Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2- 29


__ADS_3

29


Setelah mendengar ucapan Andre dan Irma. Friska mencoba merenungkan semua kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Ia tahu lelaki itu berkata pajang lebar dari a sampai z hanya demi kebaikannya dan tidak mau kalau adik kesayangannya sampai terluka. Gadis yang sudah berusia 21 tahun itu pun menyadari sudah seharusnya ia belajar dewasa, berpikir dengan logis dan tidak hanya membawa ego saja.


"Aku akan mencoba melupakannya " Ucapan Friska mengejutkan semua orang yang ada di ruang makan.


"Benarkah?" tanya Andre, setengah tidak percaya.


Andre, Irma dan Friska sedang berada di ruang makan, menikmati sarapan dengan kebisuan. Tidak ada yang berani mengangkat suara terlebih dahulu, setelah seminggu lalu Friska bersikukuh untuk memperjuangkan perasaannya terhadap Ryan. Friska dan Andre hidup satu rumah, tetapi seperti orang asing. Irma yang melihat kebisuan kakak beradik itu pun hanya bisa menghela napas panjang. Tidak banyak yang bisa ia lakukan karena berulang kali meminta keduanya untuk menurunkan egonya masing-masing— terlebih Andre— tetapi hasilnya nihil. Dua-duanya sama-sama keras kepala.


Namun pagi ini, Friska mengubah keputusan yang membuat Andre dan Irma terperangah.


"Kau tidak sedang bercanda, kan?" lanjut Andre.


Friska menggeleng. "Tentu saja tidak. Semua yang kakak ucapkan benar. Tidak seharusnya aku mencintai lelaki yang sudah memiliki jodohnya sendiri. Aku juga seharusnya mempertimbangkan reaksi keluarga kita." Friska berbicara panjang lebar, membenarkan ucapan Andre malam itu dengan kepala yang tertunduk. Jauh dilubuk hatinya ia masih ingin berjuang, tetapi ia juga tidak mau membuat kakaknya berada dalam kesulitan hanya karena dirinya. "Maaf," ucapnya dengan penuh sesal.


"Tapi, sebagai gantinya seperti janji kakak, kenalkan aku pada cowok-cowok kece kenalan Kakak. Siapa tahu ada yang cocok. Ya ... ya!" lanjut Friska sambil menaik turunkan alis dengan seutas senyum yang dipaksakan tertampil untuk mencairkan hatinya.


"Tentu saja dengan senang hati." Andre berujar dengan penuh semangat. Bahkan, karena senangnya Andre sampai berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri Friska—memeluk gadis itu. "Kakak akn kenalkanmu pada laki-laki tampan sesuai kriteriamu tentunya."


"Aku tunggu itu." Friska membalas pelukan sang kakak.


Irma tersenyum lebar dan bernapas lega saat menyaksikan kakak-beradik itu sudah kembali akur. "Aku juga pengen dipeluk!" tandasnya sambil menghampiri Friska dan ikut memeluk gadis itu.


"Aku sayang kalian," ucap Friska.


"Kami juga menyayangimu dan hanya ingin semua yang terbaik untukmu," ujar Irma.

__ADS_1


Setelah seminggu saling diam, kakak beradik yang suka seperti kucing dan tikus itu dan berubah menjadi seperti musuh bubuyutan, sekarang telah akur kembali.


***


Selepas acara peluk-pelukan di ruang makan tersebut. Friska bertekad untuk melupakan perasaannya, bahkan beberapa kali ia yang hampir bertemu dengan Ryan pun langsung menghindar. Dan setelah menagih janji kepada sang kakak, kali ini Friska berada di sebuah cafe sedang menunggu lelaki yang beberapa waktu lalu dikenalkan Andre kepadanya.


"Dia di mana? Kenapa belum sampai juga?" Friska melihat angka yang ditunjuk jarum jam pada jam tangan yang melingkar di tangan. Sejak sampai di sana, sudah lebih dari tiga kali, Friska melirik benda yang melilit lengan kirinya. Namun, yang ditunggu tidak kunjung datang. "Ya, Tuhan. Aku sudah hampir satu jam menunggunya, kenapa belum ada tanda-tanda mo datang?" Ia mulai kesal karena terlalu lama menunggu, bahkan Friska sudah menghabiskan tiga gelas jus.


Tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Friska pun menghubungi nomor orang tersebut, tetapi nomor itu tidak aktif. "Wah, jangan-jangan dia ngerjain aku. Ngajak ribut nih, orang. Padahal setengah jam yang lalu nomornya masih aktif." Friska mendumel sendiri, hingga memilih menghubungi bapakcomlangnya.


"Kak, kalau ngenalin orang yang bisa tepatin janji apa? Aku udah nunggu satu jam tapi hidungnya aja kagak ada nongol," omel Friska begitu panggilan tersambung.


"Memang kau janjian sama siapa?" tanya Andre dari seberang sana.


"Memangnya ada berapa cowok yang kakak kenalkan sama aku? Sama Krisna lah, lalu sama siapa lagi?" Friska terus mendumel.


Krisna adalah lelaki yang dikenalkan Andre kepada Friska. Seseorang yang juga bekerja sebagai abdi negara. Ia seorang Satresnarkoba yang bertugas untuk menangkap dan melakukan penyelidikan serta memberantas penyalahgunaan narkotika.


"Maksudnya?"


"Seingat kakak, waktu dia maen ke rumah, dia bilang kalau hari ini dia ada tugas untuk menyelidiki kasus transaksi jual beli narkoba. Apa dia tidak memberitahumu?" tanya Andre lagi.


Mendengar ucapan Andre, Friska pun terdiam. Ya, lelaki itu pernah mengatakannya dan meminta kencan mereka dijadwalkan ulang. 'Kenapa aku bisa lupa?' rutuk Friska dalam hati.


"Sepertinya kamu sudah tidak sabar ingin bertemu lagi dengannya sampai-sampai lupa kalau kencan kalian batal." Andre di seberang sana malah menggoda Friska.


"Tau ah!" Dengan cepat, Friska langsung menutup sambungan telepon yang memperdengarkan orang yang sedang tertawa. "Sial kenapa bisa lupa, sih?"

__ADS_1


Yang ditunggu sudah pasti tidak akan datang. Friska pun memilih untuk pulang. Setelah membayar tiga gelas minumannya, ia beranjak hendak meninggalkan meja yang ditempatinya dengan mata yang fokus pada ponsel. Namun, tanpa disengaja seseorang menabraknya, membuat ponsel yang dipegangnya jatuh.


"Maaf, saya tidak sengaja," ucap orang itu penuh sesal.


"Tidak apa-apa!" jawab Friska sambil memungut ponselnya yang terjatuh.


"Friska?" Orang itu mengenalinya.


Deg!


Seseorang memanggil namanya lagi dengan suara dan nada yang sama. Suara yang sudah dua minggu mencoba dilupakannya, tetapi malah semakin membuatnya merindu. Friska yang masih berjongkok menatap tiga pasang kaki yang berada di hadapannya, lantas mendongak. Dilihatnya Ryan dan Dewi beserta anak Dewi juga Alvino ada di hadapannya.


"Eh, Kak Ryan, Mbak Dewi." Dengan senyum yang mencoba tertampil, Friska menyapa calon keluarga bahagia itu.


"Makan di sini juga, Fris? Dengan siapa?" tanya Dewi.


"Rencana tadinya sih iya sama teman. Tapi, gatot," tandas Friska lagi.


"Kenapa?"


"Orangnya mendadak ada tugas negara." ucap Friska sambil menampilkan lengkungan senyum, tanpa berani menatap lelaki yang sedang bersama Dewi. "Terpaksa balik lagi," lanjutnya.


"Eh, gak usah balik lagi," tandas Dewi.


Keduanya pun mengobrol basa-basi cukup lama, hingga Dewi mengajak Friska untuk ikut gabung makan bersama dengan mereka. Friska mencoba menolak, tetapi Dewi memaksa hingga terpaksa Friska pun menerimanya.


"Takdir macam apa ini?" gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Friska sudah berusaha menjauh dari kehidupan Ryan, tetapi takdir berkata lain. Lelaki itu selalu muncul di hadapannya dan untuk kali ini Friska tidak bisa menghindarinya.


"Aku bisa. Friska bisa." Kata-kata mantra itu kembali ia lafalkan dalam hati. Kata-kata yang selalu terucap sebagai penguat saat tiba-tiba hatinya kembali bergetar ketika mengingat Ryan.


__ADS_2