Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
118


__ADS_3

Mentari sudah sangat tinggi, berada tepat di atas kepala, menunjukkan hari sudah siang. Jalanan sedikit lengah. Tiga polisi yang berjaga di Posko Jalan X pun tampak sedang beristirahat di dalam posko ditemani kopi dan obrolan-obrolan hangat mereka. Hanya Dimas saja yang tidak ikut bergabung, lelaki itu tampak sedang memainkan ponselnya di luar posko.


Sementara itu, di seberang jalan tampak seseorang sedang bersembunyi di belakang pohon dengan pakaian serba hitam dan tingkah yang mencurigakan. Namun, tidak ada orang yang menyadari gerak-geriknya. Ia sudah cukup lama mengintai ke arah posko, sampai beberapa kali pindah tempat. Di balik masker dan topi hitam yang dipakai, orang itu berseringai jahat saat jalanan dalam keadaan sepi dan target yang sejak tadi diincarnya berada di tempat yang sangat strategis bagi ia melancarkan aksi.


"Sayang, inilah wakutnya!" Orang itu menatap lurus ke arah seberang jalan di mana Dimas sedang memainkan ponsel. Ia mengambil sebuah benda dari balik jaket hitam, lalu mengarahkannya ke arah Dimas dan membidik tepat di jantung lelaki itu. "Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada oranglain yang bisa memilikimu juga. Maaf, kalau rasanya sedikit sakit," ucapnya senyum licik yang tertampil. "Tenang saja bukan hanya kamu yang akan merasakannya, tapi aku juga. Setelah itu kita akan bertemu di surga," lanjutnya dengan mata yang terus membidik dan tangan yang sudah bersiap menarik pelatuk.


Tingkah orang itu tidak disadari oleh Dimas. Ia masih sibuk memainkan ponsel menghubungi Naura, tanpa tahu dirinya sedang dalam bahaya. Namun, wanita hamil yang sedang berjalan ke arah posko melirik ke arah seberang dan tanpa sengaja melihat orang berpakaian aneh itu sedang membidik sesuatu dari sana. Mata Naura mengikuti ke mana arah pistol itu tertuju yang membuatnya terkejut setengah mati. Beberapa detik tubuh Naura membeku, tidak percaya dengan yang dilihat. Ia kembali melihat ke arah orang di seberang jalan, lalu melihat ke arah posko lagi hingga sejurus kemudian wanita hamil itu melangkah cepat menemui Dimas. Sasaran orang itu adalah suaminya. Naura tidak akan membiarkan terjadi sesuatu pada Dimas. Langkahnya semakin cepat, lantas berhambur ke pelukaan Dimas.


"Kejutan!"


"Ra?" Dimas terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Naura di hadapannya.


Naura mengurai sedikit pelukannya, menatap Dimas dengan senyum yang begitu cantik, lalu memeluk kembali Dimas dengan sangat erat.


Bertepatan dengan itu, orang di seberang jalan pun berhasil menarik pelatuk yang dipegangnya dan sebutir peluru melesat cepat dan bersarang di punggung Naura.


"Iya. Ini aku. Aku merindukanmu," ujar Naura sambil mengeratkan pelukannya sangat erat. Ia masih ingin bicara, tetapi mulutnya terkunci sesaat. Naura menahan napas saat merasakan sebuah benda dengan kecepatan super masuk ke dalam punggung, menembus baju dan merobek kulit, daging sampai tulang. Sakit luar biasa itulah yang dirasakan Naura. 'Inikah hari terakhirku memeluknya?' tanyanya dalam hati dengan air mata yang sudah meleleh.


"Aku juga merindukanmu. Kenapa telponnya enggak diangkat?" Dimas juga membalas pelukan Naura.


Ada yang tidak beres saat Naura memeluknya sangat erat sambil menahan napas. Dimas menunduk dan sangat terkejut melihat sesuatu melesat masuk ke tubuh si istri, tanpa bisa menghindarkannya, hingga darah segar pun mengalir membasahi tangan Dimas yang masih memeluk Naura.

__ADS_1


"Tidak!" Dimas terus mengggeleng melihat darah semakin deras keluar dari lubang yang dihasilkan peluru yang masuk.


"Aku mencintai ... mu!" lanjutnya dengan suara yang semakin melemah, rasa sakit semakin menggerogoti hingga tubuhnya melemas. Rantang yang dipegang pun jatuh berserakan dan Naura jatuh dipelukan sang suami, ia sudah tak sanggup untuk menopang tubuhnya sendiri.


