
11
"Apa tokonya masih buka?"
Di saat Dewi masih kebingungan dengan jawaban yang hendak ia berikan kepada Irma, tiba-tiba suara seseorang mengagetkan Irma dan Dewi. Mereka pun langsung menoleh ke arah suara dan tampak seorang lelaki bersama seorang anak kecil di dalam gendongan sedang tersenyum ke arah mereka.
"Panjang umur," gumam Irma dengan senyum yang mengembang, melihat siapa yang baru saja masuk.
Sementara itu, Dewi langsung menunduk. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Dewi yang sebenarnya sudah mengagumi Ryan sejak beberapa bulan lalu, menjadi salah tingkah setelah tahu kalau Irma akan menjodohkannya dengan lelaki itu.
"Apanya yang panjang umur? Apa kalian sedang membicarakanku?" tanya Ryan menghampiri keduanya.
"Sedikit," jawab Irma sembari menekan ujung kuku telunjuk pada jempol.
"Apa dia membicarakan hal buruk tentangku?" tanya Ryan kepada Dewi.
Dewi mencoba mengontrol degup jantungnya yang mulai terasa tidak sehat saat mendengar lelaki itu bertanya kepadanya. Ingin menjawab tetapi lidah terasa kelu dan tidak mampu berkata apa-apa, hingga Dewi hanya mampu menggeleng pelan dengan tangan yang masih sibuk menghitung uang receh.
'Perasaan macam apa ini?' rutuk Dewi dalam hati. Bahkan kehadiran Ryan malah membuatnya tidak konsen menghitung.
"Mama ... Mama!" Tiba-tiba anak di dalam gendongan Ryan menunjuk Dewi sambil memanggilnya dengan sebutan 'mama'.
Alvino yang sudah bisa berbicara beberapa kata itu memanggil Dewi dengan sebutan mama sambil terus mengangkat tangan, meminta wanita itu menggendongnya. Bahkan, Alvino yang sudah belajar berjalan itu sampai berusaha turun dari gendongan sang ayah untuk menghampiri Dewi.
Sementara itu, Dewi semakin tidak konsentrasi saat Alvino memanggilnya 'mama'. Ia ingin meraih tubuh mungil itu dan membawa ke pangkuannya, tetapi tidak enak hati dengan Ryan.
"Sayang kamu mau ke mana?" tanya Ryan kepada Alvino yang tidak mau diam digendongannya.
"Mama ... Mama!"
"Dia ingin digendong Dewi, Mas," ucap Irma. "Saat kamu di Paris, mamah sering ngajak Alvino maen ke sini dan ia sangat senang saat bersama Dewi. Kamu dengar sendiri 'kan dia juga menyebutnya 'mama'." Irma mencoba menjelaskan dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
'Ternyata mereka sudah berjalan sejauh itu untuk menjodohkanku dengan wanita itu. Mereka bahkan sampai mendekatkan Alvino terlebih dahulu kepadanya,' ucap Ryan dalam hati.
Alvino terus merengek dan mulai menangis karena ayahnya tidak kunjung menurunkannya dan Dewi juga tidak menyapanya.
Melihat itu, Dewi pun menjadi tidak tega. Ia menghentikan aktivitasnya, lalu menghampiri Alvino. "Al, mau digendong sama mama? Sini mama gendong!"
Dewi menjulurkan kedua tangannya ke hadapan Alvino dan langsung disambut senyum riang bayi satu tahun tersebut sambil merentangkan kedua tangan. Dewi pun meraih tubuh mungil itu dan menggendongnya.
"Maaf merepotkan," ucap Ryan tidak enak hati.
"Aku sudah memisahkan cake untuk Al di pantry. Kamu suapin Al dulu aja, Dew," ucap Irma yang dijawab anggukan oleh Dewi.
Ambar sudah memberitahu Irma sebelumnya, jika Alvino akan pergi ke toko. Oleh karena itu, Irma sengaja menyisakan cake rendah gula kesukaan Alvino.
"Sejak kapan Al dekat dengan wanita itu?" tanya Ryan saat Dewi dan Alvino sudah tidak terlihat.
"Sejak mamah sering datang kemari, lalu melihat kedekatan Dewi dan Al serta melihat bagaimana Dewi memperlakukan anak kecil dan kemudian mamah memilih untuk menjodohkanmu dengan dia," jawab Irma tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Ryan sudah tahu kalau mamahnya ingin menjodohkan dirinya dengan anak buah Irma. Ia juga tidak menolak dengan permintaan itu, asalkan Irma juga setuju dengan pilihan Ambar. Dengan kata lain, Ryan akan menerimanya jika Irma juga menerimanya.
