
Ryan berulang kali memanggil gadis yang berjalan itu, tetapi tidak sekali pun gadis itu menoleh ke arahnya. Tidak ingin kehilangan jejak Friska, Ryan pun dengan cepat mengejarnya. Di saat sudah sangat dekat, ia dengan cepat meraih tangan gadis tersebut menghentikan langkahnya.
"Fris, tunggu! Dari tadi aku memanggilmu, kenapa tidak berhenti?" ucap Ryan dengan napas terengah-engah.
Gadis yang dihentikan Ryan pun menoleh dan menatap heran kepada Ryan yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Apa kamu mengenalku?" tanyanya kebingungan, seseorang yang tidak kenal mendadak menggenggam tangannya dengan begitu posesif.
Ryan terbelalak saat melihat orang yang dihentikannya. "Maaf," seketika ia langsung melepaskan genggamannya. Gadis yang dikejarnya bukanlah Friska. "Maaf, aku salah orang. Aku pikir anda orang yang kukenal," ucap Ryan penuh sesal sekaligus kekecewaan.
Gadis itu hanya mengangguk, lalu pergi. Dilihat dari belakang gadis itu memang mirip dengan Friska, bahkan pakaian yang dikenakannya persis dengan pakaian Friska tempo lalu saat mereka makan siang bersama sebagai penebus coklat dan bensin.
"Apa yang terjadi padaku? Bisa-bisanya orang lain pun terlihat seperti Friska." Ryan merutuki dirinya sendiri.
Ia pun menyeret kakinya yang terasa berat untuk kembali ke mobil. Senyum yang tadi sempat terlihat, kini menghilang kembali.
"Apa yang terjadi padaku?" Pertanyaan itu selalu muncul di kepalanya. Bisa-bisanya seorang gadis yang baru dikenalnya selama satu bulan itu menjungkir balikkan perasaannya, padahal tidak ada ikatan apapun di antara mereka selain saling menganggap adik dan kakak.
Ryan kembali mengendarai mobilnya, kembali menyusuri jalanan kota hingga ia kembali menepi ketika sampai di toko kue. Saat ini, lelaki itu memilih untuk menemui salahsatu orang di toko itu, berharap bisa membuat perasaannya sedikit plong.
"Siang menjelang sore, Mas!" Setiba di toko, ia disambut oleh pegawai toko yang memang sudah mengenal Ryan. Apalagi, semenjak Ryan dikabarkan akan menikah dengan Dewi, ia jadi sering ke tempat ini. "Mbak Dewi-nya gak ada, Mas, sedang beli keperluan toko," lanjut orang itu.
"Oh, enggak apa-apa. Aku akan menunggunya." Ryan menjawab dengan sedikit senyum yang dipaksakan, kemudian berjalan menuju kursi kosong dan duduk di sana dengan diam.
Kedatangan lelaki yang tampak kusut itu pun tidak luput dari perhatian Irma.
"Sambil nunggu Dewi, ngopi dulu, Mas " Irma pun menghampiri Ryan dengan membawa segelas kopi dan sepiring cake dan menyajikannya di meja.
"Makasih, Ir."
__ADS_1
Irma mengangguk, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Ryan. "Calon pengantin kusut amat," goda Irma.
Ryan tidak menanggapi ucapan Irma yang menggodanya, hanya seutas senyum masam yang tertampil.
"Apa ada masalah dengan persiapan pernikahan kalian?" tanya Irma, saat melihat wajah sendu Ryan.
Ryan menggeleng lemah, karena persiapan pernikahan semua baik-baik saja.
"Lalu?"
Lelaki itu masih terdiam. Ingin sekali ia berbagi cerita dengan mantan istrinya itu, tetapi entah mengapa mulutnya terasa terkunci. Satu yang Ryan takutkan, ia takut wanita itu kembali kecewa padanya.
"Tidak ada. Sepertinya aku hanya kelelahan," jawab Ryan.
"Sebentar lagi mau nikah. Jaga kondisi, jangan sampai kalian malah ijab kabul di rumah sakit." Irma mencoba menasehati dengan sedikit gurauan.
"Sekarang aku tidak pernah liat Friska. Apa dia sedang pulang kampung?" tanya Ryan, setelah basa-basi terlebih dahulu.
Irma menatap Ryan dengan sedikit curiga. Namun, secepatnya perasaan itu ia tepis. "Tidak. Dia hanya sedang sibuk di tempat magangnya. Memangnya kenapa?" tanya Irma.
"Tidak. Hanya saja sepertinya Al merindukannya. Anak kecil itu beberapa kali menanyakan Friska." Ryan mencari alasan.
Irma pun ber-oh ria meskipun menurutnya sedikit ganjal, lalu beralasan kalau gadis itu sedang sibuk dan sering lembur sehingga tidak memungkinkan untuk bertemu Alvino.
'Apa ini cuma perasaanku, ya? Sepertinya Mas Ryan sedang mengorek sesuatu tentang Friska dariku,' gumam Irma dalam hati. Karena dari semua yang mereka obrolkan, lebih banyak membahas yang menjurus kepada adik iparnya. 'Apa yang ditakutkan Baba itu benar adanya?'
Hingga semuanya terhenti saat Dewi datang dan Irma memilih meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Apa ada masalah, Mas?" Pertanyaan itu juga keluar dari mulut Dewi saat mereka tengah berdua.
Ryan kembali menggeleng.
"Mamah tadi bilang kalau kamu tidak sehat, rencananya sehabis pulang dari kerja mau ke sana," ucap Dewi.
"Aku tidak apa-apa," jawab Ryan lagi.
Meskipun Ryan terus menggeleng dan mengatakan tidak apa-apa, tetapi dari gurat wajah Ryan, Dewi tahu kalau calon suaminya itu tidak sedang baik-baik saja.
Dewi meraih tangan yang sedang memutar-mutar gelas kopi dan menggenggamnya dengan lembut, matanya menatap mata lelaki yang terlihat kacau itu. "Keterbukaan adalah kunci pertama dalam sebuah hubungan. Kita sebentar lagi menikah, jika ada yang mengganggu hatimu, Mas bisa membaginya denganku."
"Aku pasti akan menceritakannya, tapi tidak sekarang. Aku masih harus memastikannya," ucap Ryan dengan wajah yang tertunduk.
"Aku menunggu waktu itu." Dewi menjawab dengan seutas senyum yang tertampil.
Dewi tidak bisa terlalu lama menemani Ryan karena pembeli yang datang sangat ramai. Ryan pun memilih pergi.
'Sepertinya kamu telah menyadari perasaanmu, Mas, sehingga kamu terlihat sekacau ini.' Dewi menatap kepergian Ryan dengan senyum yang sulit diartikan. 'Aku tunggu keputusanmu.'
***
Sudah hampir satu jam, Ryan memarkirkan mobil di depan sebuah gedung kantor milik seseorang yang menjadi temannya. Sepulang dari toko kue, Ryan memutuskan untuk pergi ke perusahaan tempat Friska bekerja. Sambil berbalas pesan dengan seseorang, Ryan dengan setia menunggu gadis itu keluar.
Hingga senyumnya tertampil saat manik hitamnya menangkap sosok yang ditunggunya baru saja keluar gerbang kantor dan hendak menyebrang. Dengan cepat, Ryan keluar dari mobil untuk menemui gadis itu.
"Fris, tung—" Ryan memanggil Friska, tetapi ucapan tersekat oleh sesuatu yang dilihatnya. "Fris, awas!" Dengan cepat, lelaki yang memakai kaos putih itu berlari ke arah Friska yang sibuk dengan ponsel tanpa memerhatikan sekitar.
__ADS_1