Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 23


__ADS_3

23


Dimas menggendong sang istri hingga sampai ke kamar hotel. Ia tidak peduli dengan beberapa pasang yang tanpa sengaja melihat kemesraan mereka, yang ada dipikiran Dimas hanyalah cepat tiba di kamar dan segera buka puasa. Apalagi, Naura sukses membuat h*sratnya yang selama seminggu ini ditahannya semakin memuncak, ketika dengan sengaja saat di dalam lift Naura mencium bibir Dimas dengan ciuman yang sangat menuntut, lalu melepaskannya begitu saja waktu pintu lift terbuka. Belum lagi dengan nakalnya, Naura yang mengalungkan lengannya di leher sang suami malah menyembunyikan kepalanya di leher Dimas dan sengaja memainkan lidah dan bibirnya di sana.


"Ra, apa yang kamu lakukan? Kamar hotel masih beberapa meter lagi, lho!"


Yang ditanya langsung menghentikan perbuatannya dan mendongak ke arah sang suami. "Tidak ada." Naura menyunggingkan senyum begitu melihat suaminya yang sudah kepanasan dengan napas yang sudah naik turun, meskipun sebenarnya ia pun tidak beda jauh. 'Permainan akan segera di mulai! Kau mupeng aku jingkrak-jingkrak,' gumam Naura dalam hati. Sementara itu, Dimas semakin mempercepat langkahnya untuk segera sampai di kamar.


Setiba di kamar, Dimas langsung membawa sang istri ke tempat tidur yang sudah dihiasi dengan taburan bunga mawar. "Aku tidak menyentuhmu seminggu, tapi nakalmu sudah kebangetan. Masa di tempat umum kau main cium sana sini saja," ucap Dimas sambil menidurkan sang istri.


"Cium suami sendiri gak ada yang larang. Lagian udah tengah malam juga, gak ada orang yang liat mereka udah sibuk di kamar mereka masing-masing," jawab Naura. 'Dan kau tidak tahu saja, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu.' Di dalam hati, Naura tersenyum lebar, membayangkan akan seperti apa uring-uringannya Dimas beberapa jam ke depan.


"Tapi, karena ulah nakalmu celanaku terasa sangat sesak."


"Dan aku akan membuatnya semakin sesak lagi," ujar Naura dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


Sepersekian detik kemudian, wanita itu menarik tengkuk sang suami dan bibir yang tadi menyunggingkan senyum langsung mengabsen setiap lekuk bibir sang suami, begitu pun sebaliknya—saling meny*sap dan *****4*.


Dimas yang sudah sangat merindukan permainan pembakar kalori itu pun langsung menjelajahi setiap inci tubuh si istri dengan tangan dan juga bibirnya. Dengan lihai melucuti kain pembungkus si istri, lalu memberikan banyak tanda kepemilikan di sana. Dinding kamar hotel pun menjadi saksi ganasnya ombak kerinduan Dimas yang sudah ditahannya selama satu minggu. Hingga tiba-tiba, Naura mendorong hingga terjengkang tubuh lelaki yang sudah berhasil membuka penutup terakhir aset bagian atas miliknya.


"Ra? Apa yang kau lakukan?" Dimas yang h*sratnya sudah memuncak, tidak terima dengan perbuatan si istri.


"Aku sakit perut. Perutku melilit, sakit sekali. Aku ke kamar mandi dulu, ya!" ujar Naura, sembari memegangi gaun yang sudah melorot sampai pinggang, lalu berlari ke kamar mandi.


"Ra ...." panggil Dimas, frustrasi.


Si istri hanya menoleh, lalu segera masuk ke kamar mandi dengan senyum yang tersungging. 'Emang enak?'

__ADS_1


Sementara itu di sebuah kamar seunit rumah, tampak Andre masih duduk bersandar di kepala ranjang menatap sang istri dan keponakannya yang sudah terlelap. Kepalanya masih terganggu dengan kejadian di aula tadi. Ia tidak ingin mematahkan hati Friska, tetapi ia juga tidak mungkin mengizinkan gadis itu menjalin hubungan dengan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suami orang lain. Cukup lama ia bergelut dengan dirinya sendiri.


"Ah ...." Andre mengacak-acak rambutnya sendiri. "Daripada pusing kenapa aku tidak ganggu penganten lawas saja." Andre malah terpikir untuk mengganggu orang tua dari anak yang sedang tidur bersamanya dan Irma.


