
10
Jam sudah menunjukan pukul 16.00, toko kue milik Irma sudah mulai lenggang oleh pembeli. Keempat pegawainya pun tampak sedang beres-beres karena sebentar lagi toko akan tutup. Irma yang diizinkan untuk pergi ke toko pun terlihat sedang duduk di meja kasir sembari menghitung pendapatan mereka hari ini.
"Dew, boleh minta tolong bantuin aku, gak?" pinta Irma kepada Dewi yang sedang menyapu lantai bersama satu rekannya.
Dewi hanya mengangguk, lalu menghampiri Irma. "Apa yang bisa saya bantu, Mbak?"
Irma menampilkan rentetan gigi putihnya saat Dewi bertanya, karena bantuan yang diminta Irma pasti cukup melelahkan. "Sebelumnya minta maaf dulu aja deh, ya!" ucapnya sambil menggaruk kepala yang berbalut hijab, meskipun tidak gatal.
"Kenapa harus minta maaf, Mbak?" Dewi malah dibuat keheranan oleh ucapan Irma.
"Soalnya ... ini!" Irma menyodorkan sebuah kresek hitam yang diberikan oleh seorang pembeli. "Tolong itungin isinya, ya! Maaf, ya!" lanjutnya
"Ih, Mbak ini kenapa harus meminta maaf?" Dewi berujar sambil tersenyum. Ia pun menerima kresek itu dan mengeluarkan isinya.
Sejumlah uang koin dua ratus rupiah dan lima ratus rupiah menjadi penghuni kresek tersebut dan berhasil membuat Dewi melongo. "Mbak, ini gak salah?"
"Nah, karena itulah aku meminta maaf. PR-mu berat sekali. Tolong itungin, ya! Tenang nanti aku kasih bonus," ujar Irma dengan senyum tipis yang tertampil.
Mau tidak mau Dewi pun menghitung uang receh tersebut dan memisahkannya sesuai nominal koin, lalu dipisahkan lagi setiap hitungan mencapai lima ribu bagi koin lima ratus dan dua ribu bagi koin dua ratus.
Uang itu didapat Irma dari seorang nenek tua yang ingin membeli kue ulang tahun untuk cucunya. Pada awalnya Irma menolak menerima uang itu dan memilih memberikan kuenya secara percuma, tetapi si nenek bersikukuh untuk membayar dan terpaksa Irma menerimanya. Irma pun memberikan dua kue ulang tahun, satu kue yang dibeli si nenek dari uang receh itu yang menurut si nenek jumlahnya sama dengan harga kue tersebut dan satu lagi pemberian Irma. Dan, sekarang yang kena getahnya adalah Dewi. Wanita itu harus menghitung semua uang koin tersebut.
"Dew, enggak ada niatan buat berikan papah baru buat Chika?" tanya Irma di sela-sela kefokusan Dewi menghitung uang koin.
__ADS_1
Sebenarnya ada alasan khusus kenapa Irma yang meminta Dewi yang membantunya. Ia sedang menjalankan misi yang sudah dipikirkan matang-matang olehnya dan sang suami, berdasarkan permintaan mantan mertuanya.
"Maksudnya, Mbak?" Dewi pura-pura tidak mengerti dengan ucapan Irma.
"Suamimu sudah lama tidak ada. Chika pasti merindukan sosok seorang ayah yang sudah lama hilang dari kehidupannya. Chika pasti juga ingin memiliki keluarga utuh seperti teman-temannya. Aku pernah lihat dia menangis saat menunggumu di sini. Aku dengar dia ingin punya ayah."
Ucapan Irma membuat Dewi terdiam. Memang sudah berkali-kali anak semata wayangnya itu selalu meminta ayah karena ia selalu diolok-olok hanya karena tidak memiliki ayah, bahkan ada yang tega menyebutnya sebagai anak haram. Suami Dewi sendiri pergi entah ke mana sejak Chika masih berusia dua tahun dan sekarang gadis kecil itu sudah berusia enam tahun. Namun, membangun rumah tangga kembali bagi Dewi bukanlah hal yang mudah. Ia tidak mau salah pilih dan mengulang kegagalan, hingga akhirnya yang hendak membuat Chika bahagia malah membuat anak itu tersiksa karena tidak diterima oleh keluarga barunya.
