
"Apa kamu menyukai adikku?" Tiba-tiba pertanyaan itu lagi yang terlontar dari mulut Andre.
"Hah?!" Sementara itu, Ryan yang ditanya malah mengkerungkan alis. Ia merasa pembicaraan mereka tidak nyambung, sekaligus bingung dengan sikap Andre yang setiap bertemu dengannya selalu saja membahas hal tersebut.
"Apa kamu menyukai adikku?" ulang Andre.
"Aku mendengarnya, Dre. Cuman aku bingung kenapa kamu selalu membahas yang sama dalam beberapa hari ini," tukas Ryan.
"Kamu hanya perlu menjawabnya, iya atau tidak."
"Bagaimana bisa aku menyukai gadis lain di saat aku sudah memilih seseorang untuk menjadi pendamping hidupku. Cukup sekali aku menyakiti wanita," jawab Ryan meski masih ambigu. Ia sendiri tidak tahu apa yang dirasakannya terhadap Friska, tetapi satu janji sudah terucap dan tak mungkin untuk diingakri. Ryan tidak mau membuat orang-orang yang disayanginya kembali kecewa.
"Jadi kamu tidak menyukai Friska, kan?" tanya Andre sekali lagi, memastikan.
Ryan menggeleng pelan.
"Sekali lagi aku tanya, kamu menyukai Friska atau tidak?"
Ryan pun kembali menggeleng. "Seperti yang pernah aku bilang, aku hanya menganggapnya adik. Jika pun ada rasa suka, itu bukan suka tapi sayang seorang kakak kepada adik," ujar Ryan panjang lebar.
"Baiklah aku pegang kata-katamu. Aku sudah bertanya padamu sebanyak tiga kali dan jawaban terakhirmu adalah tidak. Berusahalah untuk tetap konsisten pada kata-katamu. Karena aku tidak akan memberikan kesempatan kedua," ucap Andre.
Andre bukan orang bodoh. Sebagai pejuang cinta, ia juga mengerti dari tatapan dan perhatian Ryan yang diberikan kepada adiknya. Setelah semalam tidak henti memikirkan mereka, Andre memutuskan untuk bertanya sekali lagi kepada mantan suami istrinya sebelum mengambil tindakan kepada Friska. Mengingat begitu besar jasa Friska saat meyakinkan sang mama untuk menerima Irma. Jika Ryan mau jujur dan mengatakan kalau ia menyukai Friska, Andre pun akan berusaha memperjuangkan cinta mereka, meskipun dengan berat harus kembali menentang orang tuanya.
Namun, mendengar jawaban Ryan yang tetap pada pendiriannya, membuat Andre juga yakin untuk menghentikan aksi kegilaan adiknya terhadap lelaki di hadapannya itu.
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Ryan yang semakin bingung.
"Tidak ada. Hanya ingat saja sampai kapanpun Friska adalah adikmu dan selamanya dia akan menjadi adikmu," tandas Andre, lalu berdiri. "Aku dan Dimas hendak sarapan bersama, sebaiknya kamu juga ikut. Ayo!" Andre lantas mengalihkan pembicaraan, mengajak Ryan masuk dan sarapan bersama di rumahnya yang dijawab anggukkan Ryan.
Semua orang pun sarapan bersama, kecuali Friska. Gadis itu masih malu mengingat kejadian memalukan di teras dan memilih untuk makan sendirian di kamar.
***
Dengan kotak obat di tangan, Andre berjalan menuju kamar Friska. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, gadis di dalam kamar menyuruhnya masuk.
"Kakak bawa obatmu untuk pereda rasa sakit," ucap Andre begitu masuk ke kamar Friska.
__ADS_1
Ia memberikan satu tablet obat beserta segelas air putih untuk di minum oleh Friska.
"Ya, ampun. Kakakku perhatian sekali." Dengan seringai tipis, Friska mengambil obat itu dan langsung menelannya beserta segelas air putih.
"Ya iyalah, perhatian, walaupun kau sering buat kakakmu ini kesal, tapi rasa sayangku kepadamu melebihi segalanya," tandas Andre sambil mengacak-acak rambut hitam legam si gadis yang sudah memakai piyama—bersiap untuk tidur. "Lukamu, bagaimana?" tanya Andre lagi.
"Udah gak apa-apa. Tadi udah dibersihin sama Kak Irma."
Andre mangut-mangut begitu mendengar jawaban Friska. Kemudian, menjatuhkan tubuhnya di ranjang sang adik sambil menghela napas berat. Lelaki itu menatap langit-langit kamar bercat sky blue itu dengan tatapan yang menerawang entah ke mana. Bingung harus memulai darimana, cara menghentikan perasaan gadis di sampingnya.
"Kakak kenapa? Apa ada masalah dengan Kak Irma?" tanya Friska kebingungan, melihat Andre yang malah tidur di kamarnya.
Andre hanya menggeleng.
"Lalu kenapa malah tidur di kamarku?" protes Friska lagi.
"Pede sekali bilang ini kamarmu. Ini rumahku, jadi semua yang ada di dalam rumah ini yang milikku. Termasuk kamar ini juga," sanggah Andre dan langsung mendapat cebikan dari sang adik. "Tidurlah!" Andre menepuk bantal di sampingnya, meminta Friska untuk tidur.
Tanpa menunggu perintah lagi, Friska pun langsung tidur di samping sang kakak. Keduanya pun tidur berdampingan sambil menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan mereka yang dilipat di bawah kepala masing-masing.
"Sudah lama, ya, kita tidak pernah santai bersama seperti ini?" gumam Andre.
Andre melirik sekilas Friska yang masih memandangnya, lalu beralih kembali ke melihat langit-langit. Bukannya menjawab, lelaki itu malah memainkan karbodioksida di dalam mulut hingga pipinya bergelembung, lalu mengeluarkannya dengan kasar. Hanya itu yang dilakukannya sampai beberapa waktu dan berhasil membuat Friska kesal.
"Malah mainin napas gitu. Kalau gak ada yang mau dibicarain sebaiknya kakak tidur di kamar kakak aja gih, aku mo tidur," omel Friska.
"Akhiri semuanya sekarang juga," ucap Andre tiba-tiba dan berhasil membuat kedua alis Friska menyatu.
"Maksudnya?" Friska tidak mengerti dengan ucapan Andre.
"Hentikan sebelum semuanya akan tambah runyam. Mumpung kamu belum melangkah terlalu jauh."
"Kakak ngomong apa sih? Memangnya aku telah melakukan apa?"
Andre bangun lantas duduk sila di atas ranjang sambil menatap intens adiknya yang masih seperti kebingungan. Meskipun di lubuk hatinya, Friska sudah menebak ke mana arah pembicaraan mereka.
"Fris, kakak tahu semuanya tanpa harus kamu beritahu. Kakak tahu lelaki yang sedang kamu sukai yang membuatmu jingkrak-jingkrak di pagi-pagi buta. Kamu menyukai Ryan, kan?" selidik Andre.
__ADS_1
Deg!
Dugaan Friska benar. Lelaki itu mengetahui semuanya, padahal ia belum berbicara apapun. "Jadi kakak sudah tahu," ucapnya dengan kepala menunduk.
"Ya, kakak tahu. Jadi, lupakan perasaanmu itu. Itu tidak benar, Fris!"
"Kenapa aku harus melupakannya? Apa salahnya kalau aku menyukai Kak Ryan?" Friska tidak terima dengan ucapan Andre yang main memerintahnya.
"Itu salah besar, Fris. Ryan itu akan menikah dengan Dewi. Apa kamu mau dicap sebagai pelakor?"
"Baru akan 'kan? Belum menikah. Selagi belum ada ijab kabul bergema, dia masih bebas. Masih patut untuk diperjuangkan."
"Tapi untuk apa memperjuangkan orang yang tidak mencintaimu? Dia akan menikah dengan Dewi dan sudah pasti dia juga mencintai Dewi."
"Bukan tidak mencintaiku, tapi belum mencintaiku. Seiring berjalannya waktu aku yakin dia akan mencintaiku."
"Fris!" teriak Andre. Ia yang mendengar Friska terus menyela ucapannya, membuat emosinya terpancing, hingga membentak adiknya itu.
Air mata seketika menetes dari kedua mata Friska. Ia yang selama ini belum pernah di bentak sekeras itu oleh Andre, langsung terkesiap.
"Apa?!" Friska yang terlanjur sakit hati dengan bentakan Andre, malah menantang Andre. "Kenapa Kakak selalu saja seperti ini? Selalu saja mempermasalahkan setiap orang yang aku suka. Dulu dengan Kak Dimas, sekarang dengan Kak Ryan. Sebenarnya Kakak itu sayang gak sih sama aku?"
"Karena perasaanmu yang salah. Dulu aku tidak melarangmu mendekati Dimas sebelum Dimas sendiri yang menolakmu. Tapi untuk yang kali ini tolong dengarkan kakak, hentikan semuanya. Ryan sudah menjadi milik orang lain," ucap Andre panjang lebar. "Kalau perlu kakak akan carikan kamu dan kenalkan kamu dengan lelaki yang lebih pantas untuk kamu."
"Tapi aku maunya Kak Ryan. Aku mencintainya dan aku hanya mau dia. Titik."
"Friska seharusnya kamu itu pikir dulu sebelum bicara. Apa kamu tidak mikir jika kamu berhubungan dengan Ryan banyak hati yang akan terluka. Dan, kamu harusnya memikirkan juga bagaimana reaksi dan perasaan mamah jika tahu kamu malah ingin menjalin hubungan dengan Ryan? "
Mendengar sang kakak yang mengait-ngaitkannya dengan kedua orangtuanya, membuat Friska tersenyum sinis dan malah mengungkit kembali masalah yang pernah bergulir di keluarganya oleh kekeras kepalaan Andre. "Apa peduli dengan reaksi mamah? Apa kakak dulu juga memikirkan perasaan mamah saat memaksa menikah dengan Kak Irma?"
"Fris!!! KAU—" bariton suara Andre semakin menggema di kamar Friska.
"Sudah cukup! Aku mencintai Kak Ryan dan aku akan memperjuangkannya seperti kakak yang memperjuangkan istrimu, dengan atau pun restu dari kakak. Aku sudah besar. Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri."
Hal seperti inilah yang ditakutkan Andre. Ia tidak bisa mengontrol emosi dengan kekeraskepalaan Friska. "Fris—"
"Aku ngantuk. Aku mau tidur. Silakan keluar!" Friska menunjuk ke arah pintu, mengusir kakaknya sendiri.
__ADS_1
"Pikirkan baik-baik ucapan kakak."