Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
57


__ADS_3

Gelak tawa dari dua wanita berbeda generasi pun terdengar dari meja dekat kaca yang menghadap ke luar cafe. Sembari menunggu pesanan datang, Rita dengan antusias menceritakan kenakalan-kenakalan masa kecil Andre yang berhasil mengundang tawa Irma. Sampai seorang pelayan menghampiri mereka, membawa dua porsi nasi goreng super pedas beserta satu gelas milk shake strobery dan satu gelas es thai tea.


"Selamat menikmati," ujar Pelayan itu seraya membungkuk setelah menghidangkan pesanan Irma dan Rita di meja.


"Terima kasih," balas Irma, lalu si Pelayan pun pamit.


Makanan sudah tersaji di hadapan mereka. Bukannya langsung makan, Rita malah tak kuasa menahan tawa.


"Mamah kenapa?" Irma memicingkan sebelah matanya, melihat Rita yang malah tertawa.


"Mamah gaya-gayaan ngajakin kamu masuk cafe, tetap aja wong desanya tetep nempel. Enggak ada kekiniannya. Orang ke cafe itu pesannya pasta ... sandwich ... french fries ... atau pastry." Rita mengingat nama-nama menu di buku menu. "Ini malah pesan nasi goreng, di depan juga banyak!" lanjutnya menertawakan apa yang dipesannya dan karena Irma meminta menu disamakan, jadi tersajilah dua porsi nasi goreng di depan mata. "Bahasanya aja keren, yang muncul tetap aja nasi goreng."


Irma hanya mengulum senyum, ingin tertawa, tetapi takut tak sopan menertawakan calon mertua. Ternyata sebelumnya, Rita tak tahu kalau yang dipesannya itu adalah nasi goreng karena dalam buku menu yang tertulis bukan nasi goreng melainkan super spicy fried rice, hingga tibalah pelayan yang membawa nasi goreng super pedas, dan berhasil membuat Rita melongo. Tawa Rita pun menggelegar, begitu pelayan sudah tidak ada, menyadari betapa minim pendidikannya dalam bahasa asing.


"Apa Mamah mau pesan yang lain? Biar Irma pesanin lagi," tawar Irma.


"Enggak usah, Sayang, keburu mati cacing mamah kalau harus nunggu lagi. Belum lagi nama-namanya yang aneh, belum tentu cocok sama lidah mamah." Rita menolak tawaran sang menantu, lalu memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Seketika, Rita terdiam dengan gigi yang masih mengunyah, lidahnya merasakan setiap bulir nasi yang ada di mulut. Ada sensasi aneh dari nasi goreng yang dimakannya jika dibandingkan dengan nasi-nasi goreng lain yang pernah dirasakannya.


"Kenapa, Mah? Apa mau ganti menu lagi?" tanya Irma lagi, melihat mimik Rita susah diartikannya, padahal menurut Irma tak ada yang aneh dengan rasa nasi goreng tersebut.

__ADS_1


"Enggak nyesel mamah pesen nasi goreng di sini. Rasanya enak banget. Beda dengan semua nasi goreng yang pernah mamah cicipi, apalagi pedasnya nampol banget," tutur Rita sembari memasukan lagi nasi goreng ke mulut. Mulutnya tak mau berhenti sampai piring tersebut bersih mengkilat.


"Lain kali makan lagi ke sini, ya!" tutur Rita sambil menyeruput es thai tea, begitu makanan mereka habis.


"Boleh, Mah." Irma memamerkan senyumnya kepada si ibu yang perutnya sangat puas dengan hidangan di sana.


Namun, senyum Irma tiba-tiba memudar ketika ada dua orang yang berjalan ke arahnya. Irma langsung menunduk, berharap dua orang itu tak melihat kehadirannya di sana. Akan tetapi, Irma salah. Salahsatu dari mereka telah menyadari kehadirannya, hingga mereka pun benar-benar menghampiri Irma.


"Irma, Sayang apa kabar?" tanya Ambar yang tak lain adalah mantan mertua Irma.


Irma dibuat terperangah oleh Ambar yang tiba-tiba menghampiri dan menyapanya, padahal dalam hati ia terus berdoa agar mantan mertua dan mantan suaminya tidak melihat kehadirannya di sana. Rita yang membelakangi arah suara pun, langsung menoleh begitu mendengar ada yang menyapa calon menantunya dengan sebutan sayang.