Dengan senyum yang tersungging, ia lantas meraih ponsel di nakas.


"Ba, belum tidur?" Irma yang tidurnya terganggu oleh pergerakan Andre juga ikut bangun.


"Belum," jawabnya sambil membuka kunci layar ponsel dan mencari nomor Dimas.


"Mau nelpon siapa malam-malam gini?" Sambil mengucek-ucek mata, Irma bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang seperti sang suami.


Andre tidak lantas menjawab. Ia hanya tersenyum sambil menunjuk Kayla dengan kepala dan alis yang sudah naik turun serta lirikan mata yang mencurigakan.


"Jangan bilang kamu mau ganggu mereka, ya?" Irma menyipitkan sebelah matanya.


"Ish ... Baba tega banget," seloroh Irma yang sebenarnya penasaran juga bagaiman dengan reaksi kedua pengantin lawas itu saat tanggung-tanggungnya malah diganggu.


***


Di kamar hotel, Dimas kembali asyik mereguk manisnya bibir sang istri dengan tangan yang mulai menjalar di belakang tubuh Naura yang sekarang sudah berganti pakaian. Setelah menunggu hampir setengah jam, Naura keluar dari kamar mandi dengan mengenakan ling3ri dan dengan tanpa berdosa telah meninggalkan sang suami dalam keadaan on, Naura hanya berdalih sakit perut.


Melihat Naura yang semakin memukau dengan balutan ling3ri merah, membuat libido Dimas semakin meningkat. Tanpa ingin menunda lagi, Dimas langsung kembali melancarkan aksinya dari awal.


"Ya, Tuhan. Papol kamu itu tidak sabaran banget. Napas dulu, napa?" rutuk Naura. Wanita itu meraup oksigen sebanyak-banyaknya saat pagutan bibir mereka terlepas.


"Salah sendiri di kamar mandinya lama sekali," jawab Dimas, lalu kembali menyatukan bibir mereka. Sementara itu tangannya sudah menyusup ke satu tempat yang tadi baru dilihat penampakannya saja, belum sempat memegang apalagi menikmati.

__ADS_1


Dimas yang sudah sangat merindukan dua mata air yang sekarang tidak kering lagi itu, lantas melepaskan pagutan bibirnya dan menyingkapkan baju seksi yang dipakai sang istri, hingga menampilkan bentuk nyata dari dua gunung dengan dua mata air tersebut yang membuatnya menelan saliva. Ia bersiap meneguk manisnya air dari tempat yang sekarang harus Dimas bagi dengan Kayla.


Namun, lagi-lagi sesuatu tidak terduga terjadi. Dering telepon tiba-tiba menghentikan aksinya.


"Papol ada telepon!"


Pada awalnya Dimas tidak peduli. Ia yang sudah dipenuhi gelora cinta yang membara, tidak peduli dengan suara apapun yang mengganggu. Satu tujuannya saat ini adalah menggapai surga dunia bersama sang istri.


Akan tetapi, Naura terus berbicara dan meminta lelaki itu menghentikan permainannnya dan menerima panggilan terlebih dahulu. Dengan wajah yang sudah memerah, terpaksa Dimas pun menghentikan permainannya dan menerima panggilan tersebut.


"Halo, ada apa?" ucap Dimas dengan nada kesal begitu panggilan tersambung.


"Kau kenapa? Angkat telepon itu pertama kali yang diucap itu salam, bukan nanya ada apa dengan ketus," ucap Andre di seberang sana.


"Ada penting tidak? Kalau tidak ada besok saja telponnya," ucap Dimas, lalu mengakhiri panggilannya.


Akan tetapi, beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering.


"Kenapa main tutup saja?" omel Andre. "Aku ada perlu dengan istrimu," lanjutnya.


"Ada apa?" Dimas tidak rela memberikan ponselnya kepada si istri.


"Tentu saja ada hal yang ingin aku tanyakan. Kamu tahu sendiri, anakmu ada padaku. Aku tidak terlalu paham tentang ini dan itu, sementara Irma sudah tidur. Aku tidak mau mengganggunya dan si twins setelah seharian dia kelelahan," ujar Andre panjang lebar.


Demi Kayla, mau tidak mau Dimas memberikan ponselnya kepada Naura.


'Felling-ku tidak enak,' gumam Dimas dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2