Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
91


__ADS_3

Waktu terus bergulir seiring pergantian siang dan malam. Hidup pun terus berlanjut. Di saat hari kemarin telah usai, hari baru dengan harapan baru yang lebih baik telah menanti. Pernikahan Andre dan Irma sudah di depan mata. Kurang dari dua puluh empat jam lagi sepasang kekasih yang dipenuhi banyak perjuangan itu akan mengakhiri masa lajang mereka. Dua keluarga yang akan diikat oleh jalinan pernikahan dari Andre dan Irma pun tengah disibukkan serangkaian acara yang digelar di hari min satu.


Ya, setelah persoalan alot yang hampir memutuskan ikatan cinta dua sejoli itu, akhirnya pernikahanan tetap akan diselenggarakan. Setelah banyak drama yang terjadi di hari ke dua sebelum pernikahan, Rita yang bersikeras menentang pernikahan itu akhirnya mengalah. Wanita yang telah melahirkan Andre itu merestui pilihan anaknya, meskipun tidak seratus persen menyetujui keputusan tersebut.


"Mah, jangan keras kepala! Ingat jodoh, hidup dan mati di tangan Allah. Apa Mamah tidak malu dengan ucapan Naura? Semua yang diucapkan gadis itu benar semua. Kita tidak boleh mendahului Allah. Jangan merendahkan seseorang hanya karena sebuah status dan kondisi. Ingat semua orang di mata Tuhan itu sama." Ahmad yang kala itu sedang berada di kamar bersama kedua anaknya mencoba memberi pencerahan kepada si istri.


"Tapi, Yah!" Rita mendongak ke arah sang suami, lalu mengedarkan pandangan kepada kedua anaknya. "Anak juga penting bagi penerus keluarga kita. Kalau Irma mandul bagaimana ke depannya?"


"Mah, bukannya aku sudah jelaskan, Irma tidak mandul. Ryan sendiri yang memberitahuku, Irma hanya sedikit susah punya anak. Apa aku perlu seret mantan suaminya ke sini, supaya Mamah mendengar sendiri dari mulut lelaki itu? Yang mandul itu Ryan bukan Irma," sela Andre. Nada suaranya terdengar sangat putus asa karena masih belum bisa membujuk Rita.


"Tetap saja susah, kan?" Rita kembali menimpali.


Andre tidak tahu harus dengan cara apalagi supaya ibunya bisa menerima Irma seperti dulu lagi. Jungkir-balik ia mencari akal dan berbagai cara ia lakukan untuk membujuk sang mamah, tetapi hasilnya nihil. Bahkan, diam-diam ia dan Irma sudah melakukan tes ulang. Namun, tetap saja tidak ada hasil memuaskan yang bisa membuat Rita luluh. Irma pun sudah meminta Andre untuk menyerah saja, wanita itu tidak mau jika dirinya menjadi anak durhaka hanya karena seorang wanita.

__ADS_1


"Susah bukan berarti tidak bisa, Mah," ujar Andre sembari mengacak rambutnya sendiri. Berbicara dengan Rita hanya membuat emosinya memuncak. "Lagian tidak semudah itu membatalkan pernikahan, Mah!" lanjut Andre, kemudian terdiam. Ia mencoba meraup oksigen yang ada, mengatur napas untuk mengontrol emosi.


"Pokoknya aku akan menikah dengan Irma atau tidak menikah sama sekali. Jika pernikahanku batal, bisa dipastikan peluang Mamah untuk memiliki cucu dariku itu tidak akan pernah ada karena anakmu ini akan melajang seumur hidup," lanjut Andre lagi, lalu memilih pergi dari kamar itu tanpa menunggu jawaban Rita. Ia tak sanggup mendengar penolakkan sang mamah yang akhirnya malah akan membuat Andre semakin membangkang. Pada dasarnya Andre dan Rita sama-sama keras kepala.


Selepas kepergian Andre, Ahmad mendekati Rita, lalu duduk di samping wanita yang masih termangu di tepi ranjang melihat punggung sang anak yang keluar kamar. Ahmad merangkul sang istri sembari mencoba membujuk lagi. "Sejatinya anak itu adalah titipan dari Sang Illahi, Mah. Bedanya ada yang dipercaya merawatnya dari sejak dalam kandungan dan ada yang dipercaya saat anak sudah terlahir ke dunia. Jika Irma tidak bisa mengandung bukan berarti ia tidak bisa memiliki anak. Banyak cara untuk bisa memiliki anak, adopsi misalnya. Tolong, jangan egois! Perhatikan kebahagiaan anak kita juga."


