
Seunit mobil memasuki sebuah gerbang rumah yang terdapat pada sebuah perumahan elit di kota P. Meskipun sudah diusir oleh keluarganya, bukan berarti ia hidup sengsara di kolong jembatan. Lelaki itu masih bisa tinggal di rumah mewah karena perusahaan tempatnya bekerja tidak mempermasalahkan urusan pribadinya, asalkan kinerjanya untuk perusahaan tetap baik. Setelah mengantar ibunya pulang, Ryan lebih memilih kembali ke rumahnya. Ceramah dari si mamah yang tak pernah berhenti sepanjang jalan, semenjak dirinya memuji Irma terus terngiang di telinga Ryan.
"Memang dia cantik, lalu letak kesalahanku di mana? Aku hanya memujinya. Memuji kena omel, dulu menyakitinya malah kena depak dari keluarga. Mau mereka apa, sih?" Ryan yang baru saja memarkirkan mobil, langsung keluar dan menutup pintu mobil dengan kasar sembari mengupat.
Wajah cantik Irma, tiba-tiba saja terus menghiasi kepalanya. Entah, mungkin karena mereka baru pertama kali bertemu setelah beberapa bulan terakhir, Ryan tak pernah sekali pun bertemu Irma meskipun mereka tinggal di dalam satu kota, sehingga ia begitu terpana melihat perubahan Irma yang menurutnya sangat cantik. Atau, mungkin karena masalah keluarga yang setiap hari bertambah runyam membuat lelaki itu malah kepincut pesona sang mantan yang sipatnya jauh berbeda dengan istrinya sekarang.
Ryan memasuki rumah besar yang baru dibelinya beberapa bulan lalu. Rumah yang sengaja ia beli karena Elsa tak mau menempati rumah bekas Ryan dan Irma. Namun, rumah besar itu tampak sepi. Elsa sama sekali tak terlihat, padahal beberapa bulan yang lalu setiap ia pulang, wanita itu selalu menyambutnya. Membuat Ryan merasa sangat beruntung memiliki istri yang sangat mencintai dan tentunya dicintainya sampai mati. Akan tetapi, sifat manusia bisa berubah kapan saja. Satu bulan terakhir ini sifat Elsa semakin berubah dan membuat Ryan malah muak dengan istrinya sendiri.
"Elsa! El ... Elsa!" panggil Ryan saat tak melihat batang hidung si istri.
Tak ada jawaban sama sekali.
"Dia ke mana, sih? Jangan bilang kalau dia keluar lagi!" Langkah lebar Ryan langsung menaiki tangga, ingin memastikan ucapannya. Benar saja semua praduganya, wanita itu tak ada di mana-mana. Bahkan, di kamar anak yang baru dua bulan lalu dilahirkan pun tak ada.
"Nyonya ke mana, Yu?" tanya Ryan kepada Ayu, si pengasuh bayinya. Bayi yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari sang ibu, malah harus rela menghabiskan hari-harinya bersama seorang pengasuh.
"Nyonya keluar lagi, Tuan."
__ADS_1
"Dasar ibu gak punya moral. Bukannya ngurus anak, malah ngurusi body." Ryan benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Elsa. "Sini, Sayang, gendong sama Papah!"
Ayu pun langsung memberikan bayi digendongannya kepada Ryan. Bayi mungil itu pun tampak tersenyum ke arah Ryan, seakan-akan ia paham kalau yang sedang menggendongnya adalah sang ayah. Tangan mungilnya bergerak-gerak dengan senyum yang tak pernah pudar, membuat semua orang gemas dibuatnya.
"Kamu itu sangat-sangat menggemaskan." Ryan menempelkan hidungnya di hidung si bayi dan menggesek-geseknya pelan, membuat si bayi tertawa riang khas bayi. "Kenapa ibumu tak pernah mau mengurusmu?" Ia menatap iba anaknya yang tak pernah mendapat kasih sayang dari ibu yang telah melahirkannya.
Hanya bayi itu yang selalu bisa menjadi obat kepenatan Ryan setelah seharian beraktivitas ditambah perdebatannya dengan Elsa yang sudah seperti makan saja, menjadi asupan sehari-hari.
Ryan tampak begitu asyik bermain dengan anak yang baru mengerti tertawa dan menangis itu, tetapi hatinya yang bergejolak akan selalu adem bila sudah bersama jagoan kecil yang ia beri nama Alvino.
"Ada apa?" tanya Ryan, melihat Ayu yang tampak ingin bicara, tetapi ragu.
"Emm ... itu Tuan ...." Ayu bingung harus darimana memulainya.
"Bicaralah! Aku mendengarkanmu," ujar Ryan lagi dengan pandangan yang tak pernah teralihkan dari Alvino yang sedang memegang telunjuk dirinya.
"Aku mau izin pulang kampung, Tuan. Kemarin orang rumah memberitahu kalau ibu sakit keras." Ayu mengutarakan sesuatu yang sudah dari kemarin ingin ia ucapkan, tetapi melihat tuan dan nyonya-nya yang sedang bertengkar membuat ia mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Lalu Alvino bagaimana? Kalau malam aku bisa handle, tapi kalau siang aku harus kerja." Ryan tampak kebingungan, ia sadar istrinya tak bisa diandalkan.
"Kan ada nyonya, Tuan."
"Apa kau percaya dia bakal mengurus Alvino?"
Melihat kelakuan Elsa selama ia berkerja di rumah Ryan, Ayu hanya bisa menggeleng. Namun, orang tuanya sangat penting bagi Ayu. Ia terus membujuk Ryan untuk mengizinkannya. Setelah, Ayu berjanji akan kembali kalau ibunya sudah sembuh, akhirnya Ryan pun terpaksa mengizinkan.
***
"Sekarang hanya tinggal kita berdua. Jagoan papah jangan rewel, ya! Papah gak secekatan Mbak Ayu. Nanti kalau mamahmu pulang, akan papah omeli dia biar mau menjagamu juga," ujar Ryan sembari menimang-nimang Alvino yang mulai terlelap dipangkuannya dengan dot yang menempel di mulut bayi mungil itu.
Setelah tertidur pulas, lelaki itu memindahkan Alvino ke dalam kasur box bayi. Ryan tak langsung pergi, ia menyeret kursi ke dekat kasur Alvino. Matanya terus memandang wajah mungil yang penuh kedamaian itu.
"Apa ini karma yang harus kudapat? Aku telah menyia-nyiakan wanita sebaik Irma dan sekarang aku mendapatkan wanita yang bahkan tak ingat pada anak yang baru saja dilahirkannya." Tiba-tiba perlakuan-perlakuan buruk terhadap Irma terus terlintas, hanya karena ia dibutakan cinta pertamanya. Hingga perlakuan itu semakin menjadi saat ia tahu Irma tak bisa memberikannya keturunan. Bahkan, kebaikan-kebaikan Irma tak pernah terlihat sedikit pun olehnya dan sekarang setelah sekian lama ia baru merasakan kehilangan dan penyesalan yang mendalam.
"Jika sekarang aku mau kembali dengannya, mungkinkah dia mau menerimaku lagi? Irma pasti bisa menjadi ibu yang baik untuk Alvino. Aku yang selalu menyakitinya saja selalu ia perlakukan dengan baik, apalagi wajah menggemaskan ini? Ia pasti langsung jatuh cinta."
__ADS_1