
Kecupan di kening Irma menjadi pamungkas kebersamaan sepasang suami istri itu di tanggal yang sama dengan tanggal saat Andre mengucapkan ijab kabul. Setelah Irma mencium tangan Andre dan mengucap salam, Andre berpamitan untuk pergi menjalankan kewajibannya kepada negara.
"Jangan lupa nanti malam!" pesan Andre sebelum berangkat yang senyuman lebar oleh sang istri.
Selepas mobil Andre tidak terlihat lagi, Irma juga bergegas pergi bersama Ranti yang baru keluar saat Andre sudah menjauh.
"Suamimu sudah berangkat?" tanya Ranti menghampiri si anak yang sedang menghidupkan motor.
"Udah, Mah."
Ranti tampak mengangguk-angguk, lalu naik ke atas sepeda motor. Ibu dan anak itu pun menyusul kepergian Andre, menembus jalanan pagi, berbaur dengan pengendara lain untuk pergi ke toko.
Ya, meskipun sudah menikah, Andre tidak mengekang Irma untuk diam diri terus di rumah menjadi ibu rumah tangga mutlak. Lelaki itu dengan senang hati mengizinkan Irma untuk tetap mengelola toko bersama ibu dan adiknya, toh, toko mereka hanya buka sampai sore, sehingga tidak mengganggu kebersamaan mereka sebagai suami istri. Selain itu, sebuah kesibukkan bisa mengalihkan pikiran Irma yang terkadang masih dihinggapi rasa takut.
Setiba di toko, Irma langsung masuk dapur dan berkutat di sana. Memeriksa semua bahan serta membuat list pesanan yang banjir lewat online. Seiring berjalannya waktu, toko yang ia rintis bersama Ranti dan Naura dari nol pun semakin ramai oleh pemesan, sehingga Irma harus menambah dua orang lagi pekerja untuk meringankan pekerjaan mereka.
"Nih, Kak, pesenan Kakak." Naura yang baru datang langsung menyodorkan pesanan Irma.
"Udah, nyampe?" Irma meraih paperbag di tangan Naura.
"Udah. Dan gara-gara paketan Kakak, aku ampe berdebat sama Papol," ujar Naura dengan bibir yang sudah mengerucut.
__ADS_1
"Kok, bisa?"
"Bisalah, kan dia yang terima paket. Ampe tengah malem dia mendumel gak jelas kayak orang lagi datang bulan. Pas, aku tanya baik-baik, dia bilang 'nunggu aku pakai isi paketnya'." Naura menjelaskan kejadian semalam saat suaminya merajuk karena isi paket yang dikirim ke rumah atas nama Naura.
"Jangan bilang kamu memakainya dulu?" Irma menyipitkan sebelah matanya, menatap si adik yang masih membayangkan kejadian semalam bersama Dimas.
"Ya, enggaklah!" ujar Naura sembari menyikut lengan Irma. "Tapi, gara-gara itu aku harus pesen tujuh lagi dengan warna mejikuhibiniu. Jadinya, kan, jebol!" Bibir Naura semakin mengerucut saja mengingat berapa uang yang ia transfer untuk membeli sarang laba-laba.
"Deritamu!" Irma menjulurkan lidah ke arah si adik, meledek, yang dibalas cebikan oleh Naura.
Waktu bergulir terasa sangat cepat, tidak terasa hari sudah mulai sore, bahkan adan asar sudah terdengar sejak setengah jam yang lalu menggema di mesjid-mesjid. Irma dan Naura yang suka menutup toko tidak lebih dari pukul empat pun tampak sudah membereskan toko, kemudian pulang ke rumah masing-masing.
Irma berdiri di depan cermin, menatap lamat-lamat dirinya yang sedang memakai baju kurang bahan, tetapi harganya selangit.
