Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
86


__ADS_3

Menjelang siang, Ryan baru bisa membuka mata. Sebuah kenyataan yang didapatnya semalam dan semua kejadian yang menimpa, membuat Ryan tak bisa memejamkan mata barang sekejap pun. Hingga, menjelang subuh ia baru bisa terpejam dan akhirnya bangun kesiangan. Bahkan, kepalanya terasa sangat berat dan memintanya untuk tetap menempel di bantal, tetapi ia harus segera pulang untuk menyelesaikan semua permasalahan. Meskipun enggan, Ryan beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Ryan sudah tampak lebih segar, setelah selesai mandi. Ia pun bergegas keluar kamar. Masalahnya harus selesai hari itu juga.


"Pagi Alvino, Sayang! Pagi Mah," sapa Ryan kepada Alvino dan Ambar seraya mencium bayi mungil yang sedang dalam pangkuan Ambar.


"Sekarang bukan pagi, tapi tengah hari," jawab Ambar tanpa mengalihkan perhatiannya dari Alvino.


Ryan memamerkan rentetan gigi putihnya sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Aku ralat selamat siang, Mah!" tandasnya. "Mah, nitip Alvino dulu, ya! Aku harus berbicara empat mata dengan Elsa," lanjut Ryan.


"Pergilah," jawab Ambar.


"Terima kasih. Meskipun aku selalu membuat Mamah kecewa, tapi Mamah selalu menyayangiku." Ryan mencium pipi wanita yang tak lagi muda itu, lalu memeluknya bersama Alvino yang ada dalam gendongan si ibu.


"Karena kamu adalah anakku. Mamah tahu kamu anak yang baik, kamarin kamu hanya sejak tersesat saja. Mamah bersyukur kamu kembali sebelum tersesat sangat jauh, apalagi sampai menghancurkan rumah tangga orang lain."


Ryan hanya mengangguk. Ya, dari semalam Ryan sudah berjanji akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Ia ingin kembali kepada keluarganya, mengubah semua perilaku buruk yang sudah melekat beberapa tahun ke belakang semenjak Elsa kembali ke dalam hidupnya. Terpenting, Ia akan merelakan Irma dengan siapa pun pilihan wanita itu. Ia sadar, di dalam pernikahan yang pernah dijalani, wanita itu tak mendapatkan kebahagiaan yang semestinya Irma dapatkan. Hanya segudang luka yang telah Ryan torehkan. Sudah saatnya Irma bahagia, meskipun bukan bersama Ryan. Ia akan berbesar hati dan menerima semua pilihan Irma. Ia pun sadar sesadar-sadarnya, perasaannya untuk Irma datang terlambat dan tak semua cinta harus memiliki.


"Titip Alvino, ya, Mah!" ujarnya lagi sembari mengurai pelukan, lalu mencium tangan Ambar.


"Ya. Tak perlu khawatirkan Alvino. Dia akan baik-baik saja. Tapi ingat, jangan sampai kamu keceplosan kalau kamu tahu tentang Alvino kepada Elsa." Sebelum Ryan pergi, Ambar memperingatkan Ryan dan dijawab anggukan lelaki itu.


Dengan diantar sopir Ambar, Ryan meninggalkan rumah kedua orang tuanya untuk mengambil mobil yang semalam ditinggalkan di jalanan. Tidak lupa, membeli beberapa liter bahan bakar untuk memberi minum mobilnya itu.


"Terima kasih, Pak," ucap Ryan kepada si Sopir, setelah selesai membantunya mengisikan bahan bakar ke mobil.

__ADS_1


"Sama-sama, Tuan. Apa ada yang perlu saya bantu lagi?"


"Tidak ada. Bapak bisa langsung pulang, Sekali lagi terima kasih."


Si sopir mengangguk, lalu pamit kembali ke kediaman Ambar. Ryan pun langsung masuk ke mobil, kemudian mengendarai mobilnya menuju rumah.


Klakson mobil berkali-kali dibunyikan Ryan begitu sampai di depan rumah saat mendapati pintu gerbang masih tertutup rapat. Namun, tidak ada orang yang keluar dari rumah besar itu dan membukakan pintu untuknya. Terpaksa, ia turun dari mobil dan membuka gerbang sendiri.


"Apa telinganya sudah mulai budeg? Klakson bunyi berkali-kali sampai tidak terdengar," gerutu Ryan sambil mendorong pintu gerbang sampai terbuka lebar.


"Mas Ryan baru pulang?" tanya seorang tertangga yang tidak sengaja lewat ke depan rumah Ryan.