Irma melampirkan senyumnya, meskipun tak dapat dipungkiri ia begitu canggung. "Kabar baik, Mah. Mamah apa kabar?" tanya Irma, sembari berdiri dan menyalami wanita paruh baya yang selalu baik padanya, meskipun sudah menjadi mantan menantu. Namun, Irma takut terjadi kesalahpahaman kepada Rita.


'Mamah? Apa dia mantan mertuanya? Kenapa tampaknya masih akrab sekali, sampai rangkul-rangkulan dan cium-ciuman gitu?' Entah rasa apa yang merasuki hati Rita. 'Apa lelaki itu mantan suaminya?' Rita memerhatikan lelaki yang tak berkedip menatap Irma, meskipun Irma tak sedikit melirik lelaki itu.


"Kabar baik, Sayang. Kamu dengan siapa di sini?" tanya Ambar melirik ke arah Rita seraya tersenyum.


"Owh, iya. Perkenalkan Mah, ini Mamah Rita. Mamah Rita perkenalkan ini Mamah Ambar." Irma memperkenalkan keduanya dan mereka pun saling berjabat tangan sembari menyebutkan nama masing-masing.

__ADS_1


"Kalau yang ini?" Rita menunjuk lelaki yang tidak diperkenalkan Irma.


"Perkenalkan nama saya Ryan, Tan!" Ryan pun memperkenalkan dirinya sendiri.


'Tuh, benerkan. Pantas saja Irma terlihat kaget pas mereka menyapa.' Rita berujar dalam hati, membenarkan praduganya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa tak sukanya kepada lelaki di hadapannya, apalagi ia bisa melihat dengan jelas kalau lelaki itu memperhatikan calon menantunya. "Rita, saya calon mertuanya Irma," ujar Rita dengan penuh penekanannya di setiap ucapannya.


"Irma mau menikah? Wah, selamat, ya!" Dengan senyum yang tertampil Ryan mengulurkan tangan, mengucapkan selamat.


"Terima kasih." Irma menjawab, tanpa menjabat uluran tangan itu, membuat Ryan menarik kembali tangannya.


Mendengar kabar mantan menantunya akan menikah lagi, Ambar pun langsung memeluk wanita kesayangannya itu. Bagi Ambar tak ada menantu sebaik Irma, dan Irma tak kan tergantikan meski pun sudah ada Elsa yang menggantikan posisi Irma di kehidupan Ryan.


"Selamat, Sayang. Selamat, Mamah ikut, senang. Semoga suamimu bisa menjaga dirimu dengan baik, tidak seperti anak mamah yang hanya bisa menyakitimu. Doa mamah selalu menyertaimu. Terima kasih selalu mengingatkan mamah." Ambar bahagia karena Irma telah mendapatkan kebahagiaannya kembali, tetapi sekaligus sedih karena ia akan benar-benar kehilangan kesempatan untuk menyatukan kembali Irma dan Ryan. Di hati kecilnya ia masih berharap Irma mau kembali dan memaafkan Ryan, seperti dirinya yang juga telah memaafkan anaknya itu. Meskipun suaminya masih tak terima, tetapi ia tetap memaafkan Ryan dan selalu menemui anak lelakinya itu di luar.


"Terima kasih, Mah. Semoga Mamah juga selalu bahagia," ucap Irma, "Tapi, maaf, Mah aku tak bisa lama-lama. Masih banyak yang harus dipersiapkan." Bukan Irma tak mau berlama-lama bertemu dengan Ambar, tetapi keberadaan Ryan yang juga ada di sana membuatnya serba salah dan lebih memilih untuk pamit.


Ambar dan Ryan menatap punggung Irma dan Rita yang sudah berjalan menjauh, meninggalkan cafe. Mata Ryan terus menatap si mantan istri, bahkan sampai wanita itu benar-benar tak terlihat lagi. Ini adalah kali pertama mereka bertemu setelah terakhir saat dirinya dapat ancaman dari Dimas dan Andre ketika ia menemui Irma karena tak terima didepak dari keluarganya sendiri.


'Kenapa ia jadi sangat cantik begitu?'

__ADS_1


__ADS_2