
"Hai!" ucap seseorang dengan senyum yang mengembang sembari menyodor bunga lili kepada Irma yang masih terhalangi oleh kaca jendela.
Melihat siapa yang datang, dengan segera Irma membuka jendela dan meloncat dari sana. Senyum kebahagiaan pun terpancar jelas dari wajah yang beberapa detik lalu tak ayalnya baju kusut. Kini, orang yang sedang dipikirkannya ada di hadapannya dengan seutas senyum yang terukir begitu memikat.
"Mas sedang apa di sini?" tanya Irma lagi, begitu ia sudah berada di luar kamar.
"Menemui bidadariku," jawab Andre, enteng. Seolah-olah masalah yang sedang dipikirkan Irma sampai tidak bisa tidur itu, tidak pernah ada. "Apa aku boleh masuk? Di sini banyak nyamuk," ujarnya lagi sambil menengok ke arah kamar, padahal tidak tidak ada satu pun makhluk kecil penghisap darah yang berkeliaran di sana.
"Jangan modus! Di sini enggak ada nyamuk, tempatnya bersih."
Andre hanya nyengir kuda karena memang benar itulah adanya. "Ini aku ada bunga untukmu!" Andre menyodorkan bunga lili yang semenjak tadi ingin ia buang. Namun, demi mengetahui kebenaran ucapan Ryan, bunga itu masih setia di tangannya.
"Kamu bawa bunga lagi untukku, Mas?" Irma begitu antusias melihat bunga yang dibawa sang kekasih dan dijawab anggukkan Andre. "Apa kamu udah gak marah?"
Andre hanya menggeleng. "Kamu suka bunganya?" tanya Andre kemudian.
Irma mengangguk dengan senyum yang masih terukir. Sungguh di luar dugaan Andre. Mungkinkah benar yang diucapkan Ryan? Akan tetapi, kala itu Irma sendiri yang mengatakan kalau wanita itu tak menyukai bung lili. Namun, melihat keantusiasan Irma membuat Andre berpikit ulang. Wajah cerianya sedikit memudar.
"Ini bunga untukku, kan?" Irma mengambil bunga yang tersembunyi di belakang tubuh Andre, mengabaikan bunga lili yang disodorkan Andre.
"Eh ... aku ngasih bunga lili kenapa malah ngambil bunga mawar?"
"Karena aku suka bunga mawar. Ngapain repot-repot bawa bunga lili, udah tahu aku gak suka," jawab Irma, tanpa memedulikan bunga lili yang dipegang Andre.
__ADS_1
"Terus bunga lilinya dikemanain?"
"Buang aja," jawab Irma, tanpa ragu.
"Beneran dibuang nih? Mahal, lho!" tanya Andre memastikan.
"Udah tahu mahal kenapa dibeli? Mubajir kan jadinya."
Mendengat jawaban Irma, senyum Andre pun kembali mengembang. 'Kau kalah telak, Yan.' Ia berujar dalam hati, sembari membuang bunga lili sesuai perintah Irma. "Lalu apa kita akan di sini terus? Bagaimana kalau ada tukang ronda lewat dan ngira kita lagi berbuat mesum?" tanyanya kepada wanita yang sedang sibuk menghirup bunga pemberiannya, sedangkan mata Andre memindai sejauh mata memandang dan tempatnya itu tampak temaram, bisa jadi gosip yang tidak-tidak bila ada orang yang melihat.
Mulut boleh berkata seolah-olah takut terjaring peronda, tetapi tindakkan Andre mengatakan lain. Lelaki itu malah dengan santainya duduk ongkang-ongkang kaki di kusen jendela.
"Memang Mas mau seberapa lama di sini? Bukannya kita gak boleh sering ketemu? Apa mereka gak bakal marah?" tanya Irma, melihat si calon suami yang malah duduk di jendela kamarnya.
"Katanya takut ketahuan sama yang ronda?" tanya Irma lagi, tetapi tak ayal mengikuti perintah Andre juga. "Pegangin dulu bunganya!" Irma memberikan bunganya kepada Andre, lalu berbalik membelakangi jendela dan dalam satu gerakan Irma menggerakkan badannya sedikit meloncat ke atas sampai terduduk di atas kusen jendela bersebelahan dengan Andre.
"Yang ronda gak bakalan tahu juga. Orang kita di belakang, gak bakal kelihatan dari jalan. Lagian mana berani mereka grebek kita." Andre menoleh ke arah Irma sembari mengerlingakan kedua matanya.
"Ish ... pede sekali, mentang-mentang aparat." Irma berdecak mendengar ucapan Andre yang begitu percaya diri. "Mas ... benar gak marah sama aku kan?" tanya Irma tiba-tiba, ia masih tak enak hati dengan kejadian tadi siang.
"Mau jawab jujur apa bohong?" Andre malah menggoda Irma.
"Jujurlah!"
__ADS_1
"Aku tidak pernah marah sedikit pun. Aku percaya sama Mbak Say seratus persen."
"Lalu yang tadi siang?" Irma memicingkan sebelah matanya, belum mengerti dengan ucapan Andre.
Sementara itu, Andre malah tergelak. Tawanya pecah yang langsung ditutup oleh tangan Irma.
"Jangan kenceng-kenceng ketawanya! Entar mamah bangun," ujar Irma dengan matanya yang membulat sempurna mendapati kelakuan Andre yang bisa membangunkan orang-orang.
"Lupa." Andre nyengir kuda, begitu tangan Irma sudah terlepas.
Sembari menikmati indahnya gemerlap bintang yang bertaburan, Andre menceritakan alasan sebenarnya tentang kejadian siang tadi. Hingga, membuat keduanya tertawa cekikikan dari jendela.
"Sebegitu menakutkannya kah Ara di matamu, Mas?" tanya Irma dengan tangan yang membekap mulutnya sendiri, tidak ingin tawanya membuat orang curiga.
"Sangat. Cukup sekali aku kena semptot dia," jawab Andre. "Satu lagi, soal bunga lili. Itu bukan dariku," lanjut Andre dengan wajah yang sudah menengadah ke langit.
"Maksudnya?"
"Itu dari Ryan."
"Hah?!" Irma semakin dibuat tak mengerti dengan ucapan Andre. Kalau dari Ryan kenapa bisa ada di tangan Andre?
Maaf update-nya bolong-bolong lagi, buat kakak readers yang udah punya momongan pasti sudah pernah ngalamin yang namanya keleyengan di trisemester pertama kehamilan. Alhamdulilah buat aku gak bisa mikir 🤭🤭🤭. Maaf, ya! 🙏🙏🙏
__ADS_1