"Aku belum berani melangkah ke sana, Mbak. Aku takut malah membuat Chika tidak bahagia nantinya. Aku tidak siap jika suatu saat harus memilih antara suami dan anak." Terlalu banyak menonton sinetron ikan terbang yang kebanyakan drama keluarga seperti anak tiri yang tidak disayangi keluarga sambungnya, membuat Dewi berpikir dua kali untuk menerima setiap pinangan yang datang.
"Kalau ada yang mau menerimamu apa adanya dan juga siap menerima Chika sebagai anak sambungnya, apa kamu mau juga menerimanya?" tanya Irma.
"Apa ada yang seperti itu? Sepertinya tidak mungkin, Mbak. Rata-rata mereka hanya akan memilih satu."
"Kalau aku kenalkan kamu kepada seseorang gimana?" tanya Irma lagi.
Dewi hanya diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kenalan aja dulu. Berteman dulu. Kalau cocok kalian lanjut, kalau gak cocok ya sudah berarti bukan jodoh," lanjut Irma.
"Kalau boleh tahu apa aku mengenalnya, Mbak?" tanya Dewi, sebelum menerima tawaran Irma.
"Ya. Kamu mengenalnya. Tapi, aku gak tahu juga sih dia tipe kamu apa bukan?"
"Aku tidak pernah menentukan kriteria dari fisik, Mbak, yang penting sayang sama aku dan keluarga itu sudah cukup."
__ADS_1
Irma mengangguk-angguk, lalu fokus kembali menghitung uang. Sebenarnya, ia juga bingung bagaimana cara memulai mendekatkan Dewi dengan Ryan karena Dewi sendiri sudah tahu perihal sikap Ryan terhadapnya dulu. Meskipun ia tahu Ryan sudah berubah, tetapi image buruk besar kecilnya pasti melekat di orang-orang yang mengetahuinya.
'Apa dia bakalan mau kalau dijodohin sama Mas Ryan?' pikir Irma sambil melirik Dewi yang masih sibuk dengan uang receh yang dihitungnya. 'Ah ... Baba kenapa kamu menyerahkan tugas ini padaku?'
"Dew, kamu percaya tidak kalau seseorang itu bisa berubah seiring berjalannya waktu?"
Dewi mendongak, melihat ke arah Irma. Pertanyaan Irma semakin ke sini semakin menjurus kepada seseorang. Entah benar atau tidak, Dewi merasa seseorang yang dimaksud Irma adalah orang yang dikaguminya.
"Ya, Mbak. Aku percaya."
Irma menghela napas lega, begitu mendengar ucapan Dewi.
"Sebenarnya ... aku ingin mendekatkanmu dengan Mas Ryan." Irma berterus terang.
Dewi sudah menduganya. Namun, ia bingung harus menjawab apa. Bukan karena masa lalu Ryan yang kelam, tetapi ia merasa mereka jauh berbeda dari segala hal, membuat Dewi ragu untuk menerima tawaran Irma.
***
Di tempat lain, di sebuah perusahaan eksport dan import textile milik Bara, seorang gadis sedang duduk di sebuah ruangan ber-AC. Ia yang mulai magang di perusahaan Bara sebagai sekretaris direktur baru saja selesai mengantarkan file yang diminta Bara. Sambil menunggu perintah selanjutnya, ia tampak sedang menatap layar ponsel dengan sebuah kontak tertera di sana.
"Aku namain kontaknya dengan nama apa, ya?" gumam Friska pada diri sendiri.
Friska pun menulis nama di nomor yang tadi pagi didapatnya dari ponsel Andre secara diam-diam. Namun, baru juga disimpan, nama yang ditulisnya langsung diubah kembali menjadi nama lain sampai beberapa kali ia melakukan hal itu, hingga nama 'Guardian Angel' menjadi nama terakhir yang dipilihnya.
"Sepulang kerja aku akan menghubunginya untuk membahas uang coklat dan bensin sebagai topik awal perbincangan kami," gumamnya lagi dengan senyum yang mengembang, lalu meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas.
__ADS_1