Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
43


__ADS_3

Senyum Irma seketika menghilang saat mendengar ucapan Andre yang mengajaknya mengunjungi kedua orang tua lelaki itu di akhir bulan. Ia tampak kebingungan, bahkan bicaranya pun sampai tergagap-gagap. Sambil memainkan ujung-ujung kukunya, Irma mencoba mencari alasan, tetapi tak ada kata yang bisa keluar—bingung itulah yang dirasakan wanita itu.


Sadar akan perubahan sikap Irma, Andre pun memilih menepikan mobil. Sepertinya ada yang mengganggu pikiran sang kekasih, begitulah pikir lelaki itu.


"Kenapa menepi, Mas?" tanya Irma, saat Andre memperlambat laju mobil dan akhirnya berhenti di tepi jalan.


"Sepertinya kepalaku butuh refreshing," jawab Andre sekenanya dengan rentetan gigi yang sengaja ia pamerkan. "Kita maen dulu di sana, yuk!" ajaknya sambil menunjuk sebuah danau buatan yang ada beberapa meter dari tempat mereka parkir.


Entah kebetulan atau bagaimana, lelaki itu menepikan mobilnya tepat di tempat wisata air. Ia pun memilih mengajak wanita yang tampak gusar itu untuk menikmati sejenak tempat yang sudah mulai dibuka kembali.


Irma hanya mengangguk, lalu keduanya keluar. Mereka berjalan di tepian danau dengan perbincangan hangat dari keduanya sambil menikmati sejuknya suasana di sana yang begitu membuat damai. Sejenak, Irma melupakan ucapan yang terlontar dari mulut Andre.


"Kita naik itu, yuk!" Andre mengajak Irma menaiki perahu angsa untuk menikmati danau itu dari air.


Tanpa menunggu jawaban Irma, lelaki itu langsung menarik tangan Irma untuk menaiki salahsatu perahu yang terparkir di tepi danau. Mereka pun mengitari tempat itu dari atas air. Menikmati jernihnya air danau dari atas perahu. Tangan Irma pun tak bisa untuk tidak memainkan air itu, senyum juga tertampil di bibirnya. Ia tak bisa memungkiri, Andre memang paling jago dalam memahami dirinya. Lelaki itu bisa tahu kegundahan hatinya, tanpa harus terus memaksa bertanya.


"Terima kasih," ucap Irma. Ia tahu, Andre mengajaknya bermain ke sana, bukanlah untuk merefreshing-kan kepalanya seperti yang Andre ucapkan, melainkan untuk menenangkan diri Irma sendiri. "Maaf, bukannya aku tak mau bertemu orang tuamu."

__ADS_1


Akhirnya penjelasan yang ditunggu Andre akan keluar juga, tanpa ia harus memaksa Irma yang malah akan membuat wanita tertekan. Andre hanya tersenyum dengan tangan yang sudah menggenggam tangan Irma, sembari menunggu wanita itu melanjutkan pembicaraannya.


"Aku hanya takut mamah dan ayahmu tak bisa menerimaku. Apalagi dengan statusku yang kadang dipandang rendah oleh sebagian orang." Irma mengeluarkan kegundahannya.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Bukankah kamu sudah beberapa kali berhubungan dengan mereka. Pernahkah mereka melarang hubungan kita? Tidak, 'kan?"


"Tidak, karena mereka belum tahu kalau aku seorang janda."


"Keluargaku tak pernah mempermasalahkan hal seperti itu. Asalkan jangan menjalin hubungan dengan istri orang, mereka pasti merestui. Kamu ini hanya menakutkan hal-hal yang tak penting seperti itu. Aku pikir, kamu kenapa?" Andre merangkul bahu wanita yang duduk di sampingnya, menarik tubuh itu supaya kepala Irma bersandar di bahunya. "Dan, sepertinya mereka sudah tahu juga."


