
Hari Ini dewi malam terasa lebih cepat menghampiri. Irma dan keluarga yang sejak pagi menyiapkan penyambutan calon besan pun, bahkan masih tampak sibuk dengan ini dan itu. Untung saja menjelang sore Budi (uwa Irma) dan istrinya telah tiba di rumah Irma, sehingga mereka bisa membantu.
"Kenapa acara dadakan seperti ini?" tanya Budi kepada istri mendiang adiknya yang sedang mengabsen barang-barang yang akan diserahkan kepada calon besan.
"Entahlah, Kang. Aku aja dibuat riweh."
"Sudah kebiasaan Ranti mah, Yah. Gak ingat apa waktu Naura jauh lebih parah? Tahu-tahu kamu diminta jadi wali nikah saja," Yuni, istri Budi, juga ikut menimpali.
Ranti hanya bisa memamerkan senyumnya, karena semua yang dikatakan kakak iparnya memang benar adanya. Sementara itu, seorang wanita yang merasa namanya disebut-sebut pun, menghampiri mereka sambil mengucek-ucek kedua matanya yang baru saja ia ajak istirahat.
"Kalian ngomongin Ara, ya?" selidik Naura, lalu menyalami sepasang suami istri itu. "Uwa kapan datang?" tanyanya lagi, yang baru saja bertemu Budi dan Yuni, padahal mereka sudah cukup lama sampai.
"Anak ini masih saja percaya dirinya tingkat tinggi," imbuh Budi sambil mengusap lembut pucuk kepala keponakannya.
"Harus." Senyum tertampil di wajah yang semakin cuby itu. "Uwa kapan datang? Kenapa tidak bangunin Ara?" tanyanya lagi, merajuk.
Setelah ayahnya meninggal, hanya Budi lah yang menjadi pengganti ayah Naura dan Irma. Keluarga mereka bukan keluarga besar, ayahnya hanya memiliki kakak yaitu Budi, sedangkan ibunya merupakan anak tunggal. Membuat Irma dan Naura tak memiliki banyak saudara, hanya kepada uwanya itu tempat mereka bersandar selain kepada sang ibu. Ditambah lagi, Budi dan Yuni sangat memanjakan keduanya karena sepasang suami istri itu tak bisa dikaruniai anak, membuat keduanya begitu dekat dengan mereka.
"Belum lama. Uwa tidak mau mengganggu tidurmu yang sangat pulas, jadi uwa temui kakakmu dulu." Budi mencoba menjelaskan.
"Keponakan uwa makin hari makin cantik saja." Yuni memuji Naura yang tampak lebih berisi dengan perut yang semakin membesar. "Bentar lagi uwa bakal punya cucu, nih! Sudah berapa bulan, De?" tanya Yuni, sembari mengusap perut Naura yang sudah mulai membesar.
"Mungkin tiga bulanan lagi, Wa."
"Semoga ibu dan bayi diberi limpahan kesehatan dan lancar sampai lahiran nanti," imbuh Yuni lagi, yang di-amin-kan oleh mereka yang ada di sana. "Kakakmu sedang bersiap-siap, sebaiknya kamu liat gih! Siapa tahu butuh batuan," lanjut Yuni.
__ADS_1
Naura mengangguk, lalu menemui Irma yang sedang bersiap-siap.
***
Selepas Isya, Andre dan keluarga benar-benar menunaikan niatnya dengan membawa seserahan, mereka tiba di rumah yang hanya beberapa langkah dari rumahnya. Mereka pun di sambut hangat oleh keluarga Irma dan dipersilakan masuk ke rumah.
Andre tampak celingak-celinguk mencari sosok yang tadi pagi tergelatak di lantai. Namun, dari semua yang menyambut mereka tak ada Irma di sana.
"Nyari apa, Kak?" Friska menepuk bahu sang kakak saat melihat Andre yang pandangannya tak tentu arah.
