
Sikap dingin Andre saja sepertinya belum cukup untuk Irma. Sekarang, ia juga harus menerima introgasi sang adik yang melebih seorang penyidik. Belum lagi, Irma yang salah menjawab, membuatnya di-skakmat oleh sang adik.
"Kalau boleh tahu, Ibu Alesha Irmania kena razia di mana? Bukannya yang ada razia itu di Jalan X, ya? Itu jauh, lho, dari pasar. Bukan jalan biasa yang suka dilewati pula, lho!" tanya Naura sembari menaik-turunkan alisnya.
'Ish, kenapa aku bisa lupa?' rutuk Irma dalam hati.
"Jalan yang biasa kita lewati lagi ada perbaikan, jadi Kakak lewat Jalan X. Eh, tahu-tahunya ada razia." Irma mencari alasan lagi.
"Masa?" goda Naura yang tak percaya dengan jawaban Irma.
"Iya. Memang ada alasan lain?"
"Kenapa nanya sama aku? Tanya saja sama diri Kakak sendiri," jawab Naura sembari menghias red pelvet yang ia buat khusus untuk sang suami. "Kali-kali bikinin Andre kue special siapa tahu dia luluh lagi," lanjutnya yang memang sudah tahu rencana Andre dari Dimas. "Enggak usah pura-pura lupa bawa SIM dan STNK, orang-orang enggak akan percaya karena Kakak bukan aku," imbuh Naura lagi.
"ARA!" teriak Irma begitu mendengar ucapan terakhir Naura.
"Apa sih, teriak-teriak? Aku gak budeg?"
__ADS_1
"Apa yang kamu bilang tadi? Kalau ngomong jangan asal jeplak!" Meskipun ucapan Naura benar, tetapi Irma tak mau Naura tahu kelakuannya yang bila dipikir oleh logikanya lagi itu sangat memalukan.
"Enggak perlu malu. Aku suka perjuanganmu! Makanya jangan sok jual mahal! Kalau suka , bilang aja." Naura menasehati. "Kalau nanti di tinggal nikah baru tahu rasa, lho! Bahaya kalau nanti kayak si Nadia, kena amnesia dan akhirnya berjuang jadi pelakor. Ih, amit-amit! Jangan sampai kakakku kena penyakit begituan." Naura memukul kepalanya sendiri tiga kali.
"De, ngomongnya pake filter!" Irma tak suka dengan ucapan Naura yang terakhir.
"Filter sendiri saja. Ambil yang baiknya, buang yang jeleknya. Tapi, aku bener lho, Kak. Jangan sampai Kakak menyesal nantinya! Andre orang baik, meskipun sedikit sableng tapi aku tahu dia sungguh-sungguh dengan cintanya." Naura kembali mengingatkan sang Kakak.
Irma tak lagi menyanggah. Naura pun memilih pergi memberikan waktu kepada Irma untuk memikirkan ucapannya. Ia menatap kepergian Naura, semua ucapan adiknya memang ada benarnya. Wanita itu pun tak dapat memungkiri ada rasa takut jika suatu saat hatinya menolak bila harus melihat lelaki itu bersanding dengan oranglain. Keacuhan Andre membuat egonya semakin goyah, rasa yang dimilikinya semakin menjalar menguasai seluruh isi hati dan kepalanya. Bahkan, baru mendengar lelucon Naura saja sudah membuat darah Irma mendidih dan seketika dadanya pun terasa panas.
Bagi Irma hari ini berjalan terasa lambat. Ucapan Naura terus terngiang di kepala wanita tiga puluh tahun itu, ditambah lagi sikap Andre seminggu ini juga terus mengganggu pikirannya, membuat ia merasa seakan-akan waktu tidak berputar seperti biasanya. Berulang kali ia melihat jarum jam, entah mengapa ia ingin segera pulang lalu merilekskan jiwa dan raganya, serta meluapkan segala emosi pada lembaran kertas yang sedikit banyak bisa mengobati kegundahannya.
Namun, hari sepertinya tidak bersahabat dengannya, disaat ia ingin segera pulang, toko malah semakin ramai. Hingga akhirnya, wanita itu pun menutup toko saat waktu hampir menjelang magrib dan baru bisa pulang.
Hari sudah mulai menggelap, Irma baru tiba di jalan komplek rumah, beriringan dengan sebuah mobil yang juga bergerak menuju tempat yang sama. Bahkan saat motor Irma berhenti, mobil itu pun ikut berhenti.
"Itu mobil siapa, Kak? Kenapa berhenti di depan rumah kita?" tanya Ranti, begitu turun dari motor.
__ADS_1
"Entahlah," jawab Irma yang sebenarnya juga penasaran.
Seorang wanita pun turun dari mobil. Mereka yang penasaran siapa wanita itu tak lantas masuk ke rumah. Irma dan Ranti tampak memperhatikan wanita yang baru turun dengan sebuah koper di sampingnya.
"Apa Mamah mengenalnya?" Ranti hanya menggeleng karena memang ia tak mengenal wanita itu. "Aku juga tak mengenalnya. Lalu, dia hendak bertamu kepada siapa? Kok berhenti di depan rumah kita?" tanya Irma lagi yang dijawab Ranti dengan menggerakkan bahu.
Wanita yang masih berdiri di tepi jalan pun, tampak menghubungi seseorang, hingga wajahnya yang tersorot lampu itu bisa terlihat jelas kegirangan saat seseorang keluar dari rumah dan menghampirinya.
"My firt love, Love-loveku, aku merindukanmu!" teriaknya saat orang yang keluar dari rumah yang tak lain adalah Andre menghampirinya, lalu memeluk Andre dengan sangat erat—melepas kerinduan.
Pemandangan di tepi jalan itu tak luput dari perhatian Ranti dan Irma. Irma mendengar jelas ucapan wanita yang terlihat lebih muda darinya itu. Irma melihat mereka saling berpelukan, bahkan dengan jelas ia melihat Andre mencium kening wanita yang ada dipelukannya.
Sakit itulah yang dirasakan Irma, melihat pemandangan dua insan saling merindukan di hadapannya. Hingga, akhirnya telur pengganti telur pecah tadi pagi pun, kembali terpecah belah—terlepas dari tangan Irma karena tak siap menerima kenyataan.
"Ini apa lagi?" Irma langsung berputar, tak memedulikan lagi telur yang pecah.
Tak tahan melihat pemandangan yang menyakitkan, ia lantas membuka kunci dan segera masuk ke rumah, lalu menutup kembali pintu dengan sangat keras—membuat Ranti dan mereka yang sedang berpelukan terkejut.
__ADS_1