"Kamu tahu sendiri, mulut Friska kadang gak bisa di rem." Andre melempar senyum kepada wanita yang sedang mendongak ke arahnya.


"Enggak beda jauh kayak kakaknya. Mulutnya juga gak bisa direm. Banyak bicara." Irma membalas senyum itu.


"Gimana aku bisa ngerem mulutku, kalau aku selalu disuguhkan senyum manis ini." Andre menunjuk bibir yang sedang tersenyum ke arahnya. "Jadi tak sabar untuk giringmu ke KUA, biar gak kayak boneka india mulu. Bisa dilihat tanpa bisa menikmati."


"Kamu mulai ngegombal lagi." Irma mendaratkan sebuah capitan di pinggang Andre. "Kita ke sana, yuk!" Irma menunjuk sebuah daratan di atas danau.

__ADS_1


Andre pun membawa perahu angsa itu ke tempat yang di tunjuk Irma. Daratan yang tidak terlalu luas itu terletak di tengah danau, yang sering disebut orang-orang dengan sebutan pulau cinta karena jika dilihat dari udara, daratan membentuk bentuk love.


"Sebenarnya masih ada yang mengganggu hatiku." Tiba-tiba Irma yang sedang duduk di bawah pohon rindang degan pandangan lurus, menatap orang-orang yang ada di seberang sana, memulai kembali obrolan yang Andre pikir sudah selesai.


'Dia ini kalau ngomog kenapa suka setengah-setengah? Kenapa gak tadi aja sekalian? Biar di sini jadi moment romantis doang,' gerutu Andre dalam hati.


"Apa?" Andre menoleh kepada wanita di sampingnya.


"Kamu, tahu sendiri aku tak akan bisa memberimu keturunan. Apa mereka juga akan masih tetap merestuinya? Orang tua pasti ingin ada generasi penerus di keluarganya, sedangkan aku tak bisa memberikan itu." Irma mendekap kedua lututnya. Wajahnya berubah sendu lagi, karena selain status janda, kondisinya menjadi sandungan terbesar untuk Irma dalam menjalin sebuah hubungan. "Apa Mas sudah berbicara dengan mereka?" Irma menoleh ke arah lelaki di sampingnya, lalu menatap air lagi.


'Jangankan yang ini, yang pertama pun aku belum memberi tahu mereka.' Andre membuang kasar napasnya.


"Mereka tak akan mempermasalahkan hal seperti itu. Kebahagiaan anak-anaknya selalu menjadi prioritas utama bagi mereka. Lagian mereka sudah memiliki anggota kesebelasan dari kakakku yang tertua. Itu juga sudah lebih dari cukup," ujar Andre dengan senyum yang masih mencoba ia tampilkan, meskipun sebenarnya dirinya juga menjadi gelisah.


"Itu menurutmu, menurut mereka belum tentu sama. Sebaiknya, Mas bicarakan dulu dengan mereka, setelah itu baru kita menemui mereka. Itu pun jika mereka setuju. Jangan memberikan harapan kosong bagi siapa pun!" tutur Irma seolah-olah ia tahu isi hati kekasihnya itu. "Kita nikmati pulau cinta ini dengan senyuman," lanjutnya seraya berdiri, lalu mengulurkan tangan kepada lelaki yang masih termangu. "Apa, Mas tak mau mencoba semua wahana di sini? Ayolah, kita sudah di sini!" Sekarang giliran wanita itu yang menarik Andre, mengajak pacarnya mencoba semua fasilitas yang ada di sana, termasuk tempat swafoto.


'Setidaknya jika orang tuamu tak mengizinkan, aku sudah merasakan kebahagiaan menjadi bagian dari hidupmu. Aku telah membuat memory indah bersamamu yang akan aku ingat sampai kapanpun. Terima kasih telah memilih wanita tak sempurna ini.' Irma memandang wajah lelaki yang tersenyum ke arahnya dari kamera ponsel yang dipegangnya.

__ADS_1


__ADS_2