"Pasangannya disembunyiin dulu sampai pembawa acara nyuruh keluar." Anisa juga ikut menimpali.
"Apa, iya?" tanya Andre tak percaya.
"Iyalah, gitu aja gak tahu. Aku aja tahu," imbuh Friska.
"Makanya kalau ada yang lamaran hadir, biar tahu," ujar Friska lagi.
"Ngapain datang dilamaran orang? Diundang kagak, yang ada mecahin gelas. Masih untung mecahin gelas doang, gimana kalau langsung kesetrum pengen lamaran juga?"
"Shutt ... diamlah kalian ini. Acara sudah mo dimulai." Anisa menengahi keduanya, saat melihat seorang dari pihak keluarga Irma membuka acara.
Mereka pun terdiam, mendengarkan dengan seksama pembukaan acara lamaran tersebut. Selanjutnya, masuk ke dalam acara inti, perwakilan dari keluarga Andre mengutarakan tujuan kedatangan mereka untuk melamar Irma. Lalu, menanyakan kesediaan keluarga mempelai wanita menerima lamaran tersebut.
Setelah keluarga Andre mengutarakan maksud dan tujuannya, Irma pun dipersilakan untuk hadir ke ruang tengah yang di jadikan tempat lamarannya. Didampingi sang adik, Irma melangkah mendekat ke tempat duduk yang sudah dipersiapkan untuknya.
__ADS_1
"Ya, Tuhan! Bidadariku benar-benar sangat cantik. Langsung nikah sekarang pun aku rela bin ridho," gumam Andre sangat pelan. Matanya begitu memuja wanita yang memakai gamis peach itu. Andre tak bisa berpaling meski sedetik pun dari Irma yang sedang berjalan mendekat.
Semua orang pun tertuju kepada dua wanita yang baru saja hadir. Mereka memuji kecantikan Irma yang terlihat sangat anggun dengan gaun muslimah yang digunakannya. Tidak akan ada yang menyangka kalau wanita yang akan dilamar Andre itu merupakan seorang janda.
Andre memamerkan senyum saat Irma duduk di dekat Ranti dan Budi yang tak jauh juga darinya dan tanpa sengaja mata mereka saling bertemu. "Cantik," gumam Andre tanpa suara, yang berhasil membuat Irma tersipu malu dan lebih memilih menunduk daripada digoda lagi oleh si calon suami.
Di belakang Ranti dan Budi, juga duduk sepasang suami istri yang tak kalah menjadi pusat perhatian setelah kedua calon mempelai.
"Hari ini auramu buat aku gak nahan sesuatu," bisik Dimas, begitu Naura duduk di sampingnya.
Seharian tak bertemu dengan sang istri, ia dibuat terpesona dengan tampilan Naura yang menurutnya lebih cantik dari siapa pun, bahkan miss world sekali pun.
"Apa sih? Aku ini pakai hijab dan gamis, lho. Emangnya pakai bik*ni, hingga buat kamu gak tahan?" Naura yang mengerti maksud Dimas langsung mencubit lengan si suami.
"Hari ini kita tidak boleh nginep. Titik," ujar Dimas, sembari mengerling.
"Liat entar."
"Enggak. Titik. Kalau gak mau bikin geger orang-orang yang nginep di sini."
"Ish! Diamlah, kita malah bikin acara di dalam acara. Gak sopan tahu. Kita bahas lagi nanti," jawab Naura dengan pandangan lurus ke depan, tak ingin meladeni ucapan sang suami.
"Fix," bisik Dimas lagi, kemudian pandangannya mengikuti si istri, lurus ke depan.
Naura tampak fokus mendengarkan Si pembawa acara yang menanyakan jawaban dari Irma dan keluarga, yang sudah pasti jawabannya tak perlu diragukan lagi pasti 'iya'.
__ADS_1
Happy reading, Kak. Hari ini up-nya satu aja, ya🤗🤗🙏🙏