Namun, Rita tetaplah Rita. Selembut apapun Ahmad membujuknya, egonya tetaplah tinggi. Ia tetap pada pendiriannya, membuat Ahmad juga kehabisan kesabaran. "Jika Mamah keukeuh dengan pendirian Mamah, maaf kali ini ayah tidak setuju," ujar Ahmad dengan nada suara yang mulai meninggi, membuat Rita tersentak. "Ayah setuju dengan keputusan Andre. Dan, di sini ayah adalah kepala keluarga, mau tidak mau Mamah harus mengikuti keputusan ayah. Ingat surga seorang istri ada di kaki suaminya!"


Ahmad juga meninggalkan Rita, menyisakan Friska di sana. Ia menatap anak bungsunya, meminta anak perempuannya mendukung keputusannya.


Malam itu merupakan malam di mana titik balik seorang Rita. Sepanjang malam ia tak bisa terpejam. Tiga berbanding satu, tentu saja Rita kalah telak. Seluruh keluarga menentang keinginannya dan tetap mempertahankan Irma yang baginya tidak akan memberikan apa-apa selain beban kepada Andre. Ia masih tidak rela, Irma menjadi menantunya. Akan tetapi, wanita paruh baya itu juga tidak mau kalau harus diasingkan, bahkan dibenci oleh kelurganya sendiri. Hingga akhirnya, ia pun mencoba berdamai dengan hatinya sendiri. Meminta maaf kepada Irma dan keluarga, serta menyetujui pernikahan itu meskipun setengah hati.


***

__ADS_1


Sebuah tenda pernikahan nan megah terpasang di halaman rumah Irma dan Andre yang disatukan. Dengan lampu kristal di bawah kain yang membentuk bunga besar di titik pusat tenda, menambah kesan megah tenda. Andre mengedarkan pupilnya, memindai setiap sudut tenda dengan tempat pelaminan yang sudah rampung dikerjakan oleh pihak organizer.


"Besok aku akan bersanding dengan Mbak Say di sana," gumam Andre sembari menunjuk tempat pelaminan.


"Apa kamu senang?" tanya Ahmad saat melihat senyum terus terukir di bibir Anaknya itu.


"Senang sekali, Yah. Terima kasih, sudah membujuk Mamah," ujar Andre, melirik kepada lelaki tua yang berdiri di sampingnya.


"Bukan membujuk, tapi mengancam," jawab Ahmad dan tawa dari keduanya pun pecah. "Sekali-sekali keras kepala mamahmu itu harus dilawan, kalau dibiarkan terus bakal ngelunjak," lanjutnya lagi dan langsung diacungi jempol Andre. Meskipun Ahmad keras dalam mendidik anak, tetapi lelaki itu lebih pengertian dan selalu mengayomi anak-anaknya. Tawa pun masih menemani kebersamaan ayah dan anak itu.


"Apa kamu akan menatap tempat pelaminan terus? Atau bergabung dengan Dimas dan Uwa-nya Irma yang sedang menerima tamu?" tanya Ahmad lagi, setelah tawa mereka berhenti. Lantas, berjalan ke arah gerbang selamat datang, ikut bergabung dengan Dimas dan Budi.


"Dipandang terus pun tetap saja nikahnya besok, mendingan gabung sama mereka. Minta doa dulu biar tambah lancar," jawab Andre yang juga mengekori Ahmad.

__ADS_1


Andre dan Ahmad pun ikut bergabung dengan Dimas dan Budi yang sedang menyambut para tetangga yang diundang dalam acara pengajian pernikahan Andre dan Irma.


Setelah acara siraman yang digelar sore hari, kemudian dilanjut pengajian pada malam harinya. Dikarenakan calon pasangan suami istri itu berada dalam lingkungan yang sama, lebih tepatnya lagi rumah mereka bersebelahan, sesuai rencana awal semua acara diselenggarakan secara bersama-sama. Meskipun dilaksanakan bersama-sama, tetapi calon mempelai tetap tidak dibiarkan untuk saling bertemu. Bahkan, dalam acara pengajian pun Andre sama sekali tidak bisa melihat kehadiran Irma di sana.


__ADS_2