"Aku juga mencintaimu, Ra. Kenapa kamu lakukan ini?" Dimas memeluk erat Naura. Air mata pun mengalir deras di pipi Dimas.


"Tidak! Ra!" Irma yang juga melihat kejadian nahas yang menimpa sang adik langsung berteriak histeris, lalu berlari ke arah Naura yang sudah limbung di dalam pelukan Dimas.


Sementara itu, ketiga polisi yang berada di dalam posko pun langsung berhambur keluar saat mendengar teriakan Irma dan Dimas.


"Kejar orang itu!" Dimas menunjuk orang berseragam hitam yang berlari menjauh.


Andre dan dua rekannya pun langsung mengejar orang yang dilihat Dimas saat peluru sudah menembus punggung Naura.


"Aku hanya memelukmu karena aku merindukanmu. Apa aku salah?" ujar Naura dengan seutas senyum di sisa kesadarannya.


"Ini tidak lucu."


Darah terus mengalir membasahi dress putih yang dipakai Naura. Dimas mengurai pelukannya dan meminta Irma menahan tubuh Naura sebentar. Ia lantas melepaskan syal bermotif bunga yang melilit leher sang istri dan melilitkannya lagi di punggung yang terkena tembakan untuk menghentikan pendarahan sebelum mendapatkan tindakan medis.


"Memang siapa yang sedang melucu?" tanya Naura sambil memperhatikan Dimas yang sibuk membalut luka di punggungnya. "Aku merindukanmu jadi aku ke sini. Aku membawa makanan kesukaanmu, tapi maaf makanannya berserakan jadi gak bisa dimakan," ujarnya lagi dengan senyum yang mengembang, membuat Dimas dan Irma semakin berderai air mata.

__ADS_1


"Kalaian jangan menangis! Aku tidak apa-apa. Ini tidak sakit, hanya seperti tertusuk duri." Naura mengangkat tangannya, menghapus air mata yang terus keluar dari mata Irma, lalu menghapus air mata yang keluar dari mata Dimas.


"Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu!" lanjutnya sembari menatap lekat-lekat wajah sang suami. Tanpa terasa air mata juga menetes dari pelupuk mata Naura, hingga matanya terasa sangat berat dan wajah Dimas pun terlihat mengabur lalu gelap.


"Aku juga mencintaimu." Dimas membawa kembali Naura ke dalam pelukkannya, lalu mendaratkan ciuman di kening si istri, sangat lama, sampai buliran bening menetes membasahi kening Naura.


"Terima kasih." Meskipun pandangannya menggelap, Naura masih bisa mendengar dan merasakan sentuhan Dimas. "Papol, boleh aku minta sesuatu darimu?"


"Jangankan satu permintaan, seribu permintaan pun akan kukabulkan untukmu, Sayang."


Senyum tertampil dari wajah yang sudah memucat itu. "Kalau terjadi sesuatu padaku, tolong selamatkan bayi kita. Apun yang terjadi bayi kita harus selamat."


"Tidak akan terjadi apapun padamu. Kamu dan bayi kita akan selamat. Jangan bicara yang aneh-aneh lagi!"


"Iya. Aku akan selamat ...." jawab Naura dengan suara yang semakin menghilang bersamaan dengan matanya yang terpejam.


"Sayang, jangan tutup matamu! Hei, lihat aku!" Dimas menepuk-nepuk pipi Naura supaya wanita itu tetap bangun, tetapi Naura sudah tak sadarkan diri.


"Ra, bangun! Jangan tinggalkan kami seperti ini!" Irma yang sedari tadi berada di dekat sang adik langsung panik melihat Naura mulai tak sadarkan diri. "Ra, bangun! Apa yang terjadi dengan Naura, Dim? Dim tolong selamatkan Naura! Aku tak bisa hidup tanpa adikku." Irma memohon kepada Dimas. Ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan adiknya.


Begitu pun dengan Dimas. Ini bagaikan mimpi buruk di siang bolong. Istrinya berada dipangkuannya dalam keadaan bersimbah darah dan tak sadarkan diri. Dimas terus mencoba membuat Naura sadar, sampai ambulan datang dan membawa mereka ke rumah sakit.

__ADS_1


Happy reading, Kak. Maaf bagi yang kurang setuju dengan alurnya! 🙏🙏 Alur tidak mungkin saya belokkan karena ini konflik akhir, beberapa part menuju ending.


__ADS_2