"Apa bagusnya baju ini? Sampai Dimas minta Ara membeli tujuh sekaligus?" Irma yang baru selesai mandi langsung mencoba baju rekomendasi dari Naura yang menurut wanita itu bisa menjadi kado terwow yang Irma berikan kepada Andre. "Apa enggak mirip jal*ng?" tanya Irma pada dirinya sendiri, seumur hidup ia baru pertama kali memakai baju seperti itu. Bahkan, selama menikah dengan Ryan pun ia tidak pernah membeli barang tersebut. "Tau, ah! Mending aku siapin buat makan malam." Sejurus kemudian, Irma mengganti pakaian kurang bahannya, lalu pergi ke dapur mempersiapkan segala urusan untuk membuat acara malam ini semakin special.
Irma kembali ke dapur yang beberapa waktu lalu digunakannya untuk membuat beberapa menu makanan untuk makan malam romantis bersama sang suami. Melihat jam yang sudah lebih dari magrib, ia pun langsung menata makan malam di meja dengan di temani kue tart yang sudah dihias serta dibubuhi lilin tersedia di atas meja.
"Selesai, tinggal nunggu suamiku pulang," gumam Irma dengan senyum yang mengembang, melihat persiapan surprise-nya berjalan sempurna. Kemudian ia berjalan ke ruang tengah, memilih menunggu Andre dengan di temani drama-drama sinetron di layar kaca.
Lima belas menit berlalu, setengah jam berlalu dan satu jam pun ikut berlalu. Berkali-kali, Irma menengok jam dinding, tetapi belum ada pertanda suaminya akan pulang. Senyum yang sejak tadi mengembang, tak sabar menyambut kepulangan sang suami, perlahan menghilang. Tegantikan rasa khawatir yang mulai menyeruak. Tak seperti biasanya Andre pulang lebih dari waktu magrib, bahkan selepas isya, kecuali ada acara dadakan dan itu pun biasanya Andre akan memberi kabar terlebih dahulu. Namun, kali ini tidak ada satu pesan pun masuk ke ponsel Irma, kecuali pesan pukul 05.00 yang mengatakan lelaki itu sudah dalam perjalanan pulang. Bahkan, beberapa kali Irma mencoba menghubungi pun panggilannya tidak ada yang tersambung.
__ADS_1
"Kamu ke mana, Mas? Kenapa belum pulang?" Irma menggigit jari, sembari menatap ponsel yang panggilannya selalu dialihkan ke operator.
Perasaan wanita yang sudah cantik dengan gaun merah yang dikenakannya pun semakin tak karuan. Ia berjalan hilir mudik sambil mencoba menghubungi Andre lagi, tetapi hasilnya tetap saja sama. Hingga terlintas satu nama yang mungkin tahu keberadaan suaminya, siapa lagi kalau bukan Dimas. Irma pun lantas mencari nama si adik ipar itu di kontak, lalu menghubunginya. Beruntung, tak perlu menunggu lama panggilan Irma langsung tersambung.
"Dim, Mas Andre di mana?" tanya Irma to the point, bergitu panggilannya di terima Dimas.
"Bukannya sudah pulang, Kak?" Terdengar suara Dimas di seberang sana yang tampak kebingungan.
"Tidak. Dia belum pulang, nomornya juga tidak aktip. Apa kamu tahu dia ke mana?"
"Seingatku tadi dia bilangnya mo langsung pulang, dia tidak mengatakan apapun lagi."
Irma membuang napas kasar. Tidak ada jawaban dari Dimas yang membuat Irma puas, yang ada malah membuatnya semakin khawatir.
"Ya, Tuhan. Kamu ke mana, Mas?" ucap Irma sangat lirih.
Rasa takut dan khawatir semakin menggerogoti Irma. Ia yang kini berada di ruang makan, hanya bisa termangu menatap makanan yang sudah dingin, kemudian beralih memandangi jarum jam yang terus berputar—berharap saat detik berganti sang suami pun sudah ada di hadapannya dengan keadaan baik-baik saja.
Sementara itu, di sebuah rumah sakit, Andre sedang berada di sebuah ruang bersalin. Andre berdiri di samping ranjang berisi seorang wanita yang baru saja melahirkan, bahkan bayi merah itu tampak begitu tenang berada di dalam gendongannya.
"Silakan di-adanin anaknya, Pak!" perintah suster yang memberikan bayi itu kepada Andre.
__ADS_1