Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
55


__ADS_3

Dengan wajah yang merona, Irma mengangguk malu saat Budi menanyakan kesiapan Irma menerima pinangan Andre. Kebahagiaan terpancar dari semua orang yang hadir di sana, tanpa terkecuali. Setelah mendapat jawaban dari Irma, pihak keluarga Andre pun memberikan barang seserahan kepada keluarga Irma. Kemudian dilanjutkan dengan acara tukar cincin yang dipasangkan oleh Rita dan Ranti. Rita sebagai ibu Andre, memasangkan cincin di jari Irma. Begitu juga sebaliknya, Ranti memasangkan cincin di jari Andre.


Acara berlangsung dengan sangat khidmat dan kekeluargaan, setelah acara inti selesai, berlanjut dengan acara perkenalan keluarga sembari menikmati jamuan yang telah disediakan Ranti. Silaturahmi dari dua keluarga pun cepat terjalin, kedua keluarga saling berbaur dengan obrolan-obrolan hangat dari mereka.


"Tuhan baik banget, ya, sama aku!" ujar Andre saat menghampiri Irma yang sedang berbincang-bincang dengan Friska, lalu menyodorkan satu cupcake kepada si calon istri.


"Baik kenapa, Mas?" tanya Irma sambil menggeleng, menolak cupcake yang diberikan Andre.


"Buat aku aja." Dengan segera Friska menyambar cupcake di tangan Andre.


Andre hanya mencebik, tanpa melarang adiknya mengambil cupcake tersebut.


"Baik, sangat-sangat baik. Kamu tahu tidak, di saat aku kehausan dan meminta setetes air, Tuhan menurunkan hujan untukku. Di saat aku kelaparan dan meminta sesuap makanan, Tuhan pun memberikanku makanan yang melimpah. Dan di saat aku kesepian, aku meminta seorang tuk menemani. Dia dengan baiknya menurunkan bidadari-Nya untukku, dan sekarang bidadarinya sedang duduk di sampingku." Sembari memamerkan rentetan giginya, Andre melirik wanita yang ada di sampingnya itu.


Tak perlu ditanya, bagaimana Irma sekarang. Lelaki itu memang selalu pintar membuatnya tersipu. "Apa sih, Mas!" Dengan senyum malu-malunya, Irma mencubit pinggang lelaki yang baru saja resmi melamarnya.


Sementara itu, Friska dibuat geleng-geleng saat mendengar gombalan sang kakak. "Masak air biar mateng. Eya ... eya ...." ledek Friska. "Gombalan ini disponsori oleh pujangga cinta kelamaan jomblo." Friska tak bisa menahan tawanya.


"Emang pantun, masak air? Dasar perusak momen saja!" Andre menyentil kening Friska yang masih menertawakan ucapan dirinya. "Udah sana, gabung sama Kak Anisa saja!" Andre mengusir gadis yang sedang mengusap-usap kening yang kena sentilannya itu.

__ADS_1


"Hati-hati, lho, Kak. Biasanya tukang gombal itu, semua cewek digombalin." Friska membalas sentilan Andre dengan mengompori calon kakak iparnya.


"Kalau bicara jangan ngasal, mau disentil lagi?" Andre sudah menyatukan ibu jari dan telunjuknya, bersiap mendaratkan sebuah sentilan di kening Friska. Namun, dengan segera Friska menjauh sambil memeletkan lidahnya, mengejek Andre. "Aku tak seperti itu," ujar Andre kepada Irma, takut momen bahagianya ternoda oleh ulah sang adik.


Irma tak menjawab, wajah yang tadi merah merona karena tersipu, kini berubah masam. Senyumnya pun menghilang. Mata elang Irma menatap tajam ke arah Andre seolah-olah mencari jawaban.


'Ya, Tuhan. Apa yang kau lakukan Fris? Awas saja kalau sampai berkepanjangan, kau duluan yang jadi tumbal,' rutuk Andre dalam hati, melihat Irma tiba-tiba saja bersahabat.


"Aku tahu, kok," jawab Irma kemudian, dengan senyum lebar yang tertampil di wajahnya.


Melihat senyum itu lagi, seketika Andre bernapas lega. "Kau ngerjain aku?" Andre menyipitkan sebelah matanya. Ia benar-benar sudah ketakutan, gombalannya berujung kerusuhan akibat ulah Friska.


"Sekali-sekali." Senyum Irma semakin lebar saja.


"Mentang-mentang udah resmi lamaran, pengennya berdua mulu. Ingat, masih otw belum sah!" Naura menggoda Irma dan Andre yang baru bergabung.


"Hooh, maunya berdua mulu, terasa dunia milik berdua yang lain mah ngontrak. Dengan sadisnya, aku yang siap sedia jadi obat nyamuk pun malah diusir." Friska juga ikut menimpali.


"Kalian kalau ngeledek orang klop banget, ya!" imbuh Andre kepada adik dan calon adik iparnya.

__ADS_1


"Sudah-sudah. Duduklah! Ada yang mau ayah bicarakan!" Ahmad menengahi mereka yang tengah membully calon penganten.


Ahmad pun berbicara panjang lebar, ia dan orang tua Irma membahas tanggal baik untuk menggelar pernikahan Andre dan Irma. Hingga disepakati tanggal pernikahan akan digelar tiga minggu lagi, tepatnya setelah sidang BP4R digelar.


"Jangankan tiga minggu lagi, mau sekarang panggilin penghulu pun aku siap lahir batin," ujar Andre saat Ahmad menanyakan persetujuan mempelai.


"Itu, sih, maunya kamu!" Ahmad menimpali.


"Gimana gak mau buru-buru, kalau tiap hari diracunin mulu sama dia!" Andre menunjuk seseorang yang berseberangan dengannya, sehingga seluruh keluarga tertuju pada orang itu. Kecuali Naura, yang malah menatap Andre, penuh tanda tanya.


"Kenapa jadi saya?" tanya Dimas dengan wajah tak berdosa.


"Semenjak kamu hamil, otak suamimu jadi sedikit sableng," ujar Andre, seolah-olah tahu arti sorot mata ibu hamil di samping Dimas.


"Bukannya aku juga berguru dari dirimu, ya! Bedanya muridnya langsung praktek, gurunya cuma tahu teori saja," jawab Dimas.


Dua keluarga itu pun dibuat geleng-geleng oleh tingkah Dimas dan Andre yang saling lempar kata-kata yang mungkin tidak semua orang mengerti.


"Keputusan final, berarti kita akan mengadak pernikahan tiga minggu lagi. Untuk Nak Andre bersabarlah tiga minggu lagi, tak perlu gusar cuma 21 hari, enggak bakal kerasa." Budi menyepakati keputusan yang diambil secara musyawarah itu.

__ADS_1


Setelah semua urusan dicukup selesai, keluarga Andre pun pamit untuk pulang. Pihak keluarga Irma juga tak lupa memberikan bingkisan sebagai balasan seserahan yang telah diberikan keluarga Andre.


Cuma mo bilang kalau tiba-tiba Bang Andre di rak Kakak readers berubah, jangan kaget, ya! 🤭🤭


__ADS_2