"Dia wanita baik-baik. Dia juga sama sepertiku sudah pernah merasakan pahitnya kegagalan dalam berumah tangga. Aku yakin dia bisa jadi istri dan ibu yang baik, asalkan Mas juga jadi suami dan ayah baik pula. Jangan mengharapkan segala sempurna kalau dirimu juga belum mengubah sikapmu," ucap Irma panjang lebar.
"Itulah masalahnya, sepertinya image buruk sudah melekat di diriku. Apa dia bakal mau berhubungan dengan orang yang juga pernah menyia-nyiakan sebuah pernikahan?"
"Itu tugasmu untuk meyakinkan dia kalau dirimu sudah berubah," tandas Irma.
Sambil menggantikan Dewi menghitung uang receh, Ryan hanya membuang napas kasar begitu mendengar ucapan Irma. Masa Lalu yang ia perbuat kepada Irma sangatlah buruk. Masih untung wanita di dekatnya itu masih mau memaafkan dan menerimanya sebagai saudara.
Sementara itu, Dewi yang sedang menyuapi Alvino cake di sebuah kursi yang tidak jauh dari Ryan dan Irma tampak sesekali melirik ke arah dua orang mantan suami-istri itu, penasaran dengan yang mereka bicarakan.
"Papa ... Papa!" ucap Alvino cukup keras, membuat Ryan dan Irma menoleh ke arahnya. Alvino tersenyum ke arah Ryan sambil mengacung-acung sendok yang sudah belepotan oleh cake karena anak itu juga ingin makan sendiri.
__ADS_1
"Al memanggilmu, samperin gih! Mulailah pendekatan dengan Dewi, siapa tahu kalian memang cocok dan berjodoh." Irma menyuruh Ryan untuk menemani Dewi dan Alvino.
"Kalau tidak jodoh?" Ryan menyipitkan sebelah matanya.
"Cari lagi, asal jangan bini orang," jawab seseorang yang baru saja datang.
"Beuh ... mulai lagi." Ryan langsung pergi dari tempat kasir begitu melihat bodyguard mantan istrinya sudah tiba. Ia lebih memilih menghampiri Dewi dan Alvino daripada di sana ujung-ujungnya akan ribut dengan Pak Polisi yang baru saja pulang bertugas.
Melihat siapa yang baru saja datang, senyum Irma kembali merekah. Ia lantas berdiri, hendak menghampiri sang suami. Namun, dengan cepat Andre menyuruhnya diam di tempat dan Andre segera menghampiri Irma.
"Sore, twins! Baba jemput kalian. Apa bubu-mu hari ini tidak bandel? Dia ingat pesan baba, 'kan?" ucap Andre sambil mencium perut buncit Irma.
"Baba tenang saja bubu tidak bandel," jawab Irma dengan bibir yang sudah mengerucut, lantas duduk kembali.
Ucapan Andre yang seakan-akan tidak memercayainya, membuat Irma kesal.
"Itu bibir kenapa? Minta dicium, ya? Nanti aja ciumnya di rumah, di sini masih ada pegawaimu. Ada Al juga, malu sama anak kecil," bisik Andre yang malah menggoda Irma.
"Baba ... ih ...." Irma semakin dibuat kesal, hingga sebuah capitan mendarat di perut yang masih berseragam itu.
"Iya, baba tahu. Bubu itu pengen disun, tapi nanti aja di rumah. Mau sampai bibir jontor pun hayu!" Andre semakin menggoda si istri.
"Tau ... ah. Baba rese," tandas Irma, yang kemudian lebih memilih fokus pada pembukuan yang sedang dikerjakannya. "Ba, Friska mana? Bukannya seharusnya Baba jemput Friska dulu?" Tiba-tiba Irma teringat adik iparnya yang tidak ikut bersama sang suami menjemputnya.
"Kakak kalian lama sekali, katanya mo pulang. Ayo!"
Belum sempat Andre menjawab, lengkingan suara cempreng Friska terdengar dari arah pintu, membuat semua orang menoleh ke arah pintu.
Friska sendiri yang ditatap oleh semua orang tampak terkejut saat melihat orang-orang menatapnya, terlebih lagi saat melihat orang yang sejak tadi dihubunginya sedang ada di sana dan tampak akrab dengan seorang wanita.
"Dia siapa? Kenapa kelihatan akrab sekali dengan Kak Ryan dan anaknya?" Friska menatap ke arah tiga orang itu dengan tidak berkedip, hatinya terus bertanya-tanya tentang mereka yang tampak sangat dekat dan membuat sudut hatinya terasa ngilu.
__ADS_1