Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 16


__ADS_3

16


"Jangan bilang kamu mau mendekati adikku?" Andre menatap tajam lelaki yang sedang menghabiskan makanan di atas piring.


"Ide bagus juga, tuh!' jawabnya Ryan dengan santai sambil memasukkan nasi terakhir ke dalam mulut. "Menurutmu bagaimana, Dim?" lanjutnya, bertanya kepada Dimas dengan senyum yang mengembang, menggoda lelaki yang sebentar lagi akan kebakaran jenggot. Sementara itu, Dimas hanya mengangkat kedua bahunya.


"Ryan ...." panggil Andre dengan suara pelan namun penuh penekanan, giginya bergemeretak saling beradu serta mata seperti akan keluar dari tempatnya.


"Kau mikirnya kejauhan, Dre. Aku dan adikmu hanya makan siang biasa, tidak ada niatan lain." Ryan mencoba menjelaskan.


"Beneran cuman makan siang biasa, kan?"


"Iya, Makan siang biasa. Kau lihat saja yang kami makan itu nasi goreng seafood dan es jeruk, bukan semen dan pasir," tandas Ryan yang membuat Dimas tertawa lepas, sedangkan Andre langsung memelototinya. "Aku dan adikmu baru kenal kemari malam, yang benar saja kau sudah menganggap kami aneh-aneh. Lagian usia kami cukup jauh, dia lebih pantas jadi adikku ketimbang jadi istri apalagi ibunya Alvino," lanjut Ryan.


"Aku pegang kata-katamu," gumam Andre.


"Jangan dipegang doang, dikunci sekalian biar gak kabur." Dimas juga ikut menyela.

__ADS_1


Melihat sikap Friska dan tatapan mata gadis itu kepada Ryan, sebenarnya Andre sedikit menaruh curiga kepada adiknya itu. Hati kecilnya mengatakan kalau lelaki yang disukai adiknya adalah lelaki di hadapannya saat ini. Dan, bila prasangkanya benar, maka akan ada huru-hara baru di keluarga. Andre bisa saja menyetujui hubungan mereka, tetapi bagaimana dengan keluarga yang lain terutama Rita. Irma saja butuh perjuangan panjang untuk mendapatkan restu wanita tua itu, lalu bagaimana dengan Ryan? Sudah pasti akan ditolak mentah-mentah.


"Adikku akan seperti orang gila jika mencintai seseorang dan aku tidak mau dia juga gila karenamu seperti yang dia lakukan kepada lelaki itu," ujar Andre sambil menunjuk Dimas. "Jika itu terjadi akan kupastikan aku akan mengg*rokmu," ancam Andre.


"Apa kau digor*k sama dia?" tanya Ryan tanpa menghiraukan ucapan lelaki yang mengancamnya.


"Tidaklah ... aku kan tidak melayaninya, aku tidak memberikan gadis itu harapan palsu," jawab Dimas, "jadi aku aman," lanjutnya seraya berbisik.


"Apa kau berpikir kalau Friska itu menyukaiku?" Ryan menyipitkan sebelah matanya, menatap lelaki yang sangat posesif kepada Friska. Tawa Ryan hampir saja pecah, ia berpikir Andre terlalu berlebihan karena menurutnya semua yang dikatakan Andre itu sangat mustahil. Bagaimana mungkin seseorang bisa suka, hanya dengan sekali jumpa.


"Yan, aku tidak sedang bercanda. Aku mengenal adikku. Jika ia benar-benar menyukaimu bisakah kau menghindarinya? Jangan berikan dia harapan untuk mengembangkan perasaannya, karena jika itu terjadi hubungan ke depannya pasti akan sulit." Kali ini, Andre bicara dengan nada serius. "Ingat, orang tuamu sudah menjodohkanmu dengan Dewi dan kau pun setuju. Lagian adikku masih kecil, ia mungkin siap menjadi seorang istri, tapi belum tentu siap menjadi seorang ibu. Apalagi ibu sambung," lanjut Andre panjang lebar.


"Kau tenang saja, aku hanya menganggap adikmu itu sebagai adikku juga. Bukan waktunya lagi buat aku bermain-main dengan perasaan orang. Aku sudah memutuskan dan aku tidak akan menarik kata-kataku." Ryan meyakinkan Andre.


Ya, semenjak bertemu dengan Dewi dan melihat sikap wanita itu kepada Alvino, Ryan semakin memantapkan pilihannya untuk menyetujui permintaan Irma dan Rita. Meskipun Dewi sendiri belum memberikan jawaban apapun perihal permintaan itu.


Setelah mendengar ucapan Ryan, Andre sedikit lebih lega. Setidaknya meskipun benar Friska menyukai Ryan, lelaki itu tidak akan merespon perasaan adiknya hingga nantinya perasaan Friska akan hilang dengan sendiri seperti yang terjadi kepada Dimas dulu.

__ADS_1


'Maafkan kakak, Fris! Ini yang terbaik untukmu. Karena semuanya tidak akan mudah, sebaiknya kau menyerah dari sekarang,' gumam Andre dalam hati.


"Apakah masalah kalian sudah selesai? Apa sekarang bisa ganti topik?" Tiba-tiba Dimas menyela pembicaraan Andre dan Ryan, setelah kondisi suami dan mantan suami Irma kondusif.


Kedua orang itu mengangguk.


Mereka pun kembali ke topik awal alasan mereka bertemu di cafe itu. Ryan membeberkan semua yang telah dilakukannya setengah hari ini, setelah beberapa hari kepulangannya dari Paris ia langsung diberi tugas yang cukup membuatnya pusing. Karena beberapa rekomendasi yang Ryan berikan selalu saja ditolak.


"Gedung dan hotel yang sesuai dengan ciri-ciri yang dijabarkan sudah penuh semua untuk dua hari ke depan. Aku hanya menemukan aula hotel itu yang cukup mendekati. Itu pun kalau telat semenit saja pasti tempatnya sudah diambil orang. Maklumlah lagi musim kawin, sehari bisa sampai 3 kali gedung-gedung mengadakan acara resepsi." Ryan berkata dengan panjang lebar. "Untuk semakin yakin, kita bisa cek tempatnya sekarang juga ke sana," lanjutnya sambil menunjuk sebuah hotel bintang lima yang berada di depan cafe tersebut.


Sebelum jam istirahat Andre dan Dimas selesai, mereka pun langsung menuju tempat yang dipilih Ryan.


Sementara itu di tempat lain, seorang wanita sedang duduk termenung, meratapi nasib rumah tangganya yang semakin hari semakin terasa hambar. Ia menatap sendu pada sang anak yang sedang diajak bermain oleh neneknya.


"Bagaimana nasib anakku kalau rumah tanggaku benar-benar berakhir? Haruskah di usianya yang sekecil itu, ia tidak bisa merasakan kasih sayang orang tuanya secara utuh?" Tanpa terasa air mata kembali meleleh saat ia mengingat hal terburuk yang mungkin terjadi pada nasib rumah tangganya. "Apa yang sebenarnya terjadi? Apa salahku sehingga kamu mendiamkanku seperti ini? Aku tidak pernah ingin berprasangka buruk, tapi sikapmu memaksa semua pikiran itu mendominasi kepalaku," gumamnya, mengingat semua sikap suaminya yang seminggu ini sangat berbeda


"Ada apa?" Irma menghampiri wanita yang sedang mengusap air mata yang tanpa bisa ia tahan dan keluar begitu saja.

__ADS_1


Bukannya menjawab. Ia langsung memeluk Irma dan menangis di bahu sang kakak.


'Ah ... kalian keterlaluan. Surprise sih surprise tapi gak buat adikku nangis bombay kayak gini juga kali.' Irma merutuki kelakuan Dimas, tetapi ia juga tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya dan ia hanya bisa menepuk-nepuk adiknya mencoba menenangkan.


__ADS_2