Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
75


__ADS_3

Dengan napas terengah-engah, Ryan tiba di depan rumah orang tuanya. Ia pun lantas menggeser pintu gerbang dan segera masuk dengan sisa tenaga yang hampir habis karena berlari sekencang mungkin—takut si preman masih mengejar. Kaki lelahnya berjalan menuju pintu putih yang tertutup rapat, lalu mengetuk pintu itu berkali-kali, tak sabar ingin segera masuk apalagi rasa gatal dan bau menyengat dari tubuhnya semakin menyiksa.


"Ya, sebentar!" ucap seseorang dari dalam rumah, kemudian pintu pun terbuka lebar. Menampilkan seorang wanita paruh baya yang memakai daster murah. Wanita itu menatap Ryan dari atas sampai bawah. Benar-benar kacau. "Maaf, saya tidak punya banyak uang, cuma ada ini! Lumayan buat beli sabun colek." Wanita yang merupakan pembantu rumah tangga di rumah Ambar, menyodorkan uang bergambar pahlawan wanita RI yang berasal dari Aceh—Tjut Meutia—yang wanita itu ambil dari saku daster.


"Apa?" Ryan tak mengerti dengan ucapan si pembantu, bukannya menyuruh tuannya masuk malah memberikan uang seribu rupiah.


"Udah tukang ngemis, ternyata budeg juga. Modus pengemis zaman sekarang aneh-aneh. Lagian orang lain sudah pada tidur, masih saja ngetuk-ngetuk pintu rumah orang buat ngemis," rutuk si pembantu lagi yang merasa terganggu dengan ketukkan pintu dan setelah pintu dibuka malah disuguhkan lelaki dengan wajah sudah tak karuan, ditambah lagi badan dan pakaian yang kotor semakin menguatkan persepsi si pembantu kalau yang di hadapannya benar-benar pengemis.


"Apa pengemis?" Ryan berkacak pinggang, tak terima dengan ucapan si pembantu.


'Entar, sepertinya suara pengemis itu tak asing.' Si pembantu yang sudah bertahun-tahun mengabdi di rumah besar itu memperhatikan Ryan, berpikir mungkinkah lelaki dihadapannya si tuan muda yang sedang ditunggu nyonya-nya sejak sore. Akan tetapi itu tidak mungkin, tuan mudanya orang yang selalu berpenampilan perpect dan sangat anti dengan yang namanya kotor, sedangkan orang di hadapannya tak lebih seperti gembel yang habis kejebur got. Kotor dan bau.


"Udah ngemis, galak lagi! Sana pergi! Seribu cukup buat beli sabun. Sana beli sabun biar gak bau! Senggaknya biar pun gembel, tapi masih kelihatan wujud orangnya." Wanita berdaster itu juga berkacak pinggang, kedua matanya melotot sempurna sambil mengusir Ryan, lalu menutup pintu.


Namun, Ryan tak kalah cepat. Dengan segera, ia menahan daun pintu dengan kaki dan tangannya. Membuat Ryan dan si pembantu saling dorong daun pintu. Si pembantu mendorong daun pintu untuk menutupnya, sedangkan Ryan mendorong pintu untuk membukanya.

__ADS_1


"Pengemis Zaman sekarang nekad juga, ya! Aku teriak maling baru tahu rasa!" Si pembantu menginjak kaki yang menghalangi pintu dan mencoba menutup pintu lagi dengan keras.


"Bi Inah, kau cari mati denganku, hah!" Belum sempat pintu tertutup, wanita yang bernama Inah itu mendengar lelaki yang disebutnya pengemis, menghardiknya dengan lantang dan suara itu sangat dikenalnya.


Perlahan Bi Inah melepaskan tangannya dari handle pintu, tidak jadi menutup pintu. Ia menatap dengan seksama lelaki yang sedang mengibaskan kaki yang diinjak olehnya dengan sorot mata sudah besiap melahap Inah hidup-hidup. Ia mengenal aura kemarahan itu. "Tu-tu—"Tiba-tiba tubuhnya terasa tak bertulang, mengingat siapa pemilik aura mengerikan di hadapannya, persis seperti tuan besarnya kalau sedang mengamuk.


"Minggir!" Ryan mendorong Inah yang menghalangi pintu, lalu melemparkan uang seribu yang diberikannya. "Nih, Aku tak butuh uang lecekmu! Sana beli sunligt untuk cuci matamu biar bersih dan terang benderang. Biar bisa bedain mana majikanmu dan pengemis," sarkas Ryan, kemudian meninggalkan Inah yang masih melongo, sedikit tak percaya kalau orang yang di hadapannya benar-benar Ryan, orang yang sangat anti dengan kotor.


'Bagaimana tidak nyangka pengemis? Dari atas sampai bawah hitam semua. Mana nyeker pula. Tuan Muda, habis renang di got mana, ya?' Inah malah cekikikkan sendiri.


"Berhenti! Kau siapa? Berani-beraninya masuk ke rumahku membawa virus." hardik Ambar yang sedang menggendong Alvino. "Inah!!!" teriaknya memanggil si pembantu.


"Iya, Nya!" Inah yang mengikuti Ryan dari belakang langsung menyahut.


"Kenapa kau suruh masuk orang gak jelas kayak gini? Aku pikir Ryan sudah pulang. Eh, kamu malah masukin gembel." Ambar langsung menyemprot Inah dengan omelan-omelannya.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, tapi dia itu Tuan Muda."


Penuturan Inah membuat Ambar melongo tak percaya. "Hah?!"


"Dia Tuan Ryan, Nyonya." Inah mengulangi ucapannya.


"Nyebur di got mana?" tanya Ambar sembari menutup hidungnya, tak kuat dengan bau menyengat dari tubuh Ryan.


Sementara itu, Ryan yang sudah tak sabar dengan rasa gatal dan bau yang menyengat dari tubuhnya langsung pergi ke lantai atas, tak sabar ingin membersihkan seluruh tubuh yang sudah tak karuan.


"Bersihkan di bawah saja! Lantai jadi kotor semua," teriak Ambar.


Namun, Ryan tak menghiraukan ucapwn Ambar, ia terus berlari menuju kamarnya di lantai dua.


"Hari tersial sepanjang sejarah!" rutuk Ryan sambil menyalakan shower, membasahi seluruh lumpur yang menutupi tubuh dan pakaiannya.

__ADS_1


__ADS_2