
Andre tidur sangat pulas. Sakit perut yang tadi menyiksa tak lagi dirasa. Andre sudah terbiasa tidur memeluk guling, hinga merasa ada yang kurang saat ia tidur tanpa ada guling di tangan. Dengan mata yang masih terpejam, lelaki itu pun meraba-raba tempat tidurnya. Sampai tangan Andre menemukan sesuatu yang dianggapnya guling, lalu menarik benda itu.
"Gulingnya kenapa jadi berat gini?" gumam Andre sambil menarik Irma yang dianggapnya guling, tetapi tidak ada pergerakan sama sekali. "Tapi, kok, gulingnya kenyal-kenyal kayak gini?" Andre yang masih terpejam dan belum sadar akan kehadiran Irma, merasakan ada hal yang aneh pada guling kesayangannya.
Ia terus meraba-raba Irma, hingga orang yang terganggu tidurnya itu menepis tangan yang terus menggerayangi tubuh.
"Guling kok punya tangan?" Mata Andre langsung membulat sempurna, ia terkesiap dengan tingkah guling bertangan miliknya. "Hah! Aku mimpi apa, guling berubah jadi Mbak Say?"
Andre yang kesadarannya belum kembali seratus persen, menatap heran wanita yang sedang terlelap di sampingnya. Sejurus kemudian, ia menepuk jidat sendiri begitu sadar akan kebodohannya.
"Ya iyalah, dia ada di sini. Dia kan udah resmi jadi istriku." Andre tertawa sendiri, saat acara yang telah digelar terlintas dipikirannya. Apalagi saat mengingat adegan pemanasan yang mereka lakukan, itu sangat manis. Hingga senyumnya pun meredup begitu ingat acaranya terpotong oleh sakit perut tak berakhlak.
"Terima kasih sudah merawatku." Sebuah kecupan mendarat di pipi Irma.
Rasa kantuk Andre seketika menghilang. Melihat Irma yang tidur dengan begitu tenang dan cantik, membuatnya tidak ingin melewati masa itu. Andre yang masih tidur memiring pun, menyangga kepalanya, lalu memperhatikan wajah yang tak pernah bosan dipandang itu. Andre mengabsen setiap lekuk wajah sang istri dengan jemarinya. Menyebutkan setiap bagian wajah yang dijamahnya dan mematenkan bahwa semua itu adalah miliknya. Mematri dalam hati dan sanubari, selamanya tak akan pernah terganti.
Ia masih berasa mimpi, tak menyangka, bisa tidur seranjang dengan sang pujaan hati.
__ADS_1
Puas memandangi wajah Irma, Andre kembali berbaring sembari memeluk wanita itu sangat erat. Hingga sebuah pergerakkan dari Irma, menyadarkan Andre kalau si istri juga terbangun oleh ulahnya. Membuat Andre merutuki dirinya sendiri yang telah mengganggu tidur Irma. Mata Andre pun kembali terpejam, pura-pura tidur, berharap Irma juga kembali tidur.
Namun, di luar dugaannya. Wanita yang mengkhawatirkan kondisi Andre itu malah bangun dan memperhatikannya balik. Andre yang tak tahan pura-pura tidur pun, perlahan membuka mata sembari menggoda sang istri.
Percakapan saling mengucapkan terima kasih dan maaf pun menjadi awal pembuka bangun tidur pertama mereka setelah sah menjadi suami istri.
"Masih ada waktu menjelang subuh. Apa mau melanjutkan sesi pemanasan yang sempat tertunda itu?" ujar Andre kemudian, dengan senyum yang tertampil. Wajahnya semakin mendekati wajah Irma. Ia mengajak sang istri kembali mengulangi pemanasan semalam yang tentunya kali ini harus sampai pada pendinginan.
"Beneran udah sembuh?" Irma menghalang wajah yang hampir menempel di wajahnya. Memastikan kejadian semalam tidak terulang.
Irma tersenyum sembari mengangguk kecil. Sebagai seorang yang pernah berrumah tangga tidak dapat dipungkiri, Irma juga haus akan sentuhan seorang lelaki. Mendapat sentuhan dari Andre, membuat sisi lain Irma juga meminta lebih. Selain itu, ia juga tidak mau membuat lelaki yang ia cintai kecewa karena menolak permintaannya.
Mendapat persetujuan dari Irma, dengan semangat '45 Andre kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Irma, mereguk kembali manisnya daging tak bertulang yang semalam sempat dicicipi, hingga lidahnya meraksek masuk, mengabsen setiap ruang di sana. Tidak ingin hanya Andre yang bermain, Irma merekatkan dekapnya dan mengimbangi permainan lidah sang suami.
"Aku mencintaimu," Kata cinta terus terucap dari mulut Andre saat mereka meraup oksigen yang hampir menipis.
Hingga setiap kata cinta itu hanya terucap dari setiap sentuhan yang di berikan Andre. Setelah puas saling mentrasfer air liur, Andre melepas benang-benang yang menutupi sang istri dan juga dirinya. Tanpa sepatah kata pun Andre bergegas menapaki peta yang baru bisa ia jamah setelah mengikrarkan ijab kabul. Tidak lupa, memberikan titik-titik jelajah dengan bentuk kemerahan di tempat yang Andre lewati. Bahkan, dua mata air kering pun menjadi titik terindah dan terlama ia singgahi. Mungkin, tempat itu akan menjadi tempat terfavorit, kalau nanti ia berjelajah kembali. Namun, penjelajahan tidak boleh berhenti di sana. Masih ada satu tempat yang menantinya, surga dunia sudah ada di depan mata.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, ia mencoba memberikan jejak di sana. Bukan hanya jejak, tetapi ia mencoba masuk ke tempat yang membuatnya mabuk kepayang. Dengan ritme teratur ia mecoba memporakporandakan tempat yang mirip gua sempit itu, membuat Irma terus meracau tak jelas saat semua sentuhan menimbulkan gelenyar aneh di tubuhnya.
"Aku sakit perut lagi." Tiba-tiba suara Andre membuyarkan penjelajahan yang hampir mencapai puncak.
"Hah!" Irma melotot sempurna, tak percaya dengan ucapan Andre. Lebih tepatnya lagi, ia tak terima ucapan suaminya. Bisa-bisanya di saat acara inti lelaki itu akan meninggalkannya lagi ke kamar mandi.
"Aku sakit perut. Pending lagi, ya!" ujar Andre, mengehentikkan permainnya.
"Enggak. Selesaikan dulu!" jawab Irma, dengan matanya yang merah seperti akan keluar saja.
Jawaban Irma sungguh diluar dugaan Andre, membuat lelaki tersenyum lebar. "Sesuai perintah, Mbak Say!" ucap Andre yang berhasil mengerjai Irma. Lelaki itu pun kembali melakukan penjelajahann dengan sedikit menaikkan kecepatannya.
Dinding-dinding kamar pun merekam setiap penjelajahan yang dilakukan si pemilik kamar dan menjadi saksi bisu penyatuan cinta Andre dan Irma dalam setiap sapuan napas mereka.
"Aku mencintaimu," ucap Andre sembari mencium kening sang istri di akhir penjelajahan mereka.
"Aku juga mencintaimu," jawab Irma dengan napas yang belum beraturan.
__ADS_1