Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
87


__ADS_3

"Keputusanku menceraikanmu memang keputusan terbaik. Bukannya ngaca sama diri sendiri malah menyalahkan orang lain." Ryan begitu geram melihat video yang diterimanya.


Ryan membanting ponselnya ke atas kasur, lalu mengambil sebuah koper dari atas lemari. Dengan amarah yang semakin menjadi setelah melihat video itu, Ryan mengeluarkan semua pakaian Elsa dari dalam lemari dan memindahkannya ke koper. Kemudian, menyeret barang tersebut dan melemparkannya keluar rumah.


"Harusnya aku juga melempar pemilikmu seperti itu, tetapi aku masih punya sedikit hati untuk mengasihaninya," ujar Ryan melihat koper yang ia lempar dari atas balkon sudah tergeletak di depan teras.


Ryan berdiri di balkon dengan sebatang rokok yang ia sesap sembari menunggu kedatangan Elsa. Ia tak sabar melihat reaksi wanita itu saat melihat pakaiannya sudah berada di halaman.


Setelah menghabiskan tiga batang rokok, wanita itu baru terlihat batang hidungnya. Benar saja, Elsa yang sudah berantakan sangat terkejut saat melihat kopernya ada di luar rumah.


"Apa-apaan ini?" gumam Elsa, tak terima.


"Masih untung aku belum membuangnya ke TPS, takutnya kau masih membutuhkannya." Ryan yang melihat reaksi Elsa, langsung bersuara dari atas balkon.


Elsa mendongak ke arah suara. Dilihatnya, Ryan sedang melipat kedua tangan sembari melihat ke arah dirinya. "Mas, apa yang kamu lakukan?" teriak Elsa.


"Seperti yang aku ucapkan di telepon. Aku membebaskanmu dari segala hubungan yang pernah terjalin. Kau bebas bermain ke mana pun sesuka hatimu, tanpa harus mengingat ada anak dan suamimu di rumah." ucap Ryan sangat tegas.


"Mas, kamu tidak bisa berbuat seperti ini kepadaku!"

__ADS_1


"Bisalah. Kenapa tidak? Kamu yang sudah membuat cintaku berubah menjadi benci yang amat besar kepadamu. Jadi, tanggung sendiri akibatnya."


"Memangnya apa yang telah aku lakukan padamu? Aku hanya mencoba mempercantik diri supaya kamu tak berpaling dariku. Apa aku salah?" teriak Elsa, dengan air mata yang mulai merembes keluar.


Tawa Ryan menggelegar di balkon. "Apa kau yakin, kau mempercantik diri untuk diriku?" tanya Ryan sembari menyipitkan sebelah matanya.


"Kalau bukan untuk kamu, lalu untuk siapa lagi? Ayolah, Mas! Jangan seperti ini! Kita masih bicarakan semua ini baik-baik. Aku tak ingin pisah denganmu."


Elsa terus merengek dengan air mata buaya yang terus mengalir, meminta kemurahan hati Ryan untuk tidak menceraikan dirinya. Namun bukannya menjawab, Ryan malah memainkan ponsel dan mengirimkan wanita itu sebuah pesan.


"Bukalah! Apa kau masih tak malu menyebut semua yang kau lakukan itu untukku?" titah Ryan, begitu pesannya terkirim kepada Elsa.


"Mas, aku bisa jelaskan. Kamu jangan salah paham dengan semua ini? Ini tak seperti yang kamu pikirkan." Elsa mencoba membujuk Ryan. Ia terus mengiba. Tak peduli lagi dengan harga diri, yang terpenting jangan sampai salahsatu tambang emasnya membuangnya kejalanan seperti sampah.


"Ya, tak seperti yang aku pikirkan, tapi melebihi yang aku pikirkan," tandas Ryan. "Keputusanku sudah bulat. Kita akan bercerai. Silakan kau tunggu surat panggilan dari pengadilan dengan kekasihmu itu! Nikmatilah kebebasanmu!" lanjut Ryan, lalu masuk ke dalam kamar. Tanpa memedulikan Elsa yang masih meraung tak terima dengan keputusan Ryan.


"Aaaaa ...." Elsa berteriak sekeras-kerasnya. Air mata terus mengalir dari kedua matanya. Ia tak menyangka pernikahannya dengan Ryan akan setragis itu. "Aku tak terima, Mas. Kamu seperti ini pasti karena wanita mandul itu kan? Sampai-sampai kau mencari-cari kesalahanku. Aku akan buat perhitungan kepadanya," teriak Elsa, mengancam.


Ryan yang masih diambang pintu, kembali melengo ke bawah dan percekcokkan dari keduanya pun tak dapat terelakkan. Elsa terus menyalahkan Irma dan Ryan terus memojokkan Elsa dengan perselingkuhan yang dilakukan wanita itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah menyalahkan orang lain? Ini murni kesalahanmu. Kamu yang sudah mengkhianatiku. Kenapa malah membawa-bawa Irma? Dia tidak ada kaitannya dengan semua ini."


"Kalau gitu cabut ucapanmu, Mas. Ingat ada Alvino. Ia butuh kasih sayang kita sebagai orang tuanya."


"Sudah begini, kamu baru ingat Alvino. Kemarin ke mana saja? Dan, sepertinya Alvino juga tak memerlukan ibu sepertimu. Tenang saja, aku akan menjaganya degan baik. Jaga saja dirimu dengan baik bersama sang kekasih. Bersenang-senanglah. Bye!" Ryan melambaikan tangan, lalu kembali masuk ke kamar.


Elsa benar-benar murka. Ia terus berteriak tak jelas. Bukan lagi mengiba, tetapi wanita itu memaki-maki Ryan sembari mengamuk. Ia merusak barang-barang yang ada di teras, memecahkan pot-pot bunga, bahkan melempar kaca dengan pas bunga yang terdapat di meja teras. Berharap, lelaki itu akan keluar kalau mendengar keributan yang ia ciptakan.


Ryan sendiri tak lagi peduli. Ia memilih pergi ke dapur memasak sesuatu yang bisa di makan. Ia yang belum sempat makan sejak pagi, ditambah energinya terkuras oleh emosi kepada Elsa membuat seisi perut berdemo ria minta jatah. Ia membuka kulkas. Banyak jenis makanan mentah yang tersedia, tetapi Ryan sama sekali tak bisa mengolahnya, sedangkan si pembantu masih pulang kampung. Terpaksa lelaki itu, mengambil mie dan telur, satu-satunya jenis masakan yang bisa dibuat dengan mudah. Tanpa menghiraukan Elsa yang terus berteriak, bahkan berbuat keributan, Ryan malah sibuk memasak mie goreng dan telur ceplok. Sampai suara ribut itu pun tak lagi terdengar.


Selesai memasak, Ryan pun bersiap menikmati mahakaryanya. Isi perut berdemo semakin kencang saat aroma mie goreng dan telur ceplok menyeruak menusuk hidung. Tak peduli mie yang masih panas, ia langsung melahapnya. Hingga sebuah suara kembali mengusik telinga lelaki yang sudah siap menjadi duda untuk ke dua kalinya itu. Bel di tekan berkali-kali, membuat Ryan sangat terganggu.


"Ish ... mengganggu saja. Belum puas apa berteriak-teriak, sekarang mau merusak bel rumah juga."


Terganggu dengan bel yang terus berbunyi, Ryan beranjak meninggalkan sepiring mie goreng yang melambai-lambai meminta Ryan melahapnya. Ia berjalan ke depan, lalu membuka pintu.


"Mau apa lagi? Apa harus kau kuseret sampai ke kolong jembatan supaya tak membuat lagi keributan?" cecar Ryan sembari membuka pintu. Akan tetapi, ia tercengang begitu melihat seseorang di depan pintu bukanlah Elsa.


"Apa? Dasa para bedebah!" pekik wanita di depan pintu dengan bola mata yang sudah menyala jauh lebih menyeramkan dari amukan Elsa. Sebuah tamparan pun mendarat di pipi Ryan. "Seharusnya aku yang menyeretmu ke jembatan dan melempar kalian dari sana. Mana istrimu? Aku ingin memberikan pelajaran tak terlupakan kepada wanita tak tahu adat itu," lanjutnya lagi sembari menerobos masuk ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2