tak terasa cairan bening pun merembes keluar dari pelupuk mata Naura. Tak ingin terlihat oleh Irma, ia pun segera mengusap cairan bening itu dengan ujung telunjuknya.


"Maaf, kamarku berantakan sekali. Kakak belum sempat membereskannya sejak semalam," ujar Irma sembari memunguti bantal yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Kamarku udah terbiasa berantakkan, lebih parah dari ini. Nanti saja bereskannya. Duduklah sini!" Naura menarik tangan yang sedang meletakkan bantal di kasur, meminta Irma untuk duduk di sampingnya.


Tanpa membantah Irma pun duduk di samping Naura. Terlalu banyak rasa sakit yang ia sembunyikan dari keluarga, membuat Irma kali ini tak mampu lagi memendam semua sendiri. Irma berhambur ke pelukkan sang adik dengan air mata yang kembali mengalir deras.


"Menangislah, Kak, jika itu bisa membuatmu tenang. Keluarkan semua beban yang ada di hatimu!" Naura menepuk-nepuk punggung Irma yang masih menangis tanpa berbicara sepatah kata pun. "Jika kamu butuh teman untuk curhat, aku dengan senang hati akan mendengarkan curahan hatimu. Aku tahu Kakak menangis bukan karena Andre saja. Ada hal lain yang Kakak sembunyikan karena Kakak bukanlah orang yang lemah hanya karena melihat Andre memeluk wanita lain. Kakak pernah mengalami hal yang lebih parah dari itu. Jangan pendam sendiri, Kak! Mari kita cari solusinya sama-sama," lanjut Naura, ketika tangis Irma mulai mereda.


Irma tak menjawab. Ia melepaskan pelukkannya, lantas beranjak mengambil kertas yang tadi ia simpan kembali ke laci—tanpa bicara sepatah kata pun, sehingga membuat Naura berpikir mungkinkah dirinya salah bicara.


Irma kembali dengan sebuah kertas yang langsung disodorkan kepada Naura. "Bacalah!"


"Ini apa?"


"Itu adalah akar masalah dari semua yang terjadi di kehidupanku," ujar Irma sambil duduk kembali di samping Naura.


Dengan segera, Naura membaca isi kertas yang diberikan Irma. "Ya, Tuhan. Ini apa?" Ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, bahkan kertas itu sampai terjatuh dari tangan Naura. Ia pun langsung memeluk Irma, kenyataan yang disembunyikan Irma benar-benar sangat pahit. Naura bisa merasakan kesakitan yang dirasakan Irma, saat Irma harus menerima kenyataan menyakitkan itu ditambah lagi dikhianati sang suami dan sekarang kertas itu menjadi penyebab kebingungan tak berujung bagi kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2