
Tubuh gontai Andre, berjalan mendekati Irma yang masih berdiri di balik pintu kamar mandi, lalu menyodorkan barang yang diminta si istri beserta pakaian ganti juga.
"Beneran datang bulan?" tanya Andre, memastikan sekali lagi. Berharap kalau sang istri hanya sedang nge-frank-nya saja.
Irma mengangguk, lalu menutup pintu kamar mandi. Meniggalkan Andre yang masih mematung di depan pintu, meratapi nasib yang tidak sedang berpihak kepadanya. Tubuh lelaki itu semakin lemas saja, penjelajahannya harus terhenti di tengah jalan dan dipending sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Ah ...." teriak Andre sembari menutup wajah dengan bantal. "Ya, Tuhan. Cobaan apalagi ini? Baru aja ngerasain yang enak-enak udah puasa lagi aja. Nasibmu, Tong, sial kali! Padahal dikit lagi kita nyampe gua yang kemarin. Mupeng kan jadinya." Ia terus merutuki nasibnya.
Irma kembali dari kamar mandi dengan berpakaian yang sudah lengkap. Ia menghampiri sang suami yang masih menutup wajah dengan bantal serta memperlihatkan penampilan yang masih seperti bayi baru brojol. Irma menahan tawa sambil geleng-geleng saat melihat sesuatu yang masih memancarkan sinyalnya dengan kuat.
"Mas, mau tidur seperti itu?" tanya Irma sambil duduk di samping Andre. "Apa gak mau pake baju dulu?" lanjutnya.
Mendengar suara sang istri, Andre langsung menyingkapkan bantal dari atas wajahnya. Ia menatap sendu mata Irma, sangat memelas.
"Mbak, beneran datang bulan?" lagi dan lagi pertanyaan itu yang keluar dari mulut Andre.
"Iya, Mas. Aku sedang datang bulan," jawab Irma.
"Lalu gimana dengan nasib si Otong? Dia belum bisa tidur," rengek Andre sambil menunjuk kepimilikannya.
"Diguyur pake air dingin aja, nanti juga tidur lagi," tandas Irma, sembari menarik si suami untuk beranjak dari tempat tidur, lantas mendorong tubuh polos itu sampai di ambang pintu kamar mandi. "Udah, sana masuk! Terus pakai baju dulu!" lanjutnya, kemudian menutup pintu kamar mandi.
__ADS_1
Bulan madu yang dibayangkan Andre akan semanis madu, menghabiskan waktu dengan meneguk kenikmatan surga dunia di kamar hotel hanya tinggal angan saja. Kini, ia hanya bisa menikmati guyuran air dingin di malam hari sebagai pereda gejolak yang sudah memuncak.
Lain halnya dengan kamar sebelah. Naura dan Dimas yang sudah memesan kamar tepat di samping kamar Irma dan Andre sangat menikmati malam indah mereka. Sepasang suami istri itu menikmati malam panjang mereka dengan pergumulan yang sarat akan sentuhan berhasrat, hingga pelepasan menjadi puncak pergumulan keduanya.
***
Mentari pagi menyambut hari nan cerah, secerah wajah Naura yang tampak sangat bahagia dengan semua yang didapatnya dari sang suami. Dengan senyum yang tak pernah pudar, wanita yang sudah siap dengan baju pantai yang dibelinya semalam, tampak menungu Dimas yang masih berganti pakaian dengan baju senada dengan miliknya.
"Rencana liburan satu hari kita, mau dimulai dari mana?" Naura mengaetkan tangannya di lengan Dimas, begitu lelaki itu selesai berpakaian.
Berbeda dengan Irma dan Andre yang akan menghabiskan beberapa hari di tempat itu, kedua sejoli yang satu itu hanya memiliki waktu seharian penuh untuk bersenang-senang di sana karena besoknya Dimas sudah harus kembali ke rutinitasnya sebagai abdi negara.
"Aku ngikut Tuan Putri saja," jawab Dimas sembari mengecup kening sang istri sebagai ucapan selamat pagi.
Dengan senyum yang terus mengembang, Naura dan Dimas meninggalkan kamar hotel. Mereka berjalan ke area penyewaan sepeda yang berjarak beberapa meter dari tempat mereka menginap. Sebuah sepeda tandem pun menjadi pilihan.
"Eh, pengantin baru juga mo ikutan bersepeda?" tandas Naura, saat melihat Andre dan Irma juga sedang memilih-milih sepeda. "Padahal, tadinya aku sengaja gak ngajak barengan takut ganggu karena masih tanggung," lanjutnya, berseringai.
Andre yang sejak semalam kehilangan separuh semangatnya, hanya melirik ke arah si ibu hamil sambil membuang napas kasar. Ucapan si adik ipar mengingatkan lagi akan kegagalan pertempurannya semalam. Membuat lelaki itu tak punya semangat untuk melayani ocehan Naura karena ujung-ujungnya pasti kalah telak.
"Kurang sajen, ya?" Naura menyipitkan matanya, mendapati kelesuan Andre, tidak seperti biasa.
__ADS_1
"Lebih dari kurang tapi kagak dapat sajen," imbuh Andre. "Mbak Say, ayo, naik!" lanjutnya kepada Irma untuk naik ke sepeda.
Spontan, Irma mencubit pinggang lelaki yang memakai training itu dengan senyum yang coba ia tampilkan kepada adik dan adik iparnya, lalu naik pada sepeda tendem pilihan sang suami. Sementara itu, Dimas hanya mengulum senyum. Tanpa dijelaskan, ia bisa paham dengan melihat gelagat sang sahabat.
"Selamat berpuasa! Palingan gak lebih dari dua minggu, masih jauh beruntung dari aku yang harus berpuasa berbulan-bulan," bisik Dimas sembari menepuk bahu Andre dengan alis yang sudah naik turun, lalu naik ke sepeda miliknya.
"Beda aliran itu, mah!" jawab Andre.
Mereka pun berkeliling bersama di sekitaran pantai dari ujung barat sampai timur dengan sepeda. Menikmati udara pagi di sana, berbaur dengan pelancong lain yang sedang bersepeda juga serta menyaksikan para aktivitas pagi para penduduk lokal. Termasuk, menyaksikan gotong royong puluhan nelayan yang sedang menarik jaring yang berisi ikan yang melimpah ruah. Hingga, tiba-tiba tawa Naura pecah, membuat suami, Andre dan Irma menoleh ke arahnya keheranan.
"Kesambet, Ra?" tanya Andre.
"Lebih dari kesambet," jawab Naura yang juga sekarang sadar dan mengerti akan ucapan Andre. "Cuma mo bilang 'telur-telur, ulat-ulat, kepompong, kupu-kupu, kasian deh lu'!" lanjut Naura sambil menggoyang telunjuk di udara, dengan tawa yang masih menghiasi wajah.
"Telat, Ra! Orang lain udah udah berlari kamu masih ancang-ancang," jawab Andre.
"Mending telat, yang penting masih bisa ngeledek anak orang," imbuh Naura lagi. "Gowes yang kenceng, Papol!" lanjutnya, memerintah kepada sang suami unt kabur dari lelaki yang diledeknya.
"Dasar adik ipar jahara!" teriak Andre.
Naura yang berada di depan Andre hanya menoleh sambil memeletkan lidah, meledek kakak iparnya.
__ADS_1
Udah up-nya cuma satu, kemaleman pula. Maafkan, ya! 🤭🤭🤭