Ryan menoleh ke arah suara. "Iya, Bu," jawabnya dengan seutas senyum yang tertampil.


'Gelap gulita? Apa Elsa tidak pulang?'


"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Mas," ujar Tetangga itu lagi, kemudian berlalu dari hadapan Ryan.


Ryan hanya tersenyum sembari mengangguk, menutupi kekesalannya terhadap Elsa yang semakin memuncak begitu mendengar penuturan ibu berbadan tambun, tetangga depan rumahnya. Dengan wajah yang sudah memerah, menahan amarah, Ryan kembali masuk ke mobil dan memasukkan mobil tersebut ke halaman rumah.


"Awas saja kalau sesiang ini masih belum ada di rumah juga." Ryan yang sudah di depan pintu langsung membuka kunci, lantas menyeret kaki jangkungnya masuk ke rumah. Memastikan ucapan tetangganya benar adanya.


"Elsa!" Berkali-kali ia memanggil nama istrinya, tapi tak kunjung ada jawaban. Ia pun bergegas ke kamar dan hasilnya pun nihil. Tidak ada siapa-siapa, bahkan di semua tempat tidak ada wanita itu.


"Kau benar-benar buat aku naik pitam. Setelah semua kebohongan yang kaubuat, aku berharap masih bisa memaafkanmu. Setidaknya, jika aku melihat sedikit sisi baik dari dirimu. Tapi, sepertinya tidak."

__ADS_1


Ryan merogok ponsel dari saku celananya. Dengan segera, ia menghubungi nomor yang sudah sangat ia hapal, bahkan nama kontaknya ia tulis dengan nama 'bidadari', membuat Ryan yang kembali membaca nama kontak itu terasa ingin muntah saat itu juga. Begitu bodohnya ia terkecoh oleh wajah cantik dan bualan-bualan seorang Elsa. Satu panggilan tidak terjawab. Dua panggilan masih tidak dijawab. Di panggilan ke tiga panggilan Ryan baru tersambung dengan wanita yang sekarang dimatanya tak lebih dari seorang ular berkepala dua.


"Di mana kau?" tanya Ryan begitu panggilan tersambung dengan ponsel yang sengaja di-loudspeaker.


"A-aku di jalan, Mas. Sebentar lagi pulang," jawab Elsa di seberang sana.


"Bagus, ya, semalaman kamu tidak pulang. Istri dan ibu macam apa kamu ini? Aku sungguh tak habis pikir bisa-bisanya aku mencintai wanita sepertimu." Ryan tak bisa membendung amarah yang sudah menbuncah di dirinya.


"Mas, bukannya kemarin aku sudah izin untuk pergi ke nikahan temanku di luar kota. Aku baru bisa nyampe sini tadi pagi dan ini lagi di jalan mau pulang." Elsa mencoba menjelaskan.


Percekcokkan lewat sambunga telepon pun, tak dapat dihindarkan. Apalagi mengingat sebuah video dan foto yang Ryan dapat tengah malam. Namun, ia mencoba mengontrol diri untuk tidak membahas Alvino.


"Sudahlah. Aku sudah cape dengan semua kelakuanmu. Segera pulang dan ambil semua baju-bajumu sebelum aku membuangnya ke tempat sampah."


"Apa maksudmu?"


"Kita akhiri pernikahan kita. Aku talak tiga kamu," ujar Ryan, begitu dingin.


"Mas kamu tak bisa berbuat seperti itu kepadaku?" ucap Elsa yang terdengar begitu lirih. Akan tetapi, Ryan tak peduli. Ia tetap dengan keputusannnya.


"Aku mohon, Jangan lakukan itu! Tarik semua ucapanmu. Aku mencintaimu dan kamu pun juga mencintaiku. Aku tahu kamu kesal padaku, aku minta maaf. Mari, ita bicarakan semuanya baik-baik." Rengek Elsa lagi.


Ryan benar-benat tidak peduli dan memilih memutuskan sambungan teleponnya. Kemudian tidak selang berapa lama, ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi pesan video baru masuk ke ponsel Ryan. Dengan segera ia membuka pesan dari orang suruhannya, dan Ryan sangat terkejut saat melihat isi video ke dua yang orang itu kirim dalam rentan waktu kurang dari dua belas jam itu.


"Keputusanku menceraikanmu memang keputusan terbaik. Bukannya ngaca sama diri sendiri malah menyalahkan orang lain." Ryan begitu geram melihat video yang diterimanya.

__ADS_